Keterangan foto: Menurut perkiraan Asosiasi Keuangan Internasional baru-baru ini, pelarian modal dari Tiongkok bulan Januari 2016 mencapai nilai USD 113 miliar.(STR/AFP/Getty Images)

Oleh Qin Yufei

Menurut perkiraan terbaru dari Asosiasi Keuangan Internasional bahwa untuk menghindari pengetatan kontrol modal dari pemerintah Tiongkok, masyarakat dan perusahaan dalam negeri Tiongkok selama Januari 2016 telah mengirim dana mereka ke luar negeri hingga nilai yang mencapai USD 113 miliar. Asosiasi juga mengatakan, pemerintah Tiongkok untuk melakukan intervensi terhadap nilai tukar mata uang mereka yang terus melorot telah menghabiskan cadang devisa negara yang jumlahnya mencapai USD 90 miliar.

Financial Times dalam laporannya menyebutkan bahwa pelarian modal dari Tiongkok telah menjadi fokus perhatian dunia, tetapi juga membuat otoritas Beijing berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nilai agar Renminbi tidak jatuh lebih parah. Dari data keuangan terakhir yang dikeluarkan mereka diketahui, cadangan devisa Tiongkok pada Januari 2016 berada pada level terendah selama 4 tahun terakhir.

Asosiasi Keuangan Internasional memperkirakan, arus modal keluar Tiongkok Januari 2016 yang mencapai USD 113 miliar dan yang terjadi selama 22 bulan berturut-turut itu melebihi angka total pelarian modal dari 2 bulan apapun yang terjadi pada 2015. Selain itu, asosiasi juga memperkirakan bahwa jumlah modal yang dilarikan dari Tiongkok pada 2015 mencapai USD 637 miliar.

Asosiasi Keuangan Internasional yang berada di Washington adalah perwakilan dari Bank dan perusahaan asuransi di seluruh dunia. Proyeksi keuangan Tiongkok mereka keluarkan berdasarkan analisis dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh pemerintah Tiongkok.

Ahli strategi keuangan dari Royal Bank of Scotland Mansoor Mohi-uddin mengatakan bahwa dengan terjadinya cadangan devisa Tiongkok berkurang sebanyak USD 100 milian dalam sebulan, besar kemungkinan Bank Sentral Tiongkok akan mengijinkan nilai tukar Renminbi terhadap Dollar AS ‘bermain’ di angka 7.00.

Ekonom Asosiasi keuangan Internasional mengatakan, berdasarkan data resmi yang dirilis pemerintah Tiongkok baru-baru ini, mereka memperkirakan bahwa otoritas Beijing pada Januari telah menghabiskan USD 90 miliar dana cadangan devisa negara untuk mempertahankan agar nilai tukar RMB tidak jatuh lebih dalam. Angka ini melebihi seperempat dari USD 342 miliar, dana cadangan devisa yang habis digunakan untuk menopang jatuhnya nilai tukar RMB ketika terjadi arus modal keluar dengan deras tahun lalu.

Reuters melaporkan bahwa selama setahun lalu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah melamban telah memberikan pukulan berat bagi investor di industri manufaktur. Ini mengakibatkan pelarian modal, devaluasi dan memaksa Bank Sentral untuk melakukan intervensi pasar mata uang.

Financial Times memberitakan bahwa otoritas Beijing dalam upayanya untuk menghalangi adanya pelarian modal, melalui saluran tak resmi mengeluarkan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti memalsukan faktur ekspor dan sebagainya. Namun, otoritas Beijing tampaknya tidak terlalu serius dalam usaha menghalangi pelarian modal. Ekonom dari Commerzbank Jerman, Zhou Hao mengatakan, langkah-langkah pengetatan bisa memiliki dampak negatif terhadap mentalitas masyarakat. Gara-gara itu mungkin mendorong masyarakat Tiongkok berpikir untuk menyelamatkan dana mereka sebelum ‘sesuatu’ terjadi. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular