- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Pesawat Super Tucano Jatuh di Pemukiman Penduduk Kota Malang

Pesawat Super Tucano buatan Brazil (Istimewa)

JAKARTA – Pesawat tempur ringan buatan Brazil Super Tucano TT3108 milik TNI AU jatuh di pemukiman warga Jalan Laksda Adi Sucipto, Kecamatan Blimbing Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (11/2/2016). Uji coba terbang berakhir kecelakaan udara ini menyebabkan 4 orang meninggal dunia yakni seorang pilot, satu teknisi dan dua orang penduduk.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna dikutip dari Surya Malang mengatakan pesawat tempur itu jatuh saat melaksanakan uji coba terbang setelah pemeliharaan 300 jam terbang berdasarkan sesuai  prosedur.

Dia menjelaskan pada saat itu pesawat yang terbang dengan pilot Mayor Pnb Ivy Safatila akan melakukan uji coba perform penerbangan ketinggian 25 ribu kaki. Pesawat kemudian melanjutkan uji coba terbang pada ketinggian 15 ribu kaki. Pada saat sudah menempuh 15 ribu, lanjut Agus, penerbang akan calling ke Lanud.

Menurut KASAU, setelah itu pesawat kemudian turun dari ketinggian 15 ribu kaki untuk mencapai 320 knot. Namun pada saat sudah mencapai pada ketinggian 8 ribu kaki, lanjutnya, penerbang tak melakukan calling hingga kemudian jatuh dan menimpa pemukiman warga.

Agus menuturkan sosok Mayor Pnb Ivy Safatila yang menjadi pilot pada saat itu merupakan sosok  berpengalaman dengan 3.000 jam terbang. Almarhum juga sudah memiliki catatan 700 jam dengan terbang bersama pesawat Super Tucano.

Akibat kecelakaan tersebut, TNI AU menghentikan sementara operasional seluruh pesawat Super Tucano hingga diketahui penyebab kecelakaan pesawat yang lepas landas dari Lanud Abdulrachman Saleh, Kota Malang, Jawa Timur.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menuturkan pesawat Super Tucano yang jatuh di Malang tak memiliki masalah serta dalam kondisi layak terbang. Pesawat ini merupakan produk baru yang dibeli pada 2013. Tak ada permasalahan kekurangan suku cadang hingga dianggap sebagai faktor kecelakaan. “Pesawat ini kondisi baik,” kata Ryamizard di Jakarta.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanudin menyampaikan belasungkawa  atas kecelakaan pesawat Super Tucano milik TNI AU itu. Dia juga mengatakan masih menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui penyebab jatuhnya Super Tucano. Dia berharap penyelidikan secara jujur dan transparan, meski demikian tak semua penyelidikan dibuka ke publik karena menyangkut kerahasian apalagi sebagai pesawat tempur.

Menurut Jenderal Purnawirawan bintang dua itu, ketika pesawat selesai melakukan pemeliharaan dan uji terbang semestinya dalam kondisi prima. Namun demikan hal ini berbalikan hingga kemudian pesawat itu jatuh menimpa rumah warga. Dia menambahkan apalagi pesawat itu masih tergolong baru dan kecelakaan dengan memiliki catatan 300 jam terbang.

TNI AU membeli sebanyak satu skuadron pesawat Super Tucano dari Brazil seharga 260 juta dolar AS. Hingga kini baru 8 pesawat yang berada di Skuadron 21 Lanud Abdulrachman Saleh Kota Malang dari 16 pesawat.

Kecelakaan pesawat TNI AU bukan pertama kali, sebelumnya pesawat T50 Golden Eagle buatan Korea Selatan jatuh di Yogyakarta pada Desember 2015. Pada Juni 2015, pesawat TNI AU Hercules C-130 jatuh di Medan, Sumatera Utara.  Kecelakaan lainnya juga terjadi pada pesawat tempur F-16  seperti terbakar dan tergelincir. (asr)