Erabaru.net. Bagi pekerja lapangan, bertemu dengan atasan yang layak dan patut diikuti, mutlak adalah sebuah berkah besar.

Tidak bisa disangkal bahwa bagi sebuah tim, kemampuan atasan yang kompeten dan sistem yang ketat, tujuan yang jelas dan eksekusi yang efisien sangatlah penting.

Jacqueline Whitmore, pakar hubungan masyarakat dan etiket bisnis terkemuka pendiri dari sekolah The Protocol School of Palm Beach, Amerika Serikat, di situs majalah Entrepreneur, membagikan 7 kualitas kepribadian dari seorang pemimpin yang dipercaya, didukung dan dihormati.

Apabila sebagai bawahan, cobalah dengan artikel ini untuk menguji atasan yang memimpin Anda, ada berapa banyak “indeks kemampuannya untuk memimpin”? Apabila sebagai atasan, silakan berupaya giat menumbuhkan 7 karakter tersebut:

1. Jujur terhadap orang lain

Masyarakat saat ini penuh dengan skandal dan penipuan, taraf kepercayaan dilandaskan pada kebiasaan dan perilaku sehari-hari.

Apakah terlihat oleh orang lain ataukah tidak, dalam keadaan bagaimanapun, perlu tetap bersikap jujur dalam menghadapi orang (suatu masalah), sebagian besar perusahaan juga mengutamakan kejujuran sebagai pertimbangan penting dalam menyeleksi karyawan.

2. Komitmen

Ketika disaat seseorang tidak dapat mematuhi komitmen, akumulasi reputasinya dalam jangka panjang secara bertahap akan lenyap.

Setiap kali berkomitmen kepada seseorang atau terhadap suatu masalah, maka langsung berpeluang untuk meningkatkan indeks kepercayaan, tapi jika sebaliknya yang terjadi, maka juga ada kemungkinan indeks kepercayaan Anda merosot.

Dalam proses memimpin sebuah tim, atasan yang tepat pada janji dan perkataannya, baru dapat memperoleh imbalan dari bawahan berupa melakukan hal yang sama untuk menepati komitmennya.

Hal-hal yang sudah disepakati seperti: penambahan gaji, kesejahteraan, sumber daya atau bantuan, setelah ada pengingkaran, mungkin bawahan akan terlihat acuh, tapi sebenarnya kita semua tahu, kerusakan dan keretakan hubungan membutuhkan lebih banyak waktu dan upaya untuk memperbaikinya.

3. Keberanian untuk mengakui kesalahan

Melakukan kesalahan di tempat kerja adalah hal yang tidak bisa dihindari, jika toh sudah terjadi, manajer dan pengusaha yang sukses akan segera fokus pada pemecahan masalah bukannya hanya terus dibelit dan diganggu oleh kegagalan tersebut, mereka semua tahu hanya dengan menyelesaikan masalah secara cepat adalah satu-satunya solusi terbaik.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam kepemimpinan tim.

Jika karena masalah jaga image dari pimpinan atau karena faktor lain dan sengaja menghindari mengakui kesalahan yang telah diketahui semua orang dengan jelas, ini bukan hanya pukulan serius bagi spirit tim tapi juga perlu menghabiskan lebih banyak upaya untuk mengurai kesalahan ini, sangat mungkin sebuah langkah yang salah akan membuat semua langkah-langkah berikutnya menjadi salah.

Sebaliknya, jika atasan dengan berani mengakui kesalahannya, barulah ada kemungkinan untuk dapat mengatur kebijaksanaan tim untuk memperbaikinya, dan bersedia mengakui kesalahan diri sendiri, biasanya dilakukan oleh atasan yang bertanggungjawab dan berkompeten.

4. Tepat waktu

Ini tidak perlu dijelaskan panjang lebar.

Seorang atasan yang memimpin rapat sering terlambat dan kemajuan pekerjaan selalu ditunda-tunda, sulit untuk memperoleh label “terpercaya” dari bawahannya. Seorang atasan yang tidak dapat diandalkan, bagaimana mungkin membuat orang-orang mau bekerja keras bersama-sama Anda?

5. Tidak menghujat

Gaya berbicara seseorang, akan sangat memengaruhi penilaian orang lain terhadap dirinya.

Seorang atasan yang sering mengucapkan kata-kata kasar dan kotor, meskipun bukan dilontarkan terhadap setiap orang, tapi hal itu hanya menunjukkan bahwa orang ini tidak dewasa, tidak bisa bersabar, kurangnya kontrol diri dan kekurangan lainnya.

Semua kekurangan tersebut, sulit untuk mendapatkan respek dari anggota tim.

Dan yang lebih penting lagi, hal ini sangat mungkin menunjukkan bahwa orang ini adalah atasan yang sama sekali tidak menghormati orang lain.

6. Elegan dalam menangani konflik

Konflik di tempat kerja tidak bisa dihindari. Ketidaksepakatan dalam suatu tim adalah hal lumrah, jika dapat berdiri pada landasan berniat baik dan tidak menentang pribadi seseorang tapi hanya tidak setuju dengan cara kerjanya saja, konflik yang disebabkan berbagai perbedaan pendapat itu, kemungkinan akan dapat menghasilkan inovasi atau strategi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Seorang atasan bagaimana menangani konflik seperti ini, juga langsung menentukan keberhasilan atau kegagalan tim.

Sebuah tim yang tidak berani mengajukan keberatan kepada atasan, paling banter adalah sekelompok karyawan yang malas berpikir dan yang hanya menunggu perintah kerja dari atasannya.

Sebagai seorang atasan, selain harus dapat menangani konflik internal tim dengan elegan, begitu ada bawahan yang menentang pemikiran dan kebijakan Anda di depan umum, maka jangan buru-buru marah, jika pihak lain mengatakan yang lebih rasional, berpikir lebih utuh dan lebih menyeluruh, silakan baca lagi karakter nomer tiga di atas.

7. Jangan memutus hubungan kerja lama yang telah berjalan dengan baik

Jacqueline Whitmore pada tahun 1992, telah kehilangan pekerjaannya karena pengurangan karyawan, dengan demikian sejak itu sangat mudah kehilangan kontak dengan mantan rekan-rekan kerjanya, tetapi dia masih mempertahankan kontak yang baik dengan supervisornya.

Dua tahun kemudian, ketika dia pergi melamar di Breakers Hotel yang terletak di Palm Beach, sang supervisor membantunya menulis surat rekomendasi yang sangat baik, sehingga dia dengan lancar mendapatkan pekerjaan tersebut. (Hui/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular