Kemoterapi adalah pengobatan kanker paru-paru yang sangat umum dan efektif sebagai terapi pembantu, sekaligus juga merupakan cara pengobatan utama kanker paru-paru sel kecil. Banyak pasien takut dengan efek samping kemoterapi, tapi sebenarnya, efeknya terhadap jaringan normal itu akan pulih seusai menjalani proses kemoterapi, dan efeknya juga akan hilang secara bertahap, jadi pasien tidak perlu terlalu khawatir.

Efek samping dari kemoterapi

Kemungkinan efek samping dari kemoterapi itu tergantung pada jenis obat dan durasi pengobatan, serta respon tubuh pasien terhadap obat kemoterapi. Kemungkinan efek samping yang bisa terjadi antara lain, sering merasa lelah, lemah, mual, muntah, rambut rontok, menurunnya neutropenia (kekurangan sel darah putih) dan meningkatkan risiko infeksi, menurunnya eritropenia dan meningkatka risiko anemia, perubahan kulit dan kuku, gangguan saraf perifer yang memicu tangan dan kaki kesemutan, dan terasa seperti terbakar, lemah atau mati rasa. Selain itu, kemungkinan efek samping dari kemoterapi yang berlangsung lama antara lain, menopause, infertilitas, kerusakan pada fungsi jantung dan paru-paru, nekrosis dan kerapuhan pada tulang.

Penanganan atas reaksi negatif dari kemoterapi

Selama kemoterapi, pasien sebaiknya ikuti petunjuk dokter untuk secara berkala memeriksa dampak kemoterapi terhadap fungsi masing-masing anggota tubuh, sementara dokter akan segera menanganinya jika ada yang tidak wajar.

Memang ada beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan rambut rontok, tapi biasanya baru akan terjadi dalam dua – tiga minggu ke depan setelah proses pengobatan, namun, rambut akan tumbuh kembali setelah pengobatan, pasien bisa lebih dulu menyiapkan wig atau rambut palsu, topi, syal dan sebagainya, bahkan ada pasien yang mencukur rambutnya sejak menjalani kemoterapi, agar tidak memengaruhi perasaannya melihat rambutnya yang rontok.

Mual dan muntah adalah gejala yang umum, tapi sebagian besar bisa diatasi dengan obat-obatan. Selain itu, sebaiknya perbanyak lakukan aktivitas lain untuk mengalihkan perhatian selama menjalani kemoterapi. Hindari kontak dengan asap dari dapur dan aroma yang tajam, tarik napas dalam-dalam ketika merasa mual, ini adalah cara yang efektif untuk mengatasi efek samping dari rasa mual.

Kemoterapi untuk kanker pada sel darah atau tulang sumsum merupakan yang paling berisiko terhadap infeksi karena jenis kanker tersebut telah menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih. Jika mengalami gejala seperti demam, diare, muntah-muntah, sulit bernapas, sakit dada atau pendarahan, segera temui dokter.

Menurunnya kemampuan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah dapat menyebabkan kurangnya jumlah sel darah merah. Sel darah merah bertanggungjawab membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Karena kekurangan sel darah merah, jaringan tubuh jadi kekurangan oksigen, sehingga mudah menyebabkan gejala seperti kelelahan, sesak napas, pusing, lesu.

Jika jumlah platelet atau trombosit terlalu rendah, rentan terjadi pembekuan darah dan gejala pendarahan. Pasien sebaiknya memeriksakan darahnya secara berkala sesuai petunjuk dokter, dan amati juga kulit apakah ada gejala pembekuan darah, dokter biasanya akan melakukan terapi transfusi platelet.

Untuk mencegah turunnya kepadatan tulang dan osteoporosis akibat obat kemoterapi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter agar memenuhinya dengan vitamin D dan kalsium ; lakukan aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan durasi paparan sinar Matahari, ini bermanfaat bagi kulit untuk menghasilkan sejumlah besar vitamin D, dan mendorong penyerapan kalsium, dan meningkatkan kekuatan tulang.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular