Keterangan foto: Pada 2014 generasi muda Taiwan tidak mau menerima uluran tangan PKT maka terbentuklah Gerakan Bunga Matahari. Lebih celaka lagi, gerakan mereka ini mewakili aspirasi rakyat Taiwan pada umumnya, sehingga mengakibatkan kekalahan besar Kuomintang dalam Pemilihan Lokal Taiwan 2014 dan disusul kekalahan telak pada Pilpres dan Pilleg pada Januari 2016 kali ini, (internet)

Oleh: Ye Guanxing

Kurang percaya diri Partai Komunis Tiongkok/ PKT sampai taraf apakah?

PKT sampai-sampai tidak berani memberitahukan rakyatnya tentang kesepakatan “Konsensus 92, satu Tiongkok dinyatakan masing-masing”. Kepada warga di daratan Tiongkok, PKT mengatakan hanya mengakui “satu Tiongkok” dan menolak “pernyataan masing-masing”. Karena jika diijinkan “menyatakan masing-masing” yakni PKT mengatakan RRT (Republik Rakyat Tiongkok, bentukan PKT pada 1949) dan pihak lain mengatakan ROC (Republic of China, bentukan Sun Yat Sen partai Kuomintang pada 1911) maka berarti ada “dua Tiongkok.”

Oleh sebab itu corong PKT dan para ekstrim kiri baru bisa bertindak bodoh. Begitu melihat orang Taiwan mengusung bendera ROC, yang sebenarnya mereka hanya mempertahankan “Konsensus 92, satu Tiongkok dinyatakan masing-masing,” langsung saja divonis sebagai kelompok ‘Separatis (Tai Du /臺獨)’. PKT tidak tahu bahwa orang yang ‘separatis’ tulen, tidak akan mengusung bendera ROC karena sebagai kaum separatis mereka memiliki benderanya sendiri.

Kurang percaya diri PKT sampai taraf apakah?

Sampai ke taraf selalu ingin memberikan keuntungan bagi Kuomintang (KMT, partai nasionalis) dan selalu ingin memberikan sedikit kebaikan bagi Taiwan, namun gayung tidak bersambut. Seseorang mengucapkan kata-kata salah, akan dimaklumi oleh orang lain karena dianggap masih dalam batas kewajaran. Tapi jika seseorang telah mengucapkan kata-kata yang benar dan ternyata tidak ada yang peduli, maka ini adalah masalah besar. Karena orang lain sudah tahu bahwa PKT adalah penipu, semakin yang mereka katakan itu benar dan bagus, maka semakin tidak ada orang yang memercayainya. Mungkin Xi Jinping berpikir dalam perjanjian perdagangan lintas-selat ia sebenarnya hanya ingin memberikan keuntungan bagi Taiwan.

Namun pihak Taiwan tidak mau menerima kebaikan ini. Generasi muda Taiwan tidak mau menerima maka terbentuklah Gerakan Bunga Matahari. Lebih celaka lagi, gerakan generasi muda ini mewakili aspirasi rakyat Taiwan pada umumnya, sehingga mengakibatkan kekalahan besar Kuomintang dalam Pemilihan Lokal Taiwan 2014, ditambah lagi dengan bencana susulan yakni kekalahan telak pada Pilpres dan Pilleg kali ini, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Keinginan rakyat Taiwan dinyatakan dengan sangat jelas: Isi perjanjian tentunya sangat penting namun dengan siapa perjanjian tersebut dibuat, lebih penting.

Jika Xi Jinping tidak menghapus partai komunis dan tidak mau mencampakkan jabatannya sebagai Sekretaris Jendral (pemimpin) PKT, maka ia akan selalu dihadapkan dengan situasi kikuk seperti ini. Xi Jinping boleh saja mengatakan, “Kami tidak melepas keinginan menggunakan kekuatan bersenjata mempersatukan Taiwan, tapi yang kami hadapi bukanlah rakyat Taiwan, melainkan kaum separatis Taiwan.”

Penulis beranggapan perkataan ini cukup tulus, namun pihak Taiwan akan berpikir, siapa yang akan Anda tipu, kaum komunis demi meng-counter “Serangan ganas” dari 96 orang “golongan kanan” telah menghabisi 550.000; 3.170.000; 4.610.000 dan 5.110.000 golongan kanan di seluruh negeri (pada tahun 1955-an). Jika PKT menganggap di Taiwan terdapat 400 hingga 500 orang kaum separatis Taiwan, bukankah Anda akan sekaligus menghabisi warga Taiwan yang berjumlah 23 juta?

Hambatan persatuan lintas-selat bukan karena anasir separatis Taiwan, adalah karena sistem politik lintas-selat yang berlawanan, yang bertentangan adalah system Otokrasi melawan Demokrasi, adalah pertentangan antara para pejabat tinggi PKT dan Hak Asasi Manusia, adalah pertentangan antara roh jahat dari Barat (dibaca: PKT) melawan kebudayaan Tiongkok.

Demokrasi adalah tren dunia. Arus besar tren dunia yang menggelora, yang searah akan makmur, yang menentang arus akan hancur, Xi Jinping bersama para anggota Politbironya tidak mungkin tidak tahu akan hal itu. Media mengatakan, Xi Jinping mengumpulkan para anggota Komite Tetap Politbiro Pusat dan anggota Politbiro yang sedang berada di Beijing untuk menonton bareng siaran langsung Pemilu Taiwan, seusai menonton, ia meninggalkan tempat dengan membisu. Bermakna apakah?

Xi Jinping tahu dengan jelas bahwa Partai Kemajuan Bangsa (DPP / Min Cin Tang) akan terpilih, mengapa ia masih mengajak mereka untuk menonton, bukankah maknanya sudah sangat jelas?

Bagi orang yang berjalan searah dengan Xi Jinping tentunya sudah tahu maksud Xi Jinping maka untuk apa angkat bicara lagi?

Para pendukung faksi Jiang Zemin, barangkali malah lebih jelas lagi akan maksud Xi Jinping, beranikah mereka angkat bicara?

Sedemikian banyak yang hendak dikatakan, tapi hanya dengan membisu baru bisa dinyatakan secara keseluruhan. Ketika pertemuan Xi dan Ma pada akhir tahun lalu, Microblogging ‘weibo’ milik corong PKT “Harian Rakyat” memberitakan pertemuan bersejarah antara Xi Jinping dan Ma Ying-jeou dengan istilah yang sangat jarang dipakai yakni “Shuang Yu Si Zu”(sepasang bulu empat kaki / 雙羽四足). Istilah ini berasal dari ramalan “Tui Bei Tu (Ilustrasi Mendorong Punggung / 推背圖)” yang terkenal sejak 1300 tahun lalu, ‘weibo’ menggunakan ‘Shuang Yu (sepasang bulu / 雙羽)’ untuk mewakili Xi Jinping (習近平, aksara Xi/ 習 terdiri dari paruh atas ‘Bulu / 羽 ’ dan paruh bawah ‘Putih’) dan ‘Si Zu (kaki empat / 四足)’ untuk mewakili Ma Ying-jeou (馬英九 / aksara Ma /馬 harfiah berarti KUDA, empat titik di bagian bawah melambangkan ‘empat kaki’), tersebar luas di ‘weixin (micro-letter)’ dan ‘weibo’ di daratan Tiongkok.

Hanya saja, corong PKT adalah penganut atheisme, bagaimana mereka bisa memahami ramalan Dewata?

Kesalahan yang paling jelas adalah aksara ‘bulu / 羽’ hanyalah  tunggal (bukan sepasang).

Tentu, penulis sendiri juga lama hidup dalam lingkungan atheisme, tidak terlalu memahami makna sesungguhnya dari ramalan fenomenal itu. Namun jika harus menggunakan pertemuan Xi dan Ma untuk menjelaskan fenomena ke 44 dari ramalan “Tui Bei Tu” itu, maka penulis lebih suka meyakini bahwa yang dimaksud dengan “Shuang Yu (sepasang sayap)” adalah hendak mengingatkan pada mantan presiden Taiwan Ma Ying-jeou bahwa hanya dengan tumbuh SEPASANG SAYAP baru bisa menjadi Kuda Surgawi.

Sedangkan “Si Zu / empat kaki” adalah mengingatkan kepada Xi Jinping yang ber-shio ular bahwa hanya dengan tumbuh empat kaki baru bisa menjadi Naga Sejati — itu sebabnya harus mencampakkan komunisme, roh jahat yang datang dari (Eropa) Barat ini, yang sebenarnya dialah sang Satan, dialah ular purba dan dialah Naga dari Barat (yang berkharakter jahat). Apabila Xi Jinping betul-betul mencampakkan komunisme, barulah bisa menjadi Naga Tiongkok dan berhasil menapaki suatu Jalan Baru. (lin/whs/rmat) 

TAMAT

Share

Video Popular