Keterangan foto: Pernyataan yang baru-baru ini dilontarkan Soros pada Forum Davos telah menyentil saraf sensitif PKT. (internet)

Oleh: He Qinglian

Baru-baru ini Soros kembali memicu kecaman dan kritik berbagai media massa resmi di RRT, aura kebencian pun terdengar sampai negeri seberang. Sebenarnya yang berbicara soal ekonomi Tiongkok yang “mendarat keras” bukan hanya Soros seorang, tapi mengapa RRT hanya menganggap Soros sebagai ”musuh bersama Tiongkok”, ada apa sebenarnya di balik hal ini?

Syaraf Sensitif Beijing manakah yang telah disentil oleh Soros?

Karena pernyataan yang baru-baru ini dilontarkan Soros pada Forum Davos, kantor berita Xinhua edisi bahasa Inggris merilis artikel kritik secara bersamaan. Artikel mengatakan “sudut pandang Soros semacam ini jelas merupakan kebutaan selektif” atau melontarkan ancaman “para spekulan yang berniat mengosongkan Tiongkok meraup untung, akan menghadapi biaya transaksi lebih besar bahkan dampak hukum yang serius.”

Ada juga sindiran, seperti surat kabar “People’s Daily” edisi luar negeri 26 Januari 2016 pada headline memuat artikel kritik berjudul “Declare War to China Currency? Hehe…” yang menyebutkan bahwa “Soros yang menantang RMB dan HKD tidak mungkin akan berhasil.” Membaca artikel-artikel tersebut, seolah tipu muslihat Soros untuk “mengosongkan Tiongkok” sedang dilakukan.

Semua artikel menghujat pernyataan Soros dan tidak menuding Soros yang demi menjalankan konspirasi “mengosongkan Tiongkok” mengobrak-abrik secara besar-besaran di pasar modal RRT. Lalu, apa sebenarnya yang dikatakan Soros pada Forum Ekonomi Davos sehingga membuat pemerintah Tiongkok begitu membencinya?

Sebenarnya Soros menyampaikan tiga hal.

Pertama. Perekonomian dunia sedang menapak jejak lama menjelang krisis moneter pada 2008 silam, tapi kedua krisis ini tidak bisa diperbandingkan, karena sumber krisis kali ini adalah Tiongkok.

Kedua. Masalah utama Tiongkok saat ini adalah deflasi dan rasio hutang yang tinggi, ekonomi sulit terhindar dari pendaratan keras. Tapi dipastikan masih bisa terus berkembang dalam dua atau tiga tahun mendatang.

Ketiga. RRT mampu mengatasi masalah (pendaratan keras) ini, karena sumber daya dan ruang pilihan kebijakan di RRT lebih luas, ini dikarenakan adanya topangan berupa cadangan devisa sebesar USD 3 trilyun.

Berikutnya, penulis akan menganalisa apa sebenarnya “kesalahan” dari pandangan Soros ini.

Mengenai pandangan yang pertama. Kalimat ini sama sekali tidak salah, yang membuat pemerintah Tiongkok tidak nyaman adalah Soros beranggapan bahwa kemampuan Tiongkok dalam mengatasi krisis moneter lebih lemah daripada Amerika Serikat. Namun memang begitulah faktanya. Saat terjadi krisis moneter 2008, AS hanya mengalami masalah serius pada perekonomian semu, sementara perekonomian riil pada dasarnya masih baik. Ipteknya tetap memimpin di dunia, pendidikannya masih merupakan sektor industri besar dari AS, suasana sistem pemerintahan juga tidak bermasalah. Oleh karenanya, dua hingga tiga tahun kemudian, produsen AS yang bermarkas di Tiongkok merasa kondisi di negerinya sendiri jauh lebih baik sehingga banyak industri mengalir kembali ke AS.

Hal ini sangat berbeda dengan perekonomian riil RRT saat ini yang mengahadapi berbagai kesulitan. Dan masalah ini, seperti struktur ekonomi RRT yang tidak baik. Puluhan sektor industri mengalami kelebihan hasil produksi yang serius dan gelombang demi gelombang kebangkrutan perusahaan. Minimnya inovasi dalam hal iptek dan lain-lain, semua itu merupakan permasalahan ekonomi RRT. Pemerintah sendiri juga telah mengakui hal itu. Atas dasar itulah Soros berpendapat kedua krisis ini tidak bisa diperbandingkan.

Mengenai pandangan yang kedua, rasio hutang RRT yang tinggi sudah diakui kalangan bank investasi dunia, riset resmi Tiongkok juga berpandangan sama, perbedaannya hanyalah pada persentase rasio hutang yang agak berbeda saja. Menurut data yang dirilis Bloomberg Juli 2015 lalu, hingga akhir Juni 2015, rasio hutang perusahaan dan keluarga di Tiongkok mencapai 207% dibandingkan PDB, jauh melampaui rasio hutang 2008 yang hanya 125%. Laporan perkiraan ekonomi Tiongkok yang dirilis IMF pada Agustus 2015 menunjukkan, total hutang RRT (termasuk hutang pemerintah daerah dan hutang perusahaan) akan mencapai 250% dari PDB di tahun 2020 mendatang.

Pada Juli 2015, China Academy of Social Science merilis laporan “China National Balance Sheet 2015”, disebutkan pada akhir 2014, total hutang ekonomi RRT (termasuk institusi keuangan) mencapai RMB 150 trilyun, rasionya 170% terhadap PDB di tahun 2008 meroket menjadi 235,7% atau naik sebesar 65,7% dalam tempo 6 tahun.

Sedangkan deflasi atau inflasi dunia yang akan dipicu oleh kemerosotan ekonomi RRT merupakan perkiraan berdasarkan analisa teknis, seperti deflasi yang diperkirakan oleh ekonom RRT sendiri beberapa tahun lalu, padahal kenyataannya yang terjadi adalah inflasi. Hanya satu kata “deflasi” saja oleh Soros langsung dikaitkan dengan topik “mengosongkan RRT,” sepertinya mengandung unsur “melimpahkan kesalahan.”

Mengenai pandangan yang ketiga. Istilah “pendaratan keras” ini tidak sejalan dengan propaganda pemerintah Partai Komunis Tiongkok/PKT, selebihnya hampir semua adalah pernyataan positif mengenai kemampuan manajemen pemerintahan RRT. Selama hampir 3 tahun terakhir, kalangan moneter internasional perlahan telah memiliki persamaan pemahaman, bahwa merosotnya ekonomi RRT tidak bisa dihindari, bedanya hanyalah pada “mendarat lunak” atau “mendarat keras” saja.

Pemerintah RRT tentu senang mendengar istilah “mendarat lunak.” Perasaan semacam ini bisa dipahami. Ibarat sebuah pesawat pada saat mengalami bahaya sehingga terpaksa mendarat darurat. Jika teknik sang pilot tinggi dan cukup beruntung, maka pesawat akan dapat mendarat dengan lunak, luput dari bahaya, meskipun sedikit banyak terjadi percikan api, badan pesawat mengalami kerusakan, korban luka dan meninggal sedikit, tapi secara keseluruhan penumpang dan pesawat masih selamat. Jika teknik pilot kurang memadai, apalagi kurang mujur, saat mendarat pesawat akan terbakar, tertabrak keras, hingga akhirnya pesawat hancur dan penumpang tewas.

Berada dalam posisi seperti itu, siapa yang senang mendengar istilah yang tidak mengenakkan telinga seperti “mendarat keras” itu?

Apalagi sejak jaman Mao Zedong, pemerintah PKT tidak pernah membentuk tradisi menerima perbedaan pendapat, bisanya selalu hanya “menembak mati siapa pun yang membawa kabar buruk.” Bedanya hanya taraf yang berbeda saja.

Mengapa Soros Terpilih Sebagai Kambing Hitam yang “Mengosongkan RRT”?

RRT memilih Soros sebagai “kambing hitam” hanya karena dialah satu-satunya orang yang memenuhi kondisi “momentum, letak geografis, dan relasi.”

Kita bicara soal “momentum” dulu. Ekonomi RRt saat ini sedang melepaskan berbagai berita baik maupun buruk, sehingga berbagai kelompok bank investasi asing yang dulunya “melekat” pada perekonomian RRT baru-baru ini juga mulai berpaling, istilah dalam ungkapan Tiongkok adalah mulai “meremehkan Tiongkok.” Seperti CBB International yang berkantor pusat di New York yang merilis laporan “China Beige Book.” Pada kuartal ketiga 2015 RRT masih beranggapan bahwa pandangan pesimis terhadap perekonomian RRT “sama sekali tidak sesuai dengan fakta”, tapi pada kuartal keempat berubah 180 derajat: beranggapan “perekonomian kuartal keempat tidak aman, kondisi seluruh aspek memburuk.”

Laporan pada kuartal ketiga telah dilupakan sama sekali. Saat ini, tidak ada harapan bagi bursa efek RRT untuk bangkit. Berbagai bahaya mengintai bursa valas, meskipun pemerintah mengupayakan berbagai cara, modal terus saja mengalir ke luar negeri. Penyelamatan bursa efek pada 2015 tidak berhasil, hanya bisa menangkap puluhan tokoh terkemuka di kalangan sekuritas dengan tudingan “mengosongkan RRT.” Soros pun diberi tuduhan “mengosongkan RRT”, jauh lebih mudah daripada menangkap tokoh sekuritas dalam negeri.

