Keterangan foto: Gubernur Bank Sentral Tiongkok Zhou Xiaochuan pada 13 Pebruari mengatakan bahwa depresiasi Renminbi tidak akan berlanjut. (Wang Zhao/AFP/Getty Images)

Oleh Qin Yufei

Gubernur Bank Sentral Tiongkok, Zhou Xiaochuan dalam wawancaranya dengan media keuangan Tiongkok ‘Caixin’ pada Sabtu (13/2/2016) menyebutkan bahwa penurunan berlanjut nilai tukar Renminbi itu adalah tidak berdasar, karena pemerintah Tiongkok mampu menjaga keseimbangan pembayaran, pelarian modal masih dalam ambang normal dan terkontrol. Di samping itu, nilai tukar Renminbi terhadap sekeranjang mata uang asing pada dasarnya masih tergolong stabil.

Zhou Xiaochuan membantah spekulasi asing tentang adanya rencana pemerintah Tiongkok yang bermaksud untuk memperketat pengontrolan modal. Menurutnya masyarakat internasional tidak perlu khawatir soal penurunan sementara cadangan devisa Tiongkok yang dinilai masih cukup untuk menutupi pembayaran sekaligus mempertahankan stabilitas.

Rilis itu disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral pada saat menjelang perbankan Tiongkok kembali beroperasi setelah seminggu diliburkan untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Diketahui bahwa cadangan devisa Tiongkok pada Januari telah menyusut hingga level terendah sejak 2012, menunjukkan, Bank Sentral terpaksa menjual Dollar AS untuk mendukung nilai tukar Renminbi yang telah jatuh ke level terendah sejak 5 tahun terakhir. Penurunan nilai tukar dan jatuhnya harga saham Tiongkok memicu gejolak global, karena itu, pasar saham dunia juga ikut jatuh hingga level terendah 2 tahun terakhir.

Kepala Ekonom Bloomberg untuk Asia yang berbasis di Beijing, Tom Orlik mengatakan bahwa ucapan Zhou Xiaochuan itu disampaikan tepat waktu pada saat pasar sedang krisis.

“Setidaknya telah mengisi kehampaan pemahaman soal kebijakan nilai tukar pemerintah Tiongkok,” kata Tom.

Dalam wawancara itu Zhou Xiaochuan mengatakan, pemerintah Tiongkok melalui ketetapan dalam Rencana Pembangunan Ekonomi 5 Tahunan telah menjanjikan untuk merealisasikan reformasi nilai tukar, agar Renminbi lebih digantungkan pada harga pasar.

Sejak Renminbi didevaluasi pada Agustus tahun lalu, cadangan devisa Tiongkok terus menurun. Dari data keuangan yang dirilis pemerintah diketahui bahwa cadangan devisa Tionngkok bulan Januari tahun ini telah berkurang sebanyak USD.99.5 miliar sehingga saldo tinggal USD.3.23 triliun. Sedangkan cadangan itu telah berkurang sebanyak USD. 500 miliar pada 2015.

Dalam wawancara itu Zhou Xiaochuan juga menegaskan bahwa pemerintah tidak berniat untuk mendongkrak ekspor melalui depresiasi nilai Renminbi. Antara PDB Tiongkok dengan nilai tukar tidak memiliki hubungan langsung. Ia mengatakan bahwa arus modal keluar tidak selalu berarti pelarian modal. Katanya, karena skop perdagangan global, masalah arus pergerakan masyarakat dan jumlah warga Tiongkok yang berada di luar negeri terus meningkat, sehingga kebijakan tentang pengetatan modal menjadi sulit untuk diterapkan.

Institute of International Finance memperkirakan, arus keluar modal Tiongkok pada Januari sudah mencapai USD. 133 miliar. Kejadian ini sudah berlangsung selama 22 bulan berturut-turut. Sedangkan Bloomberg memprediksi bahwa arus keluar modal dari Tiongkok selama tahun lalu mencapai USD. 1 triliun yang setara dengan 7 kali lipat sejak 2014.

Bank Sentral Tiongkok telah meningkatkan upaya untuk membendung arus keluar modal termasuk mengancam spekulen akan dihukum. Setelah kesenjangan nilai tukar Renminbi antar Daratan dengan lepas pantai terjadi melebar hingga memecahkan rekor pada bulan lalu. Bank Sentral Tiongkok terpaksa menjual Dollar AS cadangan mereka guna mengintervensi pasar valuta di Hongkong. Selain itu, membatasi perbankan Hongkong memberikan pinjamanan dalam bentuk Renminbi untuk mengekang short selling atau jual kosong yang menyebabkan suku bunga pinjaman semalam naik ke tingkat tertinggi hingga 66.8% per annum pada 12 Januari 2016 lalu.

Kepada media ‘Caixin’, Zhou Xiaochuan menegaskan bahwa Bank Sentral Tiongkok tidak akan mengijinkan spekulan mendominasi sentimen pasar. Menurutnya pemerintah Tiongkok akan memanfaatkan nilai tukar dalam keranjang mata uang itu sebagai pemandu pergerakan nilai Renminbi tetapi tidak akan mengkaitkan secara langsung. Selain itu, Bank Sentral akan menggunakan data ekonomi makro yang lebih luas untuk menentukan kebijakan nilai tukar.

Tom Orlik menilai Bank Sentral masih ingin mengendalikan dan enggan uuntuk menyerahkan nilai tukar kepada kekuatan pasar. Masalah utamanya adalah, apakah pemerintah bersedia membiarkan kekuatan pasar lebih berperan atau mengontrol demi menjaga stabilitas nilai tukar?

Selama dunia luar tidak jelas memahami fokus yang menjadi perhatian Bank Sentral Tiongkok, maka pasar akan terus memberikan tantangan untuk menguji kebijakan itu. (epochtimes/sinatra/rmat)

Share

Video Popular