Keterangan gambar: Ilustrasi. (mynewchinesewife.com)

Oleh Yang Muchun

Mahar untuk menikahi gadis pedesaan di Tiongkok terus membumbung tinggi, menyebabkan para pemuda pedesaan kewalahan untuk memenuhinya, “Belum menikah hutang sudah menumpuk.” Hal yang lebih serius dari permasalahan ini adalah, ketimpangan struktural mengakibatkan jumlah penduduk wanita jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang pria, ditambah lagi dengan ‘urbanisasi’ mereka untuk mencari penghidupan yang lebih baik, maka ‘paceklik pasangan’ kian serius terjadi di pedesaan Tiongkok.

Pemuda pedesaan menghadapi biaya pernikahan yang semakin tinggi

Menurut laporan media Tiongkok Daratan pada 12 Februari 2016, Desa Dangshan di propinsi Anhui yang merupakan desa termiskin Tiongkok kini juga muncul “mahar non tradisional.” Menurut adat istiadat tidak tertulis bahwa seorang pemuda bila ingin mendapatkan seorang gadis desa tersebut, maka ia perlu menyiapkan ‘uang perjumpaan’ yang besarnya sampai ratusan ribu Yuan dan biasanya diberikan pada saat hari pertama mengunjungi rumah sang gadis. Uang itu disimbolkan sebagai “memilih satu dari sejuta” (pemuda memilih satu yaitu gadis daripada uang sejuta). Selain itu, pemuda juga perlu memberikan kepada gadis pilihannya uang tunai dengan standar paling rendah 150.000 Yuan (+/- Rp. 300 juta).

Di samping uang tunai, harta gerak dan tidak bergerak juga sudah harus siap sebelum pesta pernikahan. Harta bergerak yang dimaksud adalah mobil pribadi yang berstandar paling rendah dengan harga sekitar 100.000 Yuan. Harta tidak bergerak yang dimaksud adalah tempat tinggal paling sedikit bertingkat satu bila itu berada di desa. Namun jika keuangan mengijinkan maka 1 rumah di perkotaan. Dengan demikian, total-total uang yang dibutuhkan untuk menikahi seorang gadis desa itu pemuda bersangkutan perlu menyiapkan dana tidak kurang dari 600.000 Yuan (+/- Rp.1.2 miliar). Uang sebesar itu belum termasuk beban pemuda untuk merawat orang tua, biaya rumah tangga dan pendidikan bagi anaknya kelak.

Survei yang dilakukan media Tiongkok terhadap kehidupan di desa Henan Nanyang Xichuan County pada beberapa waktu lalu menemukan bahwa biaya pernikahan yang berlaku di beberapa daerah pedesaan sekarang paling sedikit adalah 300.000 Yuan (+/- Rp. 600 juta). Selain itu calon mempelai pria juga perlu memiliki rumah baru atau apartemen yang sudah dilengkapi perabotan, kendaraan beroda 4 (tingkat atas) atau roda 2 (standar).

Mahar yang selangit membuat petani kewalahan

Guo Qingfeng seorang warga Dangshan kepada media lokal mengatakan bahwa untuk membiayai pernikahan putra sulungnya Guo Bin, ia terpaksa meminjam uang dari rentenir 100.000 Yuan dengan bunga 1.8% per bulan untuk mencukupi kebutuhan uang mahar yang berjumlah 220.000 Yuan (+/- Rp. 440 juta).

Guo Qingfeng mengatakan bahwa ia sudah menghabiskan 500.000 Yuan guna membeli rumah tinggal bertingkat untuk putranya itu yang seharga 200.000 Yuan, uang hadiah lainnya yang bila digabungkan bernilai sekitar 280.000 Yuan. Ini masih belum termasuk biaya untuk pesta pernikahan.

“Hutang suatu saat juga harus dibayar bukan. Tidak sedikit orang tua yang memilih mengakhiri hidup hanya gara-gara putranya hendak menikah tetapi kondisi keuangan keluarga tidak menunjang,” katanya lirih.

Padahal Guo Qingfeng 3 tahun lalu sudah divonis dokter menderita osteonekrosis pada tulang paha kirinya dan dianjurkan untuk menjalani operasi penggantian. Namun tingginya biaya operasi dan beban pernikahan putranya memaksa ia hanya berobat dengan cara konservatif.

Pemuda pedesaan mengalami “paceklik pasangan”

Biaya pernikahan sekarang menjadi beban berat bagi warga pedesaan. Dalam rangka untuk membangun kehidupan baru bagi anak, para orang tua umumnya harus mempersiapkan biaya kebutuhan itu 5 tahun di depan. Itu pun harus senantiasa berdoa agar bencana alam tidak menimpa sehingga panen dan cashflow terjamin. Hal yang bertambah parah adalah, para gadis pedesaan itu sekarang sudah menjadi “sumber daya yang langka.”

Para gadis desa banyak yang meninggalkan kampung halaman mereka karena bersekolah dan atau bekerja di daerah perkotaan, sehingga hari-hari orang akan sulit untuk menjumpai gadis berada di desa terkecuali pada tahun baru Imlek. Namun, banyak gadis setelah pergi ke kota sudah enggan untuk kembali menjalani kehidupan pedesaan, karena kesenjangan “barang langka jadi mahal.” Itulah alasan mengapa mahar untuk pernikahan jadi terus meningkat.

Dengan berkurangnya anak gadis, para pemuda usia menikah yang belum berkeluarga jadi terus bertambah. Bahkan pria yang sudah berusia di atas 30 – 50 tahun tetapi belum berkeluarga pun tidak sedikit. Tampaknya “paceklik pasangan” di pedesaan Tiongkok semakin serius.

Gadis di pedesaan semakin berkurang tetapi gadis di perkotaan semakin banyak. Para pemuda yang tadinya memilih untuk bekerja di sawah, di desa sekarang berbondong-bondong memilih bekerja sebagai buruh kasar di kota hanya karena ingin mencari pasangan hidup. Karena itu, ada fenomena “anak desa masuk kota untuk mencari jodoh.” Di sisi lain, hal ini menambah keseriusan krisis tenaga kerja di pedesaan.

Penyebab mahalnya biaya pernikahan di pedesaan

Media Tiongkok The Papers pada 12 Februari 2016 memuat sebuah artikel tulisan Zhang Xueying yang berjudul “Pernikahan yang Mahal: Mengapa Biaya Pernikahan di Pedesaan Tiongkok Kini Semakin Membumbung Tinggi?”

Artikel itu menyebutkan bahwa meskipun anak perempuan itu adalah anak tunggal, namun ia juga menuntut rumah mewah dan uang mahar yang banyak sebagai ‘pegangan’ untuk menempuh hidup baru. Fenomena sekarang sudah tidak saja anak lelaki memperebutkan harta warisan, tetapi anak perempuan juga “tidak mau kalah sejak garis start.”

“Seorang yang meminta mahar 200.000 Yuan mengatakan bahwa tanpa meniru dan mengikuti gaya metropolitan, Anda sudah pasti akan kalah bersaing, bahkan kalah sebelum kompetisi dimulai,” sebut artikel itu.

Artikel itu juga menyebutkan, tujuan pernikahan kini sudah berubah menjadi cara untuk bersaing dalam menggapai kelas sosial yang lebih tinggi. Akibat terbentuknya pasar perjodohan di seluruh negeri serta ketidakseimbangan jumlah antara pria dengan wanita, kaum wanita pedesaan dari wilayah tengah dan barat yang pergi ke perkotaan di wilayah timur Tiongkok terus bertambah. Hal itu menjadi sumber membumbungnya biaya pernikahan di pedesaan Tiongkok. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular