Keterangan foto: Sang produser dan sutradara film “Unbroken”, Angelina Jolie dengan Louise Zamperini (1917-2014) yang asli, seorang tokoh biasa dengan mengandalkan kemauan teguh tak tergoyahkan berhasil melewati kesulitan dan bertahan hidup. (wikipedia)

Oleh: Wen Yu

Film “Unbroken (Tak Terpatahkan)” ini diadaptasi berdasarkan kisah nyata, adalah sebuah film pendorong semangat yang sangat mengharukan. Film ini ditayangkan di Amerika Serikat pada 25 Desember 2014 dan mendapatkan catatan box office cukup baik. Pernah pula pada 2014 memenangkan “Penghargaan 10 film terbaik Tahunan” dari AFI (American Film Institute).

Film yang diproduksi dan disutradarai oleh Angelina Jolie, disusun kembali berdasarkan novel karangan Laura Hillenbrand “Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption”.

”Unbroken” menggambarkan kisah perjalanan hidup Louis Zamperini seorang warga Amerika Serikat etnik Italia yang penuh liku dan legendaris.

Masa muda Louis, pernah menjadi seorang pengacau yang “membuat seluruh warga kota sakit kepala”, atas didikan dan binaan kakaknya yang jujur dan menonjol. Louis menampakkan bakat lari yang luar biasa dan telah mencetak rekor dunia 4 menit 21 detik per miles, sampai dijuluki “Torrance Tornado”, seorang bintang yang dikenal setiap orang. Pada 1939 Louis mengikuti Olympiade yang diselenggarakan di Berlin, ia bertengger di urutan nomer 8 dalam lomba lari 5000 m serta menjadi orang AS pertama yang mencapai finish dalam nomor lomba itu.

Dalam Perang Dunia II, Louis bergabung ke Angkatan Udara AS, menjadi juru ledak bom pada pesawat bomber B-24. Dalam pertempuran Samudra Pasifik antara AS dan Jepang, pesawat Louis terjatuh ke laut dikarenakan gangguan mesin. Dari awak pesawat hanya ada 3 orang yang hidup yakni Louis, Phil dan Michael.

Hidup di atas perahu karet yang mengapung di atas samudra adalah awal kesengsaraan Louis. Mereka bukan hanya harus menghadapi teriknya sinar mentari, tiupan angin dan hempasan hujan, kekurangan makanan dan air, juga perahu karet bocor lantaran dicabik oleh ikan hiu, mereka masih harus menghadapi berondongan tembakan tanpa ampun dari pesawat tempur Jepang. Louis dan kawan-kawan dengan mengandalkan makanan mentah burung laut dan ikan demi menyambung hidup, hari demi hari menengadah ke atas langit, berharap datangnya bala bantuan.

Dalam novel asli Laura Hillenbrand ada kalimat yang mengatakan, “Walau menghadapi kesulitan yang sama namun sikap mereka yang berbeda telah menentukan kelak nasib yang berbeda.”

Sikap Michael yang pesimis, sejak awal sudah menentukan nasibnya, dalam situasi yang sama Michael tewas karena organ tubuhnya melemah, dan Phil meskipun terluka ketika pesawat terjatuh, ia bersikap optimis berkat keteguhan imannya. Bersama dengan Louis mampu bertahan melewati kehidupan mengapung di atas laut selama 47 hari. Betul-betul suatu ujian bagi daya hidup dan batas maksimum jasmani yang hampir saja menguras habis spirit Louis dan Phil, dan kehidupan sebagai tawanan perang yang segera menghampirinya merupakan sebuah ujian ganda berikutnya secara jasmani dan rohani.

Setelah 47 hari mereka berdua menyongsong sebuah kapal perang yang mendekat ke arah mereka, tapi tak dinyana itulah kapal perang musuh. Louis dan Phil pun tertangkap sebagai tawanan perang oleh tentara Jepang, kemudian mereka dipisah dan dikurung di kamp yang berbeda. Di dalam kamp tawanan perang Louis mengalami siksaan yang lebih kejam daripada mengapung di atas laut. Ia dipukuli, ditampar, dicaci dan dihina tanpa sebab, disiram air dingin dan tak peduli luka atau sakit hari demi hari dituntut untuk bekerja kasar, beristirahat barang sejenak saja akan menerima hukuman.

Dalam film, kepala sipir Watanabe yang selalu melakukan penganiayaan yang diperberat dan ditujukan hanya ke Louis, nampak olehnya kaki Louis yang terluka lantaran tidak kuat memikul batu bara berhenti dan beristirahat sejenak. Diluar dugaan ia menyuruh Louis yang masih terluka itu mengangkat sebatang balok kayu berat serta memerintahkan prajurit mengawasi dan bila perlu menembaknya jika Louis meletakkan balok kayu itu. Akhirnya Louis yang berbadan letih dan masih luka diluar dugaan berhasil mengangkat balok kayu itu dengan sekuat tenaga dan bertahan selama 37 menit! Melihat sinar mata Louis yang teguh dan melihat sinar pandangan para tahanan perang yang kagum dan terharu, Watanabe menjadi marah karena malu, maka ia melayangkan tinjunya memukul jatuh Louis, disusul dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Akhirnya, Watanabe yang merasa dikalahkan bertekuk lutut disamping tubuh Louis yang tergeletak di atas lantai, ia terkulai menundukkan kepalanya.

Status Louis sebagai mantan atlit olympiade, membuat militer Jepang berniat memanfaatkan reputasi Louis di AS dan membujuknya untuk bergabung ke dalam radio anti-Amerika milik tentara Jepang. Menghadapi godaan kenikmatan dan kenyamanan hidup, Louis tidak berkhianat, ia dengan teguh memilih kembali ke kamp tawanan perang.

Pada 1945, Perang Dunia II berakhir dengan kemenangan pihak sekutu. Louis mengandalkan tekadnya yang tak tergoyahkan telah dapat melintasi kehidupan bagai neraka di dalam kamp tawanan. Ia pada akhirnya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Meski mimpi buruk yang menimpa jasmaninya telah mandeg, namun mimpi buruk rohaniah Louis masih belum berakhir.

Pasca Perang Dunia II tak terhindarkan si pahlawan perang Louis Zamperini juga terjangkit “Gangguan Stres Pasca-Perang.” Selama beberapa tahun setelah kepulangannya, ia akrab dengan alkohol dan dekadensi, terutama gangguan rasa dendamnya terhadap kepala sipir Watanabe, yang setiap saat membuatnya merasa tidak bisa hidup dengan normal.

Jiwa yang terluka hanya Tuhanlah yang bisa menyembuhkan. Mendengarkan dengan seksama ajaran Allah, Louis Zamperini yang memperoleh pengampunan atas panggilan Allah telah melepas dendam kesumatnya. Pada 1952 ia mengunjungi kembali Penjara Sugamo yang pernah mengurung dirinya dan menjenguk para sipir penjara yang pernah menganiayanya. Namun, Watanabe untuk selamanya tidak mau menemuinya lagi.

Pada 1998, sebelum Louis Zamperini bersiap-siap berangkat ke Tokyo, Jepang untuk mengikuti estafet obor Olympiade, ia menulis sepucuk surat untuk Watanabe dan memberitahukan pemberian maafnya sejak 1952 serta berharap di suatu hari nanti Watanabe mau menjadi seorang penganut Kristen. Kisah perjalanan hidup seorang Louis Zamperini telah memberi hikmah bahwa kepercayaan yang kuat mampu memberi kepada manusia sebuah tekad yang tak terkalahkan. (lin/ whs/rmat)

Share

Video Popular