JAKARTA – Hingga saat ini, dari 1 Januari 2016 hingga 12 Februari 2016, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi bencana banjir, longsor dan puting beliung di 290 kabupaten/kota di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan 45 orang tewas, 48 orang luka-luka, warga mengungsi, dan ribuan rumah rusak.

“Ini adalah data sementara yang pasti akan meningkat karena pendataan saat darurat bencana seringkali belum dapat dilakukan dengan baik,” tulis Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya di Jakarta dikutip, Selasa (16/2/2016).

Data BNPB, selama 1 Januari hingga 12 Februari 2016 tersebut, terjadi 122 kejadian banjir melanda di 23 provinsi. 14 orang tewas, lebih dari 946 ribu jiwa mengungsi, 1.767 rumah rusak, puluhan ribu rumah terendam banjir dam 281 bangunan fasilitas umum rusak.

Bencana lainnya yakni longsor, terjadi 65 kali di 12 provinsi yang menyebabkan 29 orang tewas, 11 orang luka, 1.319 orang mengungsi dan 387 rumah rusak. Puting beliung juga terjadi 103 kali di 17 provinsi yang menyebabkan 2 orang tewas, 34 orang luka, 779 jiwa mengungsi dan 1.660 rumah rusak.

“Jelas disini bahwa bencana dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Sutopo.

Dia menambahkan, bencana dapat menghambat pembangunan, dan sebaliknya pembangunan dapat meningkatkan bencana jika tidak memperhatikan aspek-aspek pengurangan risiko bencana. Oleh karena itu, untuk antisipasi banjir, longsor dan putting beliung pemerintah dan pemda sudah melakukan langkah-langkah antisipasi sejak November 2015.

Banjir dan longsor adalah jenis bencana yang tergolong slow on set. Tidak terjadi tiba-tiba seperti gempabumi. Harusnya biasa diantisipasi. BNPB telah melakukan rapat koordinasi dengan berbagai kementerian, lembaga dan BPBD. Penanganan banjir dan longsor mengacu pada Instruksi Presiden No 4 tahun 2012 tentang Penanggulangan Bencana Banjir dan Tanah Longsor. Koordinasi dan pertemuan teknis antar Kementerian/Lembaga terus dilakukan.

Sosialisasi dilakukan pada tingkat pusat dan daerah-daerah potensial berisiko banjir dan longsor oleh instansi terkait. Begitu pula penyusunan rencana aksi terpadu nasional yang diikuti oleh penyusunan rencana kontinjensi yang lebih rinci. Di beberapa daerah pelatihan, gladi/simulasi dan Table Top Exercise serta gladi lapangan dilaksanakan untuk melatih kesiapiagaan dan gelar kemampuan aparat dan relawan penanggulangan bencana.

BNPB telah mendistribusikan dana siap pakai Rp 150 milyar yang diberikan kepada BPBD yang memiliki daerah rawan banjir dan longsor. Perkuatan logistik dan peralatan seperti kendaraan, tenda, makanan siap saji, obat-obatan, alat SAR, radio komunikasi, pembangunan pusat pengendali operasi, peralatan dapur umum dan lainnya dilakukan untuk memperkuat buffer stock di BPBD. Pelatihan dan peningkatan kapasitas juga dilakukan kepada personil-personil BPBD. (asr)

Share

Video Popular