Keterangan foto: Tahukah apa yang Anda makan? 14 negara yang menolak seluruhnya atau sebagian program penanaman Bahan Pangan Transgenik: Eropa: Yunani, Swiss, Prancis, Irlandia, Luksemburg, Jerman, Austria, Hongaria, Bulgaria. Asia: Jepang, Thailand, India, Australia dan Selandia Baru. Indonesia termasuk yang mendukung. Data per 2013 (internet)

Oleh: Tian Yuan

Di sini ada satu masalah sederhana tapi tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang yakni: makanan yang kita konsumsi sekarang, mengapa bisa menjadi makanan manusia? Di alam semesta ini jenis rumput liar dan pepohonan jauh melebihi tanaman pangan. Mengapa tidak semua bisa menjadi makanan manusia?

Jawabannya sederhana: ini adalah hasil percobaan dan pencicipan oleh para leluhur manusia, yang diantaranya banyak yang mengalami kegagalan dan menjadi martir/ korban. Produk bahan pangan tradisional yang bisa dimakan dan tidak beracun serta tidak berefek samping telah terbukti selama ribuan tahun. Ini bukan ditentukan oleh seseorang atau suatu perusahaan atau suatu pemerintahan. Ketika para leluhur menjinakkan gandum liar, beras liar dan jagung liar, hal utama pasti bukan karena suatu Biro Pengawas Obat dan Makanan akan memberi ijin untuk bahan pangan baru. Sebaliknya, suatu bahan pangan baru meskipun telah mendapat ijin berbagai pemerintah, keamanannya belum tentu bisa sebanding dengan pengalaman pribadi para leluhur yang mencapai ribuan tahun itu.

Bahan pangan transgenik justru mendatangkan kekhawatiran ini: ijin dari pemerintah, apakah dapat menjamin makanan itu tidak mengandung racun dan efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang?

Ilmuwan, perusahaan bioteknologi, penjual benih, pemerintah, dan orang-orang berhati sesat yang berkoar-koar bahwa mereka bersama-sama menjamin produk pangan transgenik pasti aman dan tidak berbahaya bagi manusia maupun hewan. Tapi faktanya, satu hal yang mendorong kekompakan banyak pihak ini adalah kepentingan akan uang, dan yang menjadi korban mungkin adalah kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Suka atau tidak suka dengan makanan transgenic, kenyataannya adalah kita sudah tidak dapat lagi menghindar, bahkan produk pangan organik yang kita tanam sendiri pun mungkin telah terkontaminasi secara genetik.

Data statistic dari American Center for Food Safety, saat ini 94% kacang kedelai, 94% jagung dan 92% kapas di AS, berasal dari tanaman transgenic. Di bawah kekuasaan gabungan pemerintah, bisnis dan iptek, produk transgenik tidak memerlukan label khusus juga tidak memerlukan penjelasan khusus, sehingga kebanyakan orang bahkan tidak tahu menahu bahwa dirinya telah mengkonsumsi makanan transgenic. Hak kita untuk tidak memakan bahan pangan transgenic telah dirampas, hak untuk mengetahui fakta juga telah dirampas. Apakah bahan pangan transgenic benar-benar sangat unggul, aman, berproduktivitas tinggi, dan hemat tenaga kerja seperti yang digembar-gemborkan?

Faktanya adalah, meskipun bahan pangan transgenic belum berusia lama, namun dampak negatifnya telah mulai bermunculan, sangat sulit dibayangkan jika terus ditanam untuk jangka waktu panjang, dampak buruk apa yang akan timbul pada manusia.

Rumput Super dan Hama Super

Melindungi tanaman pertanian dan mencegah ancaman hama selama ini selalu menjadi belati bermata dua, adalah permainan kucing-kucingan. Menyemprot pestisida dan herbisida dapat mengendalikan serangan hama dan rumput liar. Namun di sisi lain, penggunaan pestisida dan herbisida secara luas justru telah mengakibatkan kekebalan hama dan rumput liar terhadap obat-obatan tersebut menjadi semakin kuat. Sehingga untuk tanaman konvensional, manusia harus terus menambah dosisnya, serta terus mengembangkan pestisida baru agar bisa mengatasi dampak negatif yang timbul akibat resistensi terhadap pestisida lama. Tanaman transgenik sendiri juga tidak terhindar dari hal ini. Tak hanya itu, tanaman transgenik telah membuat resistensi pestisida herbisida menjadi kompleks dan menciptakan sejumlah masalah lain yang tak terpecahkan.

Rumput super yang tahan herbisida juga terus bermunculan di lahan pertanian transgenic di AS. Seperti rumput yang resisten terhadap Glyphosate mencapai 10 jenis termasuk rumput ragweed besar, ragweed, punta kanada, rumput Johnson, bayam rumput dan pigweed, yang dapat mengakibatkan berkurangnya produktivitas jagung dan kapas.

Selama 10 tahun terakhir, penyebaran rumput liar tersebut di AS telah menyebar hingga mencapai 4,45 juta hektar secara terpisah di seluruh AS. Di banyak tempat petani terpaksa harus membasmi rumput dengan tenaga manusia. Bagi mereka, rumput super tersebut benar-benar monster yang diciptakan oleh para ilmuwan. Pada musim panas 2010, suatu laporan riset dari Arkansas University AS menyatakan, dari kol yang mereka petik secara acak dari seluruh AS, sekitar 80% resisten terhadap herbisida, diantaranya juga resisten terhadap glyphosate dan glufosinate. Berarti, jika Anda menanam tanaman yang non-transgenik di dekat tanaman transgenic, maka seluruh pertanian Anda tak akan terhindarkan dari terkontaminasi transgenic.

Pencemaran Lingkungan dan Karsinogenisitas

Politik, bisnis, dan iptek bersatu menjamin pada masyarakat bahwa glyphosate “aman.” Apa akibatnya?

Glyphosate telah masuk ke dalam tubuh manusia lewat berbagai jalan. Menurut riset oleh University of Leipzig Jerman pada Desember 2011 lalu, pada cairan urin warga kota Berlin yang diteliti didapati residu glyphosate mencapai 5 hingga 20 kali lipat lebih tinggi daripada standard residu yang diijinkan Uni Eropa pada air minum. Pada 20 Maret 2015, IARC yang berada di bawah naungan WHO mengeluarkan pernyataan bahwa sudah ada bukti glyphosate mungkin merupakan penyebab kanker non-Hodgkin Lymphoma. IARD jelaskan, sumber air di tanah dan di dekat lahan pertanian telah ditemukan residu glyphosate. Produk pertanian yang disemprot dengan glyphosate akan mengakibatkan glyphosate masuk ke dalam tubuh manusia dan dalam pakan ternak.

mRNA Eksogen Dapat Selaraskan Aktivitas Fisik

Masalah terbesar dari tanaman transgenic bukanlah pada risiko yang telah diketahui, melainkan adalah risiko yang belum diketahui manusia. Seperti anggapan masyarakat, protein, gula, dan RNA di dalam makanan akan terurai sepenuhya dalam sistem pencernaan tubuh manusia menjadi molekul kecil yang akan diserap tubuh. Oleh karena itu RNA dari mahluk hidup lain (termasuk tumbuhan) tidak mungkin terserap ke dalam darah dan organ tubuh. Akan tetapi, tim riset RRT membuktikan bahwa mikro RNA di dalam padi tidak hanya tidak dapat terdegradasi secara sempurna oleh pencernaan manusia, bahkan dapat masuk ke dalam cairan darah dan menimbulkan efek mengendalikan mekanisme fisiologis manusia. Jika mikro RNA pada tanaman transgenic masuk ke dalam tubuh dan mengacaukan mekanisme tubuh manusia, apa yang akan terjadi? Tidak ada yang tahu.

Sekarang kita hanya memahami satu elemen yakni mikro RNA, di dalam bahan pangan transgenic, masih ada berapa jenis lagi elemen penyelaras seperti mikro RNA? Tidak ada yang tahu.

Mikro RNA eksogen tersebut, apakah akan terakumulasi, apakah akan menurun pada generasi berikutnya? Tidak ada yang tahu. Inilah hal yang paling ditakuti dari bahan pangan transgenic ini.

Mengkonsumsi makanan transgenic, baik yang diberi ijin oleh pemerintah maupun karena tercemar secara genetik, konsumen telah menjadi kelinci percobaan bagi pemerintah, pengusaha, dan kalangan “iptek.” Tidak diragukan, ada orang yang secara membabi buta percaya pada “ilmu pengetahuan” yang percaya bahwa transgenic tidak berbahaya, sehingga tidak keberatan menjadi kelinci percobaan. Tapi lebih banyak lagi konsumen yang tidak tahu menahu, yang menjadi bahan percobaan. Jika Anda ragu-ragu terhadap makanan transgenic, apa yang harus Anda lakukan?

Sebagai pribadi, kita sebisa mungkin mengurangi mengkonsumsi makanan transgenic. Di segi hukum dan kebijakan, sedapat mungkin mendorong pembentukan hukum dan kebijakan untuk pelabelan pada produk-produk transgenic. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular