Keterangan foto: Pemerintah India mewajibkan pendidikan gratis dan buku pelajaran gratis kepada murid-murid dari kelas 1 hingga kelas 8. Pendidikan olahraga dan olahjiwa juga diperhatikan oleh pemerintah, foto menunjukkan animo yang besar dari kalangan pendidikan dalam melatih murid hingga mahasiswa senam meditasi Falun Gong. (internet)

Oleh: Yan Dan

Baru-baru ini berbagai berita mengenai India sepertinya menjadi “favorit baru” yang berebut diberitakan oleh berbagai media massa luar negeri. Salah satunya “Wall Street Knowledge” yang menempatkan “kecepatan pertumbuhan PDB” yang dirilis oleh Biro Statistik Pusat India sebagai berita di surat kabar. Kuartal ke-4 2015, pertumbuhan PDB India mencapai 7,3% dan telah menjadi ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di seluruh dunia. Selain itu, biro statistik tersebut juga memperkirakan pertumbuhan PDB India berdasarkan tahun finansial mencapai 7,6%, memecahkan rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan RRT, dalam berita disebutkan “pertumbuhan PDB RRT di tahun 2015 hanya 6,9%, memecahkan rekor terendah selama 25 tahun terakhir,” lebih buruk daripada India.

Pertumbuhan tidak normal perekonomian RRT setelah puluhan tahun terakhir yang mengalami perlambatan kecepatan tidak mengherankan, akan tetapi bagi masyarakat Tiongkok sendiri, perkembangan di India yang justru sangat mengejutkan. Sebenarnya, kekalahan Tiongkok dari India tidak hanya dalam hal PDB semata. Sejak tahun 2008, pihak pemerintah Tiongkok telah mengungkap satu hal “Pertumbuhan konsumsi negara kami lebih lamban, rasio pengeluaran dari konsumsi warga pada PDB lebih rendah.” Di tengah masa dimana gelora informasi sudah tidak dapat ditutupi dengan berbagai berita yang tidak begitu menarik perhatian masyarakat, samar-samar terlihat sejumlah data terkait rasio konsumsi masyarakat terhadap PDB, rasio konsumsi di RRT adalah 35,3% sementara di India adalah 54,7%. Dengan kata lain, kondisi sebenarnya menyangkut konsumsi serta daya beli masyarakat, India lebih kuat daripada RRT.

Dan dari peringkat “Indeks Persepsi Korupsi Negara Dunia 2015,” India menduduki peringkat ke-76, lebih baik daripada RRT yang menduduki peringkat ke-83. Hal yang patut disinggung adalah, ini adalah kedua kalinya India menang dari RRT dalam hal persepsi korupsi setelah pada 2014 India berhasil mengalahkan RRT dengan menempati peringkat ke-85, pada saat itu RRT peringkat ke-100. Peringkat selama dua tahun selain membuat masyarakat menyadari bahwa ternyata “India juga korup,” juga memberikan bukti nyata bahwa ternyata “RRT lebih korup lagi.”

Kembali melihat pada pertumbuhan PDB” saat ini, mungkin bisa dikatakan, jika kedua angka ini terkait dengan ekonomi, maka akan bisa disimpulkan korupsi sangat merugikan bagi pertumbuhan ekonomi sehingga tak heran bila pertumbuhan PDB India jauh lebih cepat daripada RRT.

Jika dikatakan pertandingan angka tidak bisa menunjukkan “kekalahan” Tiongkok, maka sistem kesejahteraan negara dapat menunjukkan betapa lemahnya Tiongkok. Beberapa tahun lalu sudah ada data yang menjelaskan, India yang merdeka pada 1947, telah menerapkan sistem Jaminan Kesehatan Gratis seluruh rakyat pada1949. Meskipun rumah sakit pemerintah yang tidak mengutamakan keuntungan memiliki fasilitas relatif rendah tapi dengan sendirinya pasien yang lebih mampu tersalurkan ke rumah sakit swasta yang memiliki fasilitas lebih baik. Hal yang lebih penting lagi adalah di India tidak ada dualisme sistem jaminan kesehatan, sehingga rumah sakit milik pemerintah tidak akan menyediakan kamar pasien khusus kader senior PKT yang memiliki fasilitas lebih mewah, terlebih lagi tidak ada tempat bagi para anggota partai.

Selain pengobatan gratis juga ada pendidikan gratis. Pemerintah India mewajibkan, untuk pendidikan dasar dari kelas 1 hingga kelas 8, sekolah tidak boleh memungut uang sekolah apa pun dari murid, buku pelajaran juga diberikan gratis pada murid. Ini sangat bertolak belakang dengan “pendidikan dasar 9 tahun secara sukarela” di RRT. Dalam tiga hal saja sudah bisa membedakan antara keduanya.

Pertama, di seluruh India sebanyak 120 juta pelajar menikmati makan siang gratis yang disediakan pemerintah.

Kedua, setiap tahun setiap pelajar menerima tiga set seragam untuk musim semi dan gugur, musim panas, dan musim dingin.

Ketiga, anggaran negara untuk pendidikan, pada 1993 RRT menetapkan “Reformasi Pendidikan dan Pengembangannya”, yang menganggarkan mencapai 4% hingga tahun 2000. Dan angka ini ternyata bukan saja “kurang dari setengah anggaran (pendidikan) India”, bahkan hingga 2003 baru terealisasi 2,84% saja, dan pada 2004 justru turun menjadi 2,74%.

Sekecil apa pun upaya pemerintah India justru menampakkan wujud keunggulan suatu negara demokrasi. Sebaliknya kalahnya Tiongkok, seharusnya terkait erat dengan “rakyat tidak bisa ikut pemilu” dan “kekuasaan (PKT) tidak terbatas dan tidak ada pengawasan.” Pada dasarnya, memerintah suatu negara bukan soal “lari jarak pendek (sprint)” melainkan ajang marathon yang membutuhkan secara terus menerus menonjolkan sistem “pemilihan secara demokratis” dan kekuatan dari “demokrasi.” (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular