Keterangan foto: Anggota militan IS. (foto internet)

Organisasi teroris Islamic State/ IS menggunakan daya pikat untuk menarik lebih banyak orang bergabung dengan mereka. Tetapi menghadapi serangan udara dari tentara koalisi yang dipimpin AS terhadap sumur dan tanki minyak, gudang penyimpanan uang di daerah Suriah dan Irak yang diduduki, mereka kini sudah menghadapi kesulitan keuangan. Untuk menanggulangi krisis keuangan ini IS melakukan pemotongan hingga separo gaji para anggotanya, selain itu juga mulai beralih untuk memungut uang tebusan tahanan atau sandera guna mengisi kas.

Daiily Mail mengungkapkan, pimpinan IS sudah berteriak miskin sejak Desember tahun lalu. Dengan alasan itu gaji anggotanya dipotong hingga separo, termasuk permen coklat yang dulunya diberikan secara cuma-cuma itu, sekarang sudah ditiadakan.

Daily Mail juga menyebutkan bahwa saat ini, kota Raqqa dapat dikatakan sedang mengalami inflasi yang sangat parah. Harga gas alam sudah naik 25 %, harga daging naik 70 %, gula pasir bahkan naik 1 kali lipat dari harga sebelumnya. Di samping itu, untuk mengimbangi kebutuhan pengeluaran, IS juga memungut 20 – 50 % pajak retribusi dari masyarakat dan memberlakukan kuota pemakaian listrik bagi warga.

Seorang penduduk setempat yang menggunakan nama samaran Abu Ahmad mengatakan, meskipun IS mengklaim sudah memiliki mata uang sendiri, tetapi semenjak 2 minggu lalu mereka sendiri menetapkan bahwa warga harus melunasi pembayaran pemakaian listrik bulanan, air dan lainnya dengan uang dollar AS. Untuk mengurang beban pengeluaran, uang makan hanya diberikan untuk 2 kali sehari. Hal itu membuat warga yang tinggal di Fallujah melarikan diri meskipun melanggar larangan. Namun jalan mereka untuk melarikan diri ke kota lain sudah diputus oleh anggota militan yang berjaga-jaga di perbatasan sana. Mereka baru diijinkan untuk lewat bila membayar uang senilai kira-kira Rp. 13 juta per orang. Bahkan tahanan atau sandera pun bisa memperoleh kebebasan setelah membayar 500 Dollar AS.

Ada pejabat Irak yang memperkirakan bahwa IS telah kehilangan pendapatan kira-kira senilai Rp. 132 miliar sebulan sejak sumber keuangan mereka disumbat. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular