Keterangan gambar: Adakah kehidupan di planet Mars yang misterius?(NASA

Oleh: Huang Xiao Yu

Laporan studi terbaru yang dirilis ilmuwan mengatakan, bahwa jamur antartika dapat bertahan hidup dalam paparan kondisi Mars di Stasiun Luar Angkasa Internasional, sehingga prediksi kemungkinan adanya kehidupan di planet merah Mars itu kini semakin kuat.

Dalam makalah studi terbaru yang dirilis di liebertpub oleh kelompok riset kolaboratif internasional yang dibentuk ilmuwan Italia, Jerman, Amerika Serikat, Spanyol dan ilmuwan lain itu disebutkan, bahwa setelah percobaan yang berlangsung delapan belas bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional, mereka menyatakan jamur yang dikumpulkan dari antartika itu dapat bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem seperti di Mars.

Para ilmuwan telah mempelajari dua spesies jamur mikroskopis, bernama Cryomyces antarcticus dan Cryomyces minteri, yang dikumpulkan dari dalam retakan batuan di McMurdo Dry Valleys di Antartika. Dua jenis jamur ini dapat bertahan hidup di lingkungan yang kering dan ekstrim beku kering.

Melansir laman “Daily Mail,” Kamis (28/1/2016), peneliti menempatkan jamur tersebut dalam sebuah wadah selebar 1.4 cm yang disebut EXPOSE-E di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Dalam penelitian yang dikembangkan oleh European Space Agency (ESA) yang disebut EXPOSE-E. Ini adalah sebuah ruang yang mensimulasikan lingkungan yang ekstrim di Mars.

Secara spesifik, para ilmuwan menempatkan kondisi pertumbuhan jamur dalam lingkungan yang terdiri dari 95% karbon dioksida, 1,6% argon, 0,05% oksigen, 2,7% nitrogen dan 370 per juta bagian molekul air, dengan tekanan 1.000 Pascal, kemudian mengamatinya 18 bulan.

“Hasil dari penelitian ini adalah bahwa lebih dari 60 persen dari sel-sel jamur yang kami pelajari ini tetap utuh setelah terkena paparan Mars, atau lebih tepatnya, stabilitas DNA selular mereka masih tinggi,” kata Rosa de la Torre Noetzel, peneliti dari National Institute of Aerospace Technology, Spanyol.

Lingkungan hidup jamur-jamur ini diatur pada suhu -21.5°C dan +59.6°C, dengan paparan radiasi 190 mega-ray.

“Hasil percobaan juga menemukan, jamur-jamur antartika ini menunjukkan karakteristik penurunan aktivitas fotosintesis di bawah lingkungan ruang yang terkena simulasi kondisi Mars,” ujar peneliti menambahkan.

Hasil penelitian ini akan menjadi dasar informasi yang akan membantu para ilmuwan dalam mencari kehidupan di planet merah Mars, pungkas Rosa de la Torre Noetzel.

Mencari tanda-tanda kehidupan di Mars merupakan prioritas tinggi untuk ESA maupun NASA. Kedua lembaga antariksa ini berencana untuk meluncurkan robot penjelajah ke Planet Merah dalam beberapa tahun mendatang. ESA akan meluncurkan robot penjelajah ExoMars pada 2018, dan NASA akan meluncurkan robot penjelajah Mars2020 pada tahun 2020. (Epochtimes/joni/rmat)

Share
Tag: Kategori: SAINS NEWS

Video Popular