Bicara soal “letak geografis,” jika Soros adalah orang Inggris atau Prancis, pemerintah RRT kali ini tidak akan menuduhnya, dalam hal ini Inggris dan Prancis bukan “kekuatan asing” yang kerap disebut-sebut pemerintah RRT. Tapi karena Soros adalah tokoh investasi top warga AS, menjadikannya sangat sesuai dengan kriteria negara yang disebut oleh Beijing sebagai “kekuatan asing.”

Terakhir soal “relasi.” Dalam tradisi propaganda pemerintah RRT, Soros adalah buaya raksasa finansial dunia yang memiliki catatan “mengosongkan negara lain,” yang setiap hari mencari sasaran untuk ditelan. Pada 1992 Soros pernah menggasak bank sentral Inggris, menyebabkan Inggris hampir terjerumus ke dalam krisis finansial. Pada 1997 Soros memborong habis Thai Baht di bursa valas terbuka Thailand, yang kemudian memicu krisis moneter melanda Asia Tenggara. Kemudian pada 1998 Soros juga menyapu saham Hongkong, yang memaksa Hongkong meminta pertolongan pada Beijing, beruntung waktu itu PM Zhu Rongji banyak akal dan bijak membuat keputusan, sehingga diputuskan meminjamkan puluhan milyar dari cadangan devisa asingnya yang sebanyak USD 120 milyar kepada Badan Pengawas Keuangan Hongkong (pihak Beijing mengklaim USD 28 milyar dipinjamkan), agar pemerintah Hongkong dapat menggunakan “tekanan suku bunga” untuk memaksa Soros mundur. Phoenix Network belum lama ini masih memberitakan “Serangan Balik RMB: Seperti Serangan Balik Hongkong Terhadap Soros pada 1998,” mengenang kemenangan pada waktu itu.

Dendam lama RRT dengan Soros tidak sebatas beberapa kejadian di atas. Di era tahun 1980-an, Soros pernah berharap dapat membantu reformasi keterbukaan di Tiongkok, untuk itu di Beijing dibentuk Open Foundation China Office, dari pihak RRT mengutus Wakil Menteri Keamanan Nasional LingYun untuk menjabat sebagai penanggung jawab yayasan tersebut dari pihak Tiongkok. Setelah peristiwa Tiananmen, untuk menghabisi Zhao Ziyang, pemerintah RRT merekayasa pernyataan yang memojokkan Zhao Ziyang yang mengatakan dirinya menjadi mata-mata AS lewat perantara Soros. Setelah surat kabar “Washington Post” memuat berita yang berasal dari RRT ini, Soros menulis surat kepada Deng Xiaoping menepis tudingan tersebut, dan pemerintah RRT pun tidak lagi mengungkit soal fitnahan tersebut.

Dipilihnya Soros oleh pemerintah RRT, tentu juga karena talenta investasi Soros yang tiada duanya di dunia. Baik bagi negara maupun perorangan, jika kalah di tangan orang yang lemah adalah sesuatu yang teramat memalukan, tapi jika kalah di tangan tokoh hebat maka rasa malu itu akan jauh berkurang. Pemerintah RRT juga tahu, “pendaratan keras” sulit dihindari, jika sial sampai terjadi “kebakaran” dan mengakibatkan tragedi serius. Dengan adanya Soros sebagai “kambing hitam,” setidaknya masih bisa menyatakan pada dunia: bukan kemampuan manajemen partai ini tidak becus, tapi Soros adalah musuh yang sangat kuat. Banyak negara telah dirugikannya, dan jika pemerintah RRT juga dirugikan, tidak terlalu memalukan. Setidaknya, pada 1998 pernah menang sekali dari Soros.

Dengan adanya unsur “momen, letak geografis, dan relasi” ini, maka Soros pun mutlak menjadi pilihan Beijing sebagai kambing hitam yang “mengosongkan RRT” kali ini, dan ini sudah menjadi “takdir.”

Setelah terungkap begini masalah pun menjadi sederhana sekali. Penulis percaya, pernyataan bahwa Soros sebagai pelaku yang “mengosongkan RRT,” setidaknya akan dipercayai oleh 70% media massa resmi di RRT. Göbbels (Menteri Propaganda Nazi Jerman di PD-II) sejak dulu telah mengatakan, kebohongan jika diulang sebanyak 1000 kali akan menjadi kebenaran. Apalagi, di Tiongkok banyak terdapat pengikut Mao yang ekstrim kiri, juga terdapat tidak sedikit “pengikut pink cilik”, celotehan propaganda surat kabar “People’s Daily” dan kantor berita Xinhua tidak akan sia-sia. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular