Keterangan foto : Liu Meilian menuntut Jiang Zemin. (Yi Ling/ Epoch Times)

Oleh: Yi Ling

Suatu pagi di musim panas pada tahun 1992, di kota Fuzhou, sebuah kota pinggir pantai nan indah di Tiongkok selatan. Liu Meilian, peran utama dalam kisah ini terbangun dari mimpi, suasana dalam mimpi itu masih tampak nyata dibenaknya, dia merasa sedikit takut bercampur agak gembira.

”Suasana langit kelabu, saya datang berjalan-jalan di pinggir pantai sebelum air pasang. Mendadak, saya tergelincir, satu kaki saya terperosok sangat dalam ke dalam lumpur. Celaka! Sebentar lagi air akan pasang. Saya bergegas mencabut kaki yang berada dalam lumpur, mencabut dan mencabut, namun sekuat bagaimana pun, kaki tidak bisa dicabut keluar, dengan demikian posisi tubuh bagaikan busur menjadi kaku disana……..”

“Disamping saya ada orang yang berkata ‘Cepatlah panggil Shifu (dibaca: She Fu = sebutan untuk guru spiritual / guru silat) untuk menolong?”

“Shifu, dimana ada Shifu?” Saya sedang bertanya dalam hati.

“Lihat, itu Shifu datang.” Ada orang lain yang berkata demikian.

Belum selesai berbicara, saya melihat sesorang pria bertubuh tinggi besar dan berjubah kuning mendatangi saya dari sebelah kanan dan dari arah atas pundak kanan saya ia menjulurkan sebuah tangan, “Saya menolongmu, saya pasti menolongmu.” Lalu ia menarik dengan lembut, menarik saya ke atas tepi pantai.”

“Siapakah kau?” Saya bertanya.

“Siapa aku apakah engkau masih belum tahu?”

Kemudian Shifu itu memutar tubuh dan pergi. Saya mengikuti Shifu ini, berjalan menyusuri tangga batu pelabuhan, satu trap demi satu trap berjalan menuju atas. Setelah melewati sepotong jalan datar, lalu belok ke sebuah lorong, di ujung lorong terdapat sebuah rumah. Shifu ini mengangkat tangannya dan menunjuk, saya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Shifu dan disana tampak sebuah patung Buddha raksasa yang sedang duduk.

Saya bertanya “Apakah engkau Buddha?”

Shifu itu tidak menjawab, ia mengangkat tangan dan menunjuk lagi, saya melihat ke arah yang ia tunjuk. Itu adalah sebuah bangunan tinggi besar, di salah satu lantainya terdapat banyak sekali ruang kelas, di dalam kelas diduduki penuh oleh berbagai manusia dari segala umur, ada lelaki, ada perempuan, ada tua dan anak kecil, mereka setiap orang membawa buku dan sedang membaca….

”Kemudian saya melihat lagi, ada sebuah tangga berwarna kuning di bagian atas bangunan itu, tangga tersebut sangat panjang sekali, terus menembus langit….”

“Jika penyakit saya sembuh, saya pasti datang ke sini mencarimu.” Demikian kata saya kepada Shifu itu.

”Ceklik”, Shifu itu menghilang secepat jepretan kamera. Liu Meilian terperanjat, membuka mata dan melihat dirinya sedang berbaring di atas ranjang, semua benda di dalam kamar masih seperti semula. Ternyata dia telah bermimpi.

Namun yang membuat dia terheran adalah, terbangunnya kali ini sama sekali berbeda dari sebelumnya. Sejak 9 tahun yang lalu dia terjangkit satu penyakit aneh, setiap pagi terbangun dari tidur akan muncul beberapa kali “kedinginan,” namun terbangun kali ini dia merasakan hangat di sekujur tubuh, sangat nyaman, sepertinya mata juga bisa melihat sesuatu….

Terlilit Penyakit aneh

Sejak 1983, Liu Meilian yang baru saja berusia 41 tahun terjangkit satu penyakit aneh yakni “Takut dingin.” Takut dinginnya sampai-sampai tidak berani keluar rumah, pada cuaca panas pun dia membalut seluruh tubuhnya dengan erat, bahkan jari-jari tangan pun tidak berani dijulurkan keluar. Apalagi melihat air, mendengar suara angin juga takut, tubuh meringkuk kedinginan.

Penyakit aneh semacam itu membuat pori-pori kulit sekujur tubuhnya tersumbat, tidak berkeringat, seluruh tubuh membengkak, otot menjadi kaku seperti manusia sayur, anggota tubuh tidak lincah, sulit untuk digerakkan, tubuh menjadi gemuk karena bengkak dan berubah bentuk, leher membengkak dan kaku, bernafas pun sulit, tidak bisa digerakkan ke atas, bawah, kanan dan kiri, sepasang mata bengkak hampir tidak bisa dibuka. Seluruh tubuhnya ngilu tak tertahankan, duduk maupun berdiri tidak bisa tenang; siksaan penyakit ini membuatnya merasa lebih baik mati dari pada hidup.

Liu Meilian sebagai seorang kasir di sebuah perusahaan industri ringan, membutuhkan menagih bon kemana-mana. Penyakit aneh tersebut membuatnya sama sekali tidak bisa bekerja dan terpaksa diopname di rumah sakit (RS). Namun pihak RS juga tidak bisa mengetahui dia terjangkit penyakit apa, setelah opname selama setengah tahun dan sedikitpun tidak ada kemajuan. Ketika itu dia mulai mencari obat kemana-mana, RS besar maupun kecil di seantero provinsi Fujian hampir seluruhnya sudah dia kunjungi namun penyakitnya tetap seperti sediakala.

Demi meringankan beban penderitaan, dia membeli jahe dan kulit manis direbus dan dibuat untuk mencuci. Wajahnya digosok dengan arak merah. Kepalanya kedinginan sampai membeku terpaksa rambut pun dicukur habis. Sepanjang tahun kepalanya gundul dan setiap hari dicuci dengan obat cairan dan dibalut dengan ramuan herbal PTT. Selama beberapa tahun itu sudah menghabiskan 250 hingga 300 KG jahe mentah untuk mandi, tidak tahu berapa banyak arak merah yang dia habiskan.

Liu Meilian juga pergi ke kuil-kuil bersembahyang minta kesembuhan. Kuil dan biara besar maupun kecil yang berada di kota Fuzhou dan provinsi Fujian sudah dikunjungi namun semuanya sia-sia belaka.

Rontokan pasir 3 KG dan kerak kulit ½ KG per bulan

Kali ini setelah terbangun dari mimpi, Liu Meilian tidak hanya merasakan kehangatan di sekujur tubuh, dia juga merasakan di sekeliling alisnya terutama alis bagian atas sangat gatal seperti digigit nyamuk. Dia raba dengan tangan, mendapatkan benda yang halus seperti pasir, diraba lagi keluar pasir lagi, diraba terus pasir juga keluar terus. Awalnya warna pasir kuning beras kemudian berwarna hitam, kering dan keras, ada yang seperti pasir besi ada juga yang seperti serbuk gergajen. Terkadang keluar berurutan seperti sabuk yang halus lalu terurai seperti butiran pasir. Dia masukkan pasir hitam ke dalam air, airnya segera berubah menjadi warna merah gelap.

Selanjutnya dalam waktu hampir 1 bulan terus muncul berulang-ulang. Selesai alis bagian atas pindah ke pipi lalu ke bibir, hidung, dagu, leher, telinga, tubuh depan, punggung, bagian kaki. Seluruh tubuh dari kepala hingga kaki, keluar setahap demi setahap. Tempat dimana ada pasir yang rontok, kulit di bagian itu menjadi kerak seperti sisik ikan dan berwarna coklat dan putih lalu rontok.

Sejak kulit mengeluarkan pasir, otot yang tegang dan kaku segera menjadi kendur, pori-pori keringat sudah tembus dan bisa berkeringat, pembengkakan juga surut, tubuh pun terasa semakin nyaman.

Keterangan foto: Total pasir dan kerak kulit yang rontok dari tubuh Liu Meilian hampir mendekati 3 KG; kerak seperti sisik ikan yang rontok juga ada ½ KG lebih. (foto: Liu Meilian)

Liu Meilian mengumpulkan pasir dan kerak kulit yang rontok, 3 botol yang berkapasitas 1 kg hampir penuh semuanya. Kerak seperti sisik ikan yang rontok juga ada ½ kg lebih. Dia memperlihatkan benda-benda yang rontok itu kepada para dokter yang pernah memeriksanya, para dokter itu merasa tidak masuk akal. (lin/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular