Keterangan foto: Sejak Xi Jinping menjabat Kepala Negara selama 3 tahun ini, dalam kunjungannya yang sebanyak 19 kali ke luar negeri, media daratan Tiongkok merangkumnya sebagai “diplomasi ala Xi” yaitu “membisikkan persahabatan membahas kerja sama mengulas perdamaian, memperluas lingkaran pertemanan Tiongkok”. Selain itu semakin lama semakin diakui bahwa selama masa pemerintahan rezim Jiang Zemin, untuk melepaskan diri dari kesulitan dalam dan luar negeri, mereka meminjam penindasan Falun Gong guna mengalihkan sorotan dalam dan luar negeri. Foto adalah marching band Tian Guo milik grup Falun Gong disaat tampil pada pawai Tahun Baru Imlek di AS pada 2012. (Edward / Epoch Times)

Oleh: Song Zhengshi

Sebuah aturan catur Tiongkok (Catur Gajah) yang paling mendasar adalah: dua belah pihak yang saling berhadapan, jika telah menghabisi “Jendral” lawan, baru dapat dikatakan memperoleh kemenangan terakhir.

Jika hanya mencaplok “ Kereta perang”, “Kuda”, atau “Meriam” dan berhasil membuat lawan keteteran, memaksa “Jendral“ lawan lari pontang-panting dan bersembunyi kesana-sini, namun si “jendral” masih belum tertangkap atau dibunuh, masih tidak dapat terhitung memperoleh kemenangan. Karena begitu lawan mendapat kesempatan menyerang balik, situasi masih mungkin berubah drastis, bahkan bisa saja berbalik merebut kemenangan dari tangan lawan.

Situasi politik mirip dengan permainan catur, di daratan Tiongkok situasi politik sekarang ini bukankah juga demikian?

Coba saksikan badai anti korup yang digerakkan oleh grup Xi Jinping, semua tempat yang dituju dibuat kocar-kacir. Pejabat tinggi dari propinsi, departemen, militer, pimpinan polisi bersenjata, para eksekutif perusahaan negara dan financial yang kebanyakan dari kubu Jiang, satu per satu telah jatuh. Bersamaan dilakukan “memukul harimau” juga “menepuk lalat,” badai menuju ke pejabat tingkat menengah dan tingkat dasar. Sejumlah besar anggota grup Jing Zemin yang korup dan melakukan banyak kejahatan, rontok satu per satu, situasi berkembang cukup baik. Namun “Jendral tua” Jiang Zemin ini jika tidak diringkus, maka pada akhirnya tidak mungkin Xi memenangkan catur besar anti korupsi tersebut, bahkan tidak dapat memperoleh kemenangan penentu dalam tahap awal anti korupsi ini yang masih bersifat memperbaiki permukaan saja.

Catur merupakan sejenis pertarungan yang bersifat hiburan, dengan cara mengadu strategi dalam pertarungan militer. Dari sudut strategi militer, dari situasi politik di RRT sekarang ini, grup Xi Jinping hanya menangkap pentolan kejahatan korupsi Jiang Zemin, baru dapat menjamin perolehan kemenangan anti korupsi yang masih bersifat “penyembuhan permukaan.” “Menangkap bandit, tangkaplah raja bandit terlebih dahulu,” ini sebetulnya merupakan sebuah rahasia militer, namun berkat Dewa Penyair “Dufu” dari zaman dinasti Tang yang sering melantunkannya lantas menjadi diketahui semua orang. Grup kecil yang menyerang lawan, sering kali komandan lawan menjadi sasaran serangan pertama. Menyerang pasukan lawan dalam jumlah besar, sering kali pusat komando atau sentra komunikasi lawan menjadi sasaran “aksi pemenggalan” atau “taktik menggali Jantung.”

Xi dalam karirnya dimulai dari jabatan sekretaris Komisi Militer Pusat, tentu sangat paham akan contoh peperangan klasik “Gerakan pemenggalan.”

Perang Korea yang terjadi pada 1950-an, pasukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 13 Juli 1953 melakukan serangan frontal terhadap pasukan Korea Selatan yang berada di dekat 38∘garis lintang utara (Garis 38). Pasukan “Resimen Harimau Putih” yang berada di bawah “Divisi Ibukota” Korea Selatan dan bermarkas di daerah kota Geum Seong, daerah terdekat dengan lawan, secara cepat telah diintai oleh unit pengintai pasukan PKT. Pusat komando “Resimen Harimau Putih” diserang, serangan mendadak membuatnya mundur kocar-kacir, “Divisi Ibukota” menjadi kacau, sehingga mengguncangkan peperangan secara total. Pertempuran tersebut sering diutarakan dalam sejarah militer PKT, disebut “Penyergapan Resimen Harimau Putih”, dan digembar-gemborkan dengan beragam sastra budaya.

Ada contoh kasus lain tentara PKT gagal dalam perang “pemenggalan.” Pada abad 20 tahun 70-an, saudara muda sosialisme Vietnam berbalik muka memusuhi PKT, maka pada 17 Februari hingga 16 Maret “saudara tertua” melakukan “Perang pembelaan diri menyerang balik Vietnam,” memberi “pelajaran” pada pihak lawan. Dalam seluruh proses pertempuran, pasukan PKT sedikitnya telah melakukan beberapa puluh kali aksi “pemenggalan” terhadap berbagai sasaran penting, mengintai dan langsung menyerang pusat komando divisi dan resimen serta pusat radar, namun sangat sedikit meraih kemenangan dalam “pemenggalan.”

Front perang sepanjang 1000-an KM, tentu juga ada beberapa kali yang berhasil dengan baik, namun dari keseluruhan front, pertempuran berubah menjadi sebuah perang pemborosan yang tidak memadai. Diantaranya salah satu penyebab utama mengalami kegagalan, tentu adalah aksi “pemenggalan” yang tidak berhasil.

Ingin menjebol kondisi “nasi setengah masak” yang saling berhadapan secara jangka panjang dalam strategi ini, nampaknya Xi Jinping harus bertekad, dengan cepat “menangkap bandit harus menangkap raja bandit terlebih dahulu.” Menggunakan “aksi pemenggalan, taktik menggali Jantung” guna menangkap Jiang Zemin, secara frontal dapat menggetarkan geng penghutang darah. Jangan melakukan perang pemborosan yang bertahan lama dan tidak memadai, jangan memberi kesempatan pihak lawan melakukan serangan balasan, lebih-lebih jangan memberi kesempatan pihak lawan berbalik “mengambil tindakan lebih awal,” melakukan aksi “pemenggalan” dan “penggalian Jantung” terhadap diri sendiri.

Xi Jinping melakukan gerakan anti korupsi, pertama-tama telah menyakiti petingi dari sistem Komisi Politik dan Hukum dan sebagian “raja daerah.” Reformasi militer juga telah menyakiti sejumlah besar jendral dan kolonel. Tindakan “menepuk lalat” yang terkesan terburu mencapai hasil, juga menyakiti pejabat tingkat menengah dan rendah yang amat luas. Dalam menghadapi krisis moneter yang dirancang oleh grup Jiang, terpaksa juga memukul dan menyakiti sejumlah pejabat teras perusahaan negara dan finansial (diantaranya termasuk sejumlah generasi ke-2 mantan petinggi partai ).

Disitulah letak kelicikan dari mantan anggota politbiro PKT Zeng Qinghong, ahli strategi grup Jiang. Menggunakan berbagai jenis insiden, memprovokasi, mengacaukan situasi sehingga memikat atau memaksa pihak lawan tidak dapat bertolenransi lagi, sehingga menerapkan secara keras anti korupsi kekerasan “tanpa toleransi, tanpa ada sudut mati dan mencakupi segalanya.” Dengan demikian Xi Jinping telah diarahkan menyakiti semua orang, berada dalam kondisi depan dan punggung diintai musuh, sampai tiba waktunya, grup Jiang dari bertahan akan berbalik menyerang, berbalik meraih kemenangan dari kekalahan.

Seperti diketahui jika di depan dan punggung bersamaan menghadapi musuh merupakan pantangan besar bagi ahli strategi militer. Jerman dua kali mengalami kekalahan dalam dua kali Perang Dunia, penyebab utama dari sudut strategi militer adalah melakukan pertarungan sekaligus di 2 front Barat dan Timur. Xi Jinping sudah bertarung di banyak front, dihadang oleh berbagai pihak, jika membuka lagi front medan perang baru mungkin akan mengalami kekalahan, hanya dengan cepat meringkus Jiang yang menjadi “kepala pelatih korupsi”, barulah merupakan jalur meraih kemenangan total.

Dibawah situasi sekarang ini dan syarat yang dimiliki sekarang ini, senantiasa menuntut terlaksananya “supremasi hukum secara menyeluruh.” Pasti akan menyakiti banyak lagi kelompok di internal partai, mengakibatkan terjadi situasi terlampau banyak musuh dan sulit untuk diatasi. Sesungguhnya tunggu sampai Jiang telah tertangkap baru melaksanakan supremasi hukum secara menyeluruh, juga tidak akan terlambat. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular