Kemarahan dan agresi adalah bagian “melawan” dari “respon lawan atau lari”. (iSTOCK)

Oleh: James Kirby & Stan Steindl

Ketika Anda sedang berada di taman bersama anak-anak, semua orang bersantai, ke¬mudian datang seekor anjing. Pemiliknya tidak berada di situ. Anjing itu menatap tajam pada anak-anak. Seketika itu juga kewaspadaan Anda menjadi aktif.

Anda waspada dan fokus sepenuhnya pada anjing tersebut; jantung berdegup kencang, tinju terkepal. Anjing itu lari mendekat, sambil menyeringai menunjukkan giginya, dan Anda menyambarnya. Anda berada dalam mode untuk mempertahankan diri, penuh kemarahan dan kekerasan. Anda berteriak dengan keras, Anda menendang dan memukul, atau memegang leher anjing itu, tidak peduli jika digigitnya.

Anjing tersebut meraung menyerah dan kemudian pergi, sementa¬ra Anda tetap berjaga-jaga di depan anak-anak.

Jenis kemarahan dan agresi semacam ini adalah bagian “melawan” dari “respon lawan atau lari”. Respon psikologis ini, menurut teori psikologi revolusioner, adalah mempersiapkan tubuh kita untuk melawan ancaman ataupun melarikan diri.

Kemarahan adalah bagian yang penting dalam pertahanan hidup manusia, namun hal itu dapat membawa dampak dalam kehidupan manusia modern. Kemarahan, dan agresi khususnya, bisa menyebabkan konsekuensi yang serius jika terwujud dalam bentuk kekerasan yang terjadi di jalan, di rumah atau dimana pun di dalam masyarakat.

Kita semua bisa marah

Kemarahan adalah salah satu dari tujuh emosi universal yang umum di semua gender, usia dan budaya, menurut peneliti emosi terkemuka, Paul Ekman. Kemarahan bisa jadi adalah hasil dari sesuatu yang mengganggu kita dalam usaha mencapai suatu tujuan yang dianggap cukup penting, atau ketika kita mengalami ataupun merasa ada sesuatu yang mengancam kita, baik secara fisik maupun psikis. Kemarahan itu cepat (pikirkan tentang istilah “mudah meledak”), membuat perhatian kita fokus pada ancaman tersebut, dan hal itu akan terwujud di tubuh kita, biasanya dimulai dari perut, naik ke wajah dan kemudian menyebabkan kita meringis dan mengepalkan tinju. Ketika kemarahan terbentuk, hal itu akan terekspresi secara fisik dengan makian, pukulan ataupun tendangan.

Dalam waktu singkat, kemarahan bisa menjadi sangat kuat dan juga bermanfaat; orang yang marah biasanya mendapat apa yang mereka inginkan.

Tapi apakah Anda suka berdekatan dengan orang yang sedang marah? Kebanyakan orang akan berkata tidak, dan itu adalah salah satu konsekuensi terbesar dari kemarahan: kemarahan seringkali merusak hubungan dan membuat orang yang sedang marah tersebut terisolasi.

Jadi kemarahan itu sendiri bukanlah inti masalahnya, namun bagaimana kita menangani serta mengekspresikannya.

Gangguan amarah

Tidak ada diagnosis yang jelas dari gangguan amarah, namun buku petunjuk diagnosis psikiatri memuat “gangguan ledakan sejenak”, yang mana ditandai dengan perilaku ledakan berulang yang menunjukkan kegagalan dalam mengendalikan rangsangan agresi. Hal ini memengaruhi 7,3 persen populasi di suatu titik dalam hidupnya dan 3,9 persen dalam 12 bulan terakhir.

Kemarahan, bagaimanapun juga, adalah presentasi klinis umum yang muncul dalam jajaran berbagai macam masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma, gangguan penggunaan napza dan banyak lagi.

Jika Anda mulai menyadari bahwa Anda sering berada dalam keadaan tersudut, sering melakukan hal-hal yang Anda sesali dikemudian hari, cepat bereaksi daripada hanya merespon, dan ada orang-orang di dalam hidup Anda yang mengatakan Anda mudah marah, mungkin akan membantu jika kita melakukan sesuatu terhadap hal tersebut.

Anda bisa mulai berkonsultasi ke dokter, jika diperlukan mintalah referensi untuk bertemu dengan psikolog. Atau Anda bisa langsung bertemu dengan seorang psikolog jika Anda tidak mempunyai masalah dengan biaya pengobatan.

Manajemen kemarahan

Dalam terapi kemarahan, para klien akan ditanya:

Apa yang menjadi ketakutan terbesar Anda dalam melepas atau mengurangi secara signifikan kemarahan Anda?

Banyak yang akan merespon dengan ketakutan akan terluka, takut tidak bisa berdiri sendiri, atau takut akan hal yang tidak pantas maupun tidak adil menimpanya. Semua ini adalah alasan yang masuk akal.

Namun kemarahan bukanlah agresivitas. Kemarahan bisa mengarah pada agresivitas, namun ketika merasa marah, kita bisa mencoba untuk menghubungkannya dengan rasa kebijakan, kekuatan, keberanian dan ketegasan.

Program manajemen kemarahan kelompok maupun individu, yang dijalankan oleh psikolog, mempunyai rata-rata tingkat kesuksesan yang bagus. Sebuah meta-analisis yang memeriksa program-program manajemen kemarahan pada 92 studi menemukan bahwa strategi terapi perilaku kognitif (CBT) telah membantu secara signifikan mengurangi kemarahan dan agresi, dan juga meningkatkan perilaku positif.

Beberapa ahli klinis juga menggunakan teknik terbaru yang disebut terapi berfokus pada belas kasih (CFT). CFT berbeda dengan terapi-terapi sebelumnya, karena terapi ini berfokus pada pemahaman tentang betapa otak kita adalah sebuah “benda rumit” yang bisa membuat kita terjebak dalam segala macam pola dan putaran yang aneh. Jadi, dari perspektif CFT, pertama-tama kita harus memahami dan bagaimana otak kita berfungsi sehingga bisa mengatasi dengan lebih baik lagi ketika kemarahan muncul.
Ahli manajemen amarah, Russell Kolts, telah mengembangkan program manajemen amarah berbasis CFT baru yang disebut Kekuatan Sejati, yang ia evaluasi dengan para tahanan. Tujuannya adalah untuk mulai mengarahkan belas kasih pada diri sendiri agar merasa tenang, lebih nyaman dan mengatasi kesusahan dan perasaan negatif yang menyulut kemarahan.

Tips manajemen amarah

Masyarakat psikologi Australia mempunyai beberapa tips untuk membantu memanajemeni kemarahan ketika muncul dalam kehidupan kita sehari-hari:

Mengidentifikasi pemicu kemarahan Anda, seperti lingkungan dan orang-orang.

Perhatikan tanda-tanda peringatan tubuh akan kemarahan: bahu mengeras, peningkatan denyut jantung, wajah panas.

Ambil strategi yang manjur bagi Anda. Hal ini dapat mencakup memperlambat napas, citra, mengevaluasi pikiran, beristirahat dan mengubah lingkungan, atau menggunakan keterampilan relaksasi.

Latih strategi kemarahan Anda. Bayangkan berada di situasi yang membuat marah dan manfaatkan salah satu keterampilan Anda.

Ingat, kemarahan itu sendiri bukanlah inti masalahnya. Masalahnya terletak pada bagaimana kita mengelola dan mengekspresikannya. Kata-kata terbaik tentang hal ini mungkin telah diucapkan oleh Dalai Lama: “Pahlawan sejati adalah orang yang menaklukkan kemarahannya sendiri.” (Jls)

James Kirby adalah seorang peneliti di bidang psikologi klinis di University of Queensland di Australia. Stan Steindl adalah seorang asisten profesor psikologi di University of Queensland. Artikel ini awalnya diterbitkan pada The Conversation.

Share

Video Popular