Mimpi yang diilustrasikan oleh Antonio de Pereda (1611-1678) dalam karya lukisnya “The Knight’s Dream” (1655). (GRAPHIC NETWORK)

Pada abad ke 18, ia dianggap sebagai ilmuwan jenius multi talenta yang setara dengan Newton, sangat mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, matematika, penemuan baru, ilmu falak, ilmu filsafat, seni sastra dan lebih dari 20 bidang lainnya yang berbeda. Sebagai seorang yang luar biasa ia telah mencapai sukses dan tersohor di seantero Eropa, pengalaman uniknya bermondar mandir di Surga dan Neraka, malah memperindah hidupnya yang sudah cemerlang, ia adalah Emanuel Swedenborg (1688 – 1772) yang dilahirkan dalam keluarga bangsawan Swedia.

Di dalam “Jurnal Mimpi (Journal of Dreams)” yang ditulis oleh Swedenborg, ia mengatakan, di antara tahun 1743 -1744 ia sering mengalami mimpi yang tidak bisa dimengerti. Di dalam sebuah mimpi ia bahkan melihat Yesus sedang bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah siap melakukan misimu?” Ia tidak memahami apa maksud kata-kata itu. Swedenborg kemudian tercerahkan tentang kata-kata dalam mimpi itu yang tidak dapat dimengerti itu pada suatu hari di tahun 1745.

Pada bulan April 1745, Swedenborg berwisata ke London, Inggris. Pada suatu hari ketika sedang bersantap di restoran, tiba-tiba ia melihat pemandangan sinar yang sangat terang benderang di depan matanya, ketika sedang tertegun, ia melihat seorang berpakaian putih berjalan keluar dari sinar itu, dan berkata kepadanya:”Anda tidak seharusnya makan sebanyak ini.” Setelah berkata lantas menghilang begitu saja.

Sekembalinya Swedenborg ke tempat tinggalnya, ia terus merenungkan fenomena aneh di resto tadi dan terasa telah tertidur. Lagi-lagi di dalam mimpinya, ia berjumpa lagi dengan orang misterius berjubah putih yang berjalan keluar dari cahaya, mengatakan kepadanya bahwa ia adalah utusan dari Tuhan, datang kemari untuk memberikan sebuah misi yang suci kepada Swedenborg, agar ia mencatat semua hal yang dilihat dan dialami serta menyampaikannya kepada masyarakat.

Maka sejak hari itu, Swedenborg mampu menguasai “rohnya” sendiri untuk meninggalkan tubuhnya, dengan bebas memasuki dunia/dimensi lain. Setelah meninggalkan tubuh, ia merasakan bahwa pancaindranya lebih peka dan tajam dibandingkan ketika berada dalam tubuh. Ia juga menemukan bahwa kematian itu tidaklah menakutkan, kematian adalah seperti orang yang menanggalkan sebuah pakaian.

Tubuh manusia bagaikan seperangkat pakaian, Anggapan semacam ini di dalam riset mendekati kematian oleh dunia kedokteran, juga banyak dibahas. Belum lama ini, di Hotel Marriott, San Antonio, Texas, Amerika Serikat, diadakan konferensi tahunan “Asosiasi Riset Internasional Pembelajaran Melalui Pengalaman Tentang Mendekati Kematian”, terdapat peserta konferensi yang menyatakan ketika dia dari kondisi mati kembali ke kehidupan riel, lalu melihat lagi tubuh ini sepertinya melihat seperangkat pakaian yang sangat berharga, “terkandung perasaan bersyukur ketika pada musim semi harus menyimpan pakaian hangat musim dingin”.

Ketika Ratu Swedia mendengar bahwa Swedenborg memiliki kemampuan misterius, untuk membuktikan kebenarannya, Sang Ratu mengundangnya untuk menanyakan kepada jenderalnya yang telah meninggal, tentang apa isi surat wasiat yang pernah dituliskan untuk Sang Ratu? Karena Sang Ratu belum pernah mengumumkan surat wasiat tersebut, juga belum pernah memberitahukannya kepada orang lain. Ketika Swedenborg masuk ke dunia roh, dan menemukan sang jendral yang sudah meninggal, menanyakan dengan jelas isi surat wasiat itu, lalu di depan umum mengulangnya di hadapan Sang Ratu, yang hasilnya sangat mencengangkan Ratu.

Swedenborg pernah mengatakan bahwa mati hidup seseorang (takdir) sudah ditentukan dengan baik, ia berulang kali menegaskan bahwa seseorang tidak boleh bunuh diri. Menurut pandangannya, seorang yang bunuh diri akan membuatnya selamanya tidak dapat meninggalkan dunia manusia, keadaannya akan lebih sengsara daripada sebelum bunuh diri. Di dalam Divine Commedy yang digubah oleh Dante Alighieri, diungkapkan, orang yang bunuh diri akan jatuh ke dalam tingkat paling bawah di Neraka dan akan mengalami penderitaan yang tiada habisnya.

Di dalam ajaran Buddha Tantrayana Tibet, Jetsun Milarepa (1052 – 1135) mengatakan, dosa dari bunuh diri sangatlah besar. Ketika Milarepa merasa tidak mampu menahan penderitaan yang diatur oleh Sang Guru untuk dijalaninya, pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri, namun dicegah mati-matian oleh seseorang yang memberitahunya bahwa tubuh ini dapat dikultivasikan menjadi Dewa atau Buddha, itu sebabnya bunuh diri dosa besarnya setara dengan membunuh seorang Buddha. Dipandang dari sudut ini, ajaran lurus dan jalan benar yang ada di dunia Timur maupun Barat semuanya melarang manusia melakukan bunuh diri.

Swedenborg sebagai salah seorang ilmuwan yang berwawasan paling luas dan tersohor di seluruh Eropa, menurut pernyataannya, ketika ia terpanggil oleh Tuhan dan memiliki kemampuan untuk pergi ke Surga dan Neraka, tujuannya adalah agar ia mencatat apa yang dilihat dan didengarnya, sehingga ketika moral dunia merosot anjlok, maka karyanya dapat dipakai sebagai pegangan untuk menyadarkan dan mengingatkan umat manusia di dunia.

Oleh sebab itu mulai tahun 1749 – 1756, Swedenborg menulis 8 jilid besar “Catatan Penglihatan dan Pendengaran di Dunia Rohani / Arcana coelestia”, karyanya yang lain “Surga dan Neraka / De Coelo et eius mirabilibus, et de inferno”, “Makhluk Hidup Alam Semesta”, “Menyambung Pengadilan Terakhir”, “Catatan Tentang Kitab Wahyu”, “Iman Kristiani Sejati / Vera christiana religio “. Di antara karyanya, “Surga dan Neraga” mendapatkan perhatian yang paling besar, buku itu terbagi ke dalam tiga bagian, masing-masing mengulas tentang Surga, Neraka, dan keadaan manusia setelah mati. Dengan karya Dante Alighieri pujangga Italia yang menguraikan mengenai Surga, Neraka dan Tempat Penyucian Arwah, ketiga bagian ini menunjukkan hasil yang sama dengan cara yang berbeda. Sedangkan “Iman Kristiani Sejati” dipandang sebagai karya puncak Swedenborg, orang yang dalam imannya mengalami banyak keraguan, dapat memperoleh peneguhan dari buku tersebut.

Ketika riset ilmiah Newton dan Einstein dalam ilmu pengetahuan mencapai puncaknya, mereka menemukan bahwa agama dan teologia menguraikan kebenaran yang lebih tinggi, itu sebabnya mereka beralih menekuni teologia di akhir hayatnya. Kehidupan Swedenborg yang legendaris, bukan saja pada waktu itu telah menimbulkan kegemparan dengan pengaruh yang mendalam; sampai hari ini pun masih tetap memberikan inspirasi dan bimbingan kepada masyarakat zaman sekarang dalam eksplorasi; apabila terdapat penguasa yang lebih tinggi, maka tuntutan manusia barulah tepat kalau sesuai dengan keinginan-Nya; juga hanya permohonan yang sesuai dengan-Nya baru benarbenar mendapatkan perlindungan dan ridho.(Pur/Yant)

Share

Video Popular