Keterangan foto: Kim Jong-un nekat uji coba nuklir, tindakan meluncurkan rudal jarak jauh menyiratkan hubungan Tiongkok – Korut mengalami kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (internet)

Oleh: Kai Xin

Setelah serangkaian tindakan provokatif Korea Utara, hubungan antara Tiongkok dan Korut (Republik Demokratik Rakyat Korea-DPRK) kini menghadapi perubahan drastis. Beberapa waktu lalu, laman the “New York Times”menerbitkan wawancara khususnya dengan Yan Xue-tong, Kepala Institut Studi Internasional Universitas Tsinghua, Tiongkok. Dalam wawancara eksklusifnya, Yan Xue-tong dengan tegas mengungkapkan, bahwa PKT tidak lagi memandang Korea Utara sebagai sekutu.

Think-tank Beijing : Tiongkok – Korut bukan sekutu

Selasa (9/2/2016) lalu, the “New York Times” secara eksklusif mewawancarai professor Yan Xuetong, Direktur di Institut Studi Internasional, Professor bidang politik Universitas Tsinghua, dan Sarjana terkemuka Tiongkok. Ketika ditanya oleh reporter, “Apakah Tiongkok perlu membangun pangkalan militer di Laos, Kamboja, dan di negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai?”

“Bejing menerapkan prinsip non-aliansi, jadi masih terlalu dini untuk membahas tentang dimana Tiongkok akan membangun pangkalan militernya saat ini. Lagipula, Tiongkok sekarang hanya memiliki satu sekutu sejati, yakni Pakistan,” kata Yan Xuetong.

Reporter kemudian bertanya lebih lanjut, “Tiongkok dan Korea Utara pernah menandantangani perjanjian pada 1961, tetapi anda mengatakan bahwa Korut bukan lagi sebagai sekutu Tiongkok?”

“Sejak 2013 lalu, Tiongkok secara terbuka telah membantah punya hubungan sebagai sekutu dengan Korea Utara, selain itu, pemimpin dari kedua belah pihak juga tidak pernah bertemu lagi selama bertahun-tahun, “sekutu yang sejati tidak akan begitu,” kata Yan Xuetong.

Tiongkok – AS bersatu, Kim Jong-un akan “dipenggal” ?

Sebenarnya, tindakan Korea Utara mengabaikan masyarakat internasional yang menentang uji coba nuklir dan peluncuran roket jarak jauhnya itu sekali lagi dipandang oleh kalangan luar sebagai tindakan yang memalukan dan dilema bagi pemerintah Beijing.

Senin (8/2/2016) lalu, ketika reporter bertanya pada juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby, “Apakah mengandung makna khusus terkait Korea Utara yang meluncurkan rudal bertepatan dengan Perayaan Tahun Baru Tradisional China. Besar kemungkinan tindakan Korea Utara ini memang sengaja untuk mempermalukan Beijing?”

“Bisa kami simpulkan waktu peluncuran kali ini memang disengaja,” kata John Kirby, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Sementara itu, professor di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, dan Direktur di pusat studi Tiongkok, Bo Zhi-yue juga mengatakan, “Ditilik dari aspek tertentu, ini adalah bentuk protes Korea Utara terhadap Beijing.”

Sementara itu, Mike Chinoy, sarjana senior dari University of Southern California, seperti dikutip US Cable News Network (CNN) mengingatkan, bahwa sudah saatnya bagi otoritas Beijing memutuskan sanksi yang lebih keras terhadap Korea Utara.

Melansir VOA, Minggu (7/2/2016) dalam pembicaraan telepon antara Presiden AS Barack Obama dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat, bahwa program uji coba rudal Korea Utara adalah tindakan “provokatif dan merusak stabilitas kawasan.”

Gedung Putih juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pemimpin AS dan Tiongkok telah mengadopsi sebuah resolusi Dewan Keamanan yang berpengaruh terhadap provokasi Korea Utara.

Sementara itu, komentator militer Zhang Zhao-zhong, seperti dilansir CCTV PKT mengatakan, sebenarnya pihak AS telah menguasai pangkalan uji coba nuklir dan sejumlah target militer Koea Utara. Jika Korea Utara melakukan aksi provokasi dan melepaskan tembakan, besar kemungkinan Korea Utara akan segera dihancurkan saat AS dan Korea Selatan mengadakan latihan militer.

Beberapa analis mengatakan, bahwa isi percakapan Yan Xuetong saat diwawancarai media sama persis dengan sikap/pernyataan Xi Jinping, bisa jadi ini menyiratkan bahwa hubungan Tiongkok – Korea Utara akan mengalami perubahan besar.

Media Tiongkok mengungkapkan hubungan Jiang Zemin dengan Korea Utara.

Pada 5 Oktober 2015, kilas balik media Tiongkok “Bjnews/Beijing News” menyebutkan, pejabat senior Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang berturut-turut mengunjungi Korea Utara sejak 2000. Dalam artikel yang dipublikasikan itu disebutkan, bahwa Jiang Zemin mengunjungi Korea Utara untuk pertama kalinya pada 1990 dan mengatakan, “Tidak akan pernah melakukan hal yang menyakitkan bagi rakyat Korea Utara.”

September 2001, Jiang Zemi kembali mengunjungi Korea Utara.

Juli 2011, Zhang Dejiang yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Dewan Negara, dan Komite Sentral PKT kala itu, memimpin delegasi mengunjungi Korea Utara. Sedangkan pada Oktober 2007, Liu Yun-shan, yang menjabat sebagai anggota politbiro PKT, Sekretaris Jenderal Komite Sentral PKT, dan kepala Departemen Propaganda Pusat ketika itu, juga pernah mengunjungi Korea Utara.

Sementara pada tahun 2010, Zhou Yongkang, mantan Sekretaris Komite Sentral Komisi Hukum dan Politik PKT, mengunjungi Korea Utara, saat itu Zhou Yongkang disambut dengan megah oleh Kim Jong-il, dan Zhou Yongkang adalah satu-satunya pejabat era Jiang Zemin yang naik ke atas podium pemimpin dalam parade militer Korea Utara, dan sebagai anggota delegasi PKT yang seperjalanan dengan Kim Jong-il selama sesi kunjungan tersebut. Selama 3 hari kunjungannya itu, Zhou Yongkang menemui Kim Jong Il empat kali.

Xi Jinping : Program rudal Korea Utara adalah tindakan provokasi.

Sebelumnya, otoritas Korea Utara tidak menggubris penentangan dari masyarakat internasional terkait peluncuran rudalnya (7/2/2016), sehingga Korea Utara dikecam masyarakat internasional dan menuntut penerapan sanksi yang lebih keras.

Kim Jong-un mempercepat desinicization (penghapusan pengaruh Tiongkok)

Januari 2016 lalu, ketika Korea Utara mengklaim uji bom hidrogen, “Washington Post” menerbitkan sebuah artikel yang menyebutkan, bahwa uji coba nuklir Korea Utara merupakan sikap dingin Korea Utara terhadap Tiongkok. Artikel tersebut juga menuturkan bahwa uji coba bom hidrogen Korea Utara itu mungkin ditafsirkan sebagai respon permusuhan Korea Utara terhadap AS, namun para ahli mengatakan, bahwa percobaan itu mungkin lebih mencerminkan memburuknya hubungan antara Korea Utara dengan PKT.

Menurut pandangan ahli seperti dikutip artikel terkait, Beijing mungkin tidak akan seketika meninggalkan “sekutu-nya” yang merepotkan ini, namun, mungkin akan mengambil sanksi yang lebih keras, dan ini masih tanda tanya terkait efektif atau tidaknya sanksi yang akan dijatuhkan itu.

Sementara itu, professor di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, dan Direktur di pusat studi Tiongkok, Bo Zhi-yue juga mengatakan : “Ditilik dari aspek tertentu, ini juga merupakan bentuk protes Korea Utara terhadap Beijing.” (joni/rmat)

 

 

Share

Video Popular