Keterangan gambar: Para ilmuwan memperkirakan volume energi gelap menduduki 73% di alam semesta. (Screenshot Video)

Oleh: Su Yang

Banyak bintang yang tak terhitung jumlahnya di alam semesta, namun menurut para ilmuwan bahwa hanya sebagian kecil dari bintang-bintang ini yang membentuk alam semesta. Sementara sebagian besar materi dan energi di alam semesta tidak dapat diamati, misalnya energi gelap. Menurut Adam Riess, fisikawan yang meraih hadiah Nobel fisika pada 2011, bahwa meskipun para ilmuwan tidak tahu sumber energi gelap, namun, energinya yang besar untuk mendorong dan menggerakkan segenap alam semesta.

Melansir laman “Daily Galaxy,” Sabtu (30/01/2016), salah satu peraih hadiah Nobel Fisika 2011, professor Adam Riess mengatakan, “Energi gelap itu sangat aneh, dan saya pikir wajar saja kalau kita tidak bisa melihatnya.  Dan saya sama sekali tidak tahu apa itu energi gelap.”

Energi gelap yang misterius itu memicu beragam spekulasi dari komunitas ilmiah terhadapnya.

“Besarnya kekuatan dari energi gelap itu cukup untuk menggerakkan segenap alam semesta. Namun asal-usulnya belum diketahui, dan bagian yang eksis juga tidak diketahui, akan tetapi fisikawan tetap sangat tertarik terhadap energi gelap ini,” kata Adam Riess menambahkan.

Komunitas ilmiah punya beberapa pandangan terhadap karakteristik energi gelap. Energi gelap bisa muncul dan berwujud dari ketiadaan partikel subatomik (suatu fenemona konversi partikel), atau mungkin juga berhubungan dengan medan Higgs yang dikonfirmasikan dalam beberapa tahun terakhir ini, atau dapat dijelaskan dengan teori string, yang menurutnya bahwa dimensi ekstra yang tak terlihat dapat dikompres menjadi ruang dengan ukuran yang lebih kecil dari atom.

Keterangan foto: Sekarang terbukti bahwa alam semesta mengembang dengan cepat. (Screenshot Video)

Selain itu, hampir semua ahli fisika berpendapat bahwa kandungan energi gelap alam semesta ini sangat cocok, sedikit saja berbeda, mustahil alam semesta akan membentuk kehidupan. Namun, dibandingkan dengan ruang dalam skala luas secara teoritis, kecilnya kandungan energi gelap itu sangat mengejutkan, tapi nilai energi gelap seperti itu justru sangat cocok, sehingga alam semesta akan mengembang dan tidak akan menyusut, serta dapat menghasilkan kehidupan.

Profesor Riess menjelaskan bahwa galaksi ibarat kismis di atas sepotong roti besar, roti itu mengembang, sehingga jarak antar kismis juga bertambah lebar.

“Tidak peduli dilihat dari posisi manapun, semuanya terlihat seperti dipisahkan satu sama lain,” katanya.

Keterangan foto: Profesor peraih Nobel fisika, Adam Riess. (Screenshot Video)

Pada 1929 silam, untuk kali pertamanya astronom Hubble (Edwin Powell Hubble) mengatakan, bahwa galaksi di luar Bima Sakti saling bergerak menjauh satu sama lain, artinya alam semesta sedang mengembang. Setelah itu, komunitas ilmiah menemukan bahwa tingkat ekspansi alam semesta sekarang jauh lebih cepat 20% dari lima miliar tahun silam. Lalu komunitas ilmiah berspekulasi bahwa hanya ada satu kemungkinan, Galaxy didorong/digerakkan oleh suatu faktor. Dan faktor ini adalah “energi gelap”, meskipun tidak dapat dideteksi, namun itu adalah suatu kekuatan yang nyata.

Sekarang para ilmuwan telah menegaskan bahwa hanya planet, bintang dan struktur gas di alam semesta menyumbang 5 persen dari total materi dan energi, sementara 95 persen sisanya adalah materi gelap dan energi gelap. (epochtimes/joni/rmat)

 

Share

Video Popular