Keterangan foto: Paul Ehrlich. (internet)

Oleh: Tian Yuan

Pada 1968, entomolog (ahli serangga, Red.) bernama Paul Ehrlich menulis buku berjudul “The Population Bomb”. Kalimat pertama pada prolog edisi pertama buku tersebut adalah sebuah ramalan mengejutkan: “Perang yang menghidupi seluruh umat manusia telah berakhir. Walaupun segera diambil tindakan sekarang, di era tahun 1970-an ratusan juta orang akan mati kelaparan. Saat ini sudah tak ada lagi cara untuk menghentikan lonjakan angka kematian di seluruh dunia.”

Dalam bukunya Ehrlich mengatakan, seiring dengan bertambahnya populasi, pasokan bahan pangan tidak akan mencukupi, sehingga akan mengakibatkan bencana kelaparan, perang, dan wabah penyakit. Sumber daya alam akan mengering, harga produk massal akan melonjak, sampai tidak mampu diterima masyarakat. Intinya, berlebihnya jumlah penduduk dunia adalah penyebab bencana.

Salah satu pembuktian teori Ehrlich ini bersumber dari pengamatannya terhadap periode eksistensi kupu-kupu jenis tertentu disaat makmur dan merosot. Pada masa dimana bahan pangan melimpah, kupu-kupu berkembang biak dalam jumlah besar, akhirnya tak mampu bertahan karena kawanan kupu-kupu terlalu besar jumlahnya lalu akhirnya hancur. Menurut Ehrlich, pertumbuhan populasi tidak jauh berbeda dengan serangga. Dalam kondisi sumber daya alam yang terbatas, pasti akan terjadi kemerosotan populasi manusia yang bersifat bencana.

Kedengarannya memang cukup masuk akal. Dalam bukunya Ehrlich mengatakan, karena akibatnya sangat serius, maka pemerintah harus turun tangan membatasi kelahiran untuk mengendalikan jumlah penduduk. Pemerintah bisa memungut pajak terhadap keluarga yang beranak banyak, melegalkan aborsi, serta mengambil “tindakan tegas” jika kebijakan tersebut tidak efektif.

Dalam hal ini perlu dijelaskan, Ehrlich bukan orang pertama yang mengungkap populasi yang berlebihan, juga bukan orang terakhir. Pada akhir abad ke-18, seorang pendeta Inggris bernama Malthus pernah melontarkan teori populasi berlebihan dan pasokan makanan tidak mampu mencukupi kebutuhan. Tapi karena Ehrlich lebih mahir ditambah lagi isi bukunya yang sensasional, begitu diterbitkan bukunya langsung menjadi buku terlaris, dan sejak diterbitkan pertama kali telah dicetak ulang sebanyak 22 kali dalam tempo 3 tahun, kemudian masih saja terus dicetak ulang hingga mencapai jutaan buku. Ehrlich pun menjadi kaya dan ternama karenanya, dia menjadi akademisi di US Academy of Science dan di American Science and Art Academy,juga menjadi intelek publik, dan kesayangan media massa, serta tokoh sayap kiri terkenal.

Akan tetapi, hal yang diramalkan oleh Ehrlich satu pun tidak ada yang terjadi. Teori “bom populasi”-nya seolah telah matang sepenuhnya, namun karena tidak ada pemicu/detonator, maka ledakan pun urung terjadi.

Sejak 1960, meskipun jumlah populasi dunia memperlihatkan tren peningkatan, tapi kecepatannya telah melambat. Hingga 2050, rasio pertumbuhan populasi berfluktuasi di kisaran ¼ dari 1960. Pada saat itu justru banyak negara maju dan Tiongkok akan mengalami penuaan usia penduduk dan krisis kekurangan tenaga kerja muda, dan bukan kelebihan penduduk. Sejak 1960, berkat Revolusi Hijau, produksi pangan dunia bertumbuh stabil, Ehrlich juga sempat menjadikan India sebagai contoh negara yang “tidak ada harapan.” Tapi selama tiga dekade terakhir India justru mampu swasembada pangan dan memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sejak 1970, pertumbuhan ekonomi dunia bahkan telah melampaui pertumbuhan populasi.

Banyak komentator mengatakan, masalahnya adalah Ehrlich telah menganggap manusia sebagai serangga dan mengabaikan kemampuan inovatif dan reformasi manusia. Kehancuran spesies kupu-kupu adalah karena spesies ini tidak bisa menggunakan alat dan hanya mengandalkan pasokan alam untuk makan. Ekonom yang bernama Julian Lincoln Simon tadinya juga mengkhawatirkan jumlah penduduk terlalu banyak yang berakibat masyarakat akan tercerai berai. Tapi ia telah meneliti sejarah manusia sepuluh ribu tahun ini, menemukan bahwa pada saat bahan baku tertentu menjadi langka, manusia pun menghadapinya dengan penemuan baru, sekaligus menempuh tindakan penghematan.

Pada saat Yunani beralih dari zaman perunggu ke zaman besi, dikarenakan kekurangan akan timah untuk membuat perunggu, hingga mengakibatkan perkembangan zaman besi. Hal yang sama di abad ke-16, Inggris krisis kayu yang menyebabkan penambangan dan pemanfaatan batu bara. Pada 1850 langkanya minyak ikan paus mendorong dieksploitasinya sumur minyak yang pertama di dunia pada 1859. Meskipun daya inovasi manusia tidak bisa dibesar-besarkan, tapi akan lebih konyol lagi jika kemampuan manusia ini diabaikan sama sekali dan mensejajarkan manusia dengan kupu-kupu.

Menghadapi kegagalan dan kritik, Ehrlich sama sekali tidak merasa menyesal dan masih bersikukuh bahwa dirinya benar. Tak hanya itu, Ehrlich menghujat orang yang berlainan pendapat dengan kata-kata “idiot, bodoh, tolol, badut”, dan lain-lain. Ia terus menerus mengubah waktu ramalannya, tapi tetap tidak terjadi apa-apa.

Setelah menyadari tidak mungkin berdebat secara ilmiah dalam makna sesungguhnya dengan Ehrlich, pada 1980 Simon menantang Ehrlich lewat tabloid “Social Science Quarterly.” Ia berkata, Ehrlich dan dirinya boleh memilih 5 jenis logam yang menurut mereka akan habis dipakai, menghabiskan uang USD 200 untuk membeli setiap jenis logam tersebut, dengan total nilai USD 1000. Jika sampai 1990 ada logam yang melonjak harganya, Simon mengaku kalah maka ia akan membayar selisih harga 5 jenis logam tersebut selama 10 tahun. Sebaliknya, jika Ehrlich kalah, ia juga akan membayar selisih harga 5 jenis logam tersebut selama 10 tahun. Setelah berunding dengan John Holdren, dibelilah kromium, tembaga, nikel, timah, tungsten seharga USD 1000.

Oktober 1990, lagi-lagi Ehrlich kalah, dan harus membayar USD 576.07 kepada Simon. Selama 10 tahun, populasi dunia bertambah 800 juta jiwa, tapi harga 5 jenis logam yang dipilih Ehrlich justru anjlok hingga lebih dari 50%. Ehrlich tetap tidak mau mengaku kalah, sebaliknya justru mengatakan pada surat kabar “Wall Street Journal,” bahwa jika Simon mati maka akan sangat menguntungkan bagi umat manusia. Ibarat bebek dimasak terlalu matang, keras, mungkin seperti itulah tabiat seorang Ehrlich.

Kemenangan Simon bukan faktor keberuntungan, melainkan tren dunia. Sejak 1934 hingga 2013, indeks Dow Jones dan indeks komoditas AIG dari 300 poin lebih terus merosot hingga sekitar 150 poin, sementara populasi dunia melonjak dari 2 milyar menjadi 7 milyar. Di hadapan fakta ini, Ehrlich sudah babak belur.

Melihat teori Ehrlich yang anti-agama, anti-alam semesta, anti-kemanusiaan, dan cenderung totaliterisme, tidak ada satu pun politisi negara demokrasi yang berani mendukung pemikirannya. Politisi sayap kiri tertentu yang berniat, tapi tidak berani. Namun ada satu negara hebat yang bersikukuh mempertahankan pemikiran Ehrlich: RRT!

Puluhan tahun program keluarga berencana yang kejam tak berperikemanusiaan telah menyebabkan tak sedikit tragedi terjadi, juga telah mendatangkan bencana yang tak terelakkan lagi bagi Tiongkok. Menurut data statistik Tiongkok, pada 2012 jumlah penduduk produktif yang berusia antara 15 tahun hingga 60 tahun telah mulai anjlok drastis dan akan terus merosot dengan cepat.

Kalangan luar berpendapat, bom kekurangan akan tenaga kerja di RRT akan meletus sekitar 2020. Efek ringannya akan menyebabkan ekonomi terhenti, efek beratnya akan memicu revolusi. Pada semester kedua 2015, Partai Komunis Tiongkok/ PKT mengumumkan dicabutnya program “1 anak”, tapi pasutri hanya boleh memiliki 2 anak, masih saja dengan cara kekerasan mengendalikan jumlah penduduknya.

Masyarakat kerap mengatakan bahwa waktu adalah cara terbaik untuk membuktikan teori ilmu pengetahuan. Anehnya, meskipun Ehrlich gagal total dalam memainkan peran sebagai “dewa ilmu pengetauan”, tapi nama tenarnya hampir selalu meningkat, pemikirannya tetap diterima oleh sebagian orang. Contohnya ketika Ehrlich kalah taruhan pada 1990, ia bahkan dianugerahkan penghargaan “genius” oleh MacArthur Foundation dan penghargaan Crafoord Price.

Ehrlich masih hidup, dan masih terus mengeluarkan teorinya tentang populasi berlebihan, dan sepertinya tidak pernah lelah membuat “ramalan ilmiah.” Juni 2015 lalu Ehrlich kembali melontarkan “bom” baru, ramalan yang mengatakan “tidak diragukan lagi, bumi sedang mengalami masa pemusnahan spesies massal yang ke-6”, dan manusia adalah “satu-satunya pelaku yang menyebabkan kepunahan ini.” Ia juga mengatakan, dikhawatirkan kali ini manusia pun “tak luput” dari kepunahan ini. Bagi orang yang tidak memahami Ehrlich mungkin akan ketakutan dengan ramalannya, namun orang yang memahaminya tahu bahwa ini hanya tipu muslihat Ehrlich menggunakan cara tipuannya yang telah usang.

Tak terhitung banyaknya omong besar dan omong kosong Ehrlich, kritikan dari kalangan ilmu pengetahuan terhadap teori Ehrlich juga sangat banyak, tidak bisa dijabarkan satu persatu disini. Dalam “Alkitab” ada kata-kata, “Milik Kaisar akan kembali pada Kaisar, milik Tuhan akan kembali pada Tuhan.” Ehrlich menganggap secuil pengetahuannya sebagai prinsip kebenaran dan merupakan kehendak Tuhan, dan telah mengabaikan keterbatasan ilmu pengetahuan. Inilah faktor penyebab kegagalannya. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular