JAKARTA –  Aparat kepolisian dari Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri menembak mati seorang teroris di Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Senin (15/2/2016), sekitar pukul 07.30 WITA. Namun saat penggerebekan seorang anggota kepolisian turut terluka saat baku tembak dengan kelompok Amir Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso.

“Ditembak di Bima, satu anggota kita tertembak kena tangannya masih di rumah sakit. Satu tersangka meninggal dunia,” kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/2/2016).

Menurut Kapolri, teroris yang ditembak mati berkaitan dengan jaringan Santoso. Sosok teroris yang kemudian diketahui bernama Fajar ini adalah pelaku penembakan terhadap patroli di Poso dan pembunuhan Kapolsek Ambalawi, Kabupaten Bima, NTB, Iptu Abdul Salam pada Sabtu 16 Agustus 2014.

Aparat kepolisian, lanjut Kapolri, memang ada mengalami kesulitan untuk pengejaran terhadap terduga teroris yang merupakan jaringan Santoso. Faktor yang menghalangi upaya penggerebekan dan penangkapan adalah cuaca dan geografis hingga menyebabkan lambannya pergerakan.

Penggerebekan teroris di Bima yang berujung dengan baku tembak merupakan perlawanan kelompok Santoso yang sebelumnya atas nama Mujahidin gugus tugas Indonesia Timur menantang Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri untuk berperang secara terbuka dan jantan. Kelompok yang kini masih bergerilya di kawasan hutan Poso ini menantang polisi untuk berperang secara laki-laki dengan tak hanya mengumbar aksi di televisi.

Sebelumnya, terkait penembakan Kapolsek Ambalawi 2014 lalu, polisi juga berhasil menangkap Syarif terduga pelaku di Kampung Rangga Watu, Desa Golo Desat, Kecamatan Sananggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT pada April 2015.  Penembakan Kapolsek Ambalawi 2014 lalu terjadi saat korban ingin berangkat ke Polsek Ambalawi dengan luka tembak di bagian kepala tergeletak dengan kenderaannya. (asr)

Share

Video Popular