Banyak penelitian mengkonfirmasikan, bahwa efek samping dari produk teknologi tinggi terhadap kesehatan manusia itu telah sangat jelas dampaknya, mulai dari gangguan tidur hingga turunnya daya ingat. (NICOLAS ASFOURI/AFP/Getty Images)

Era elektronik maupun teknologi digital sekarang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern, smartphone dan tablet PC berjalan beriringan seperti bayangan. Banyak penelitian telah mengkonfirmasikan, bahwa efek samping dari produk teknologi tinggi terhadap kesehatan manusia telah sangat jelas dampaknya, mulai dari gangguan tidur hingga turunnya daya ingat. Para ahli menegaskan, jika publik mengabaikan ancaman dari teknologi tinggi itu, maka jasmani dan rohani Anda hanya akan dikendalikan semaunya oleh benda-benda ini.

Sebuah survei yang diadakan Pew Research Center menemukan, bahwa 81 persen orang Amerika mengirim dan menerima pesan teks melalui ponsel, dan sekitar 67% pengguna ponsel akan selalu melihat/memeriksa ponselnya apakah ada pesan baru atau panggilan masuk, selain itu, ada 44% pengguna tidur bersama dengan ponselnya, karena mereka tidak ingin melewatkan setiap panggilan masuk apa pun di ponselnya, atau informasi terbaru dari pesan teks atau dari situs jejaring sosial

Ahli saraf Michael Merzenich mengatakan, bahwa otak manusia kini sedang “direkonstruksi”secara besar-besaran oleh teknologi tinggi. Internet membuat kita menjadi bodoh? Teknologi digital juga sedang mengubah otak kita, mengubah pemikiran dan perilaku kita dalam membaca.”

Sementara itu, Nicholas Carr Merzenich, penulis The Shallows: What The Internet Is Doing To Our Brains, juga memperingatkan bahwa teknologi membuat orang menjadi bodoh, demam teknologi saat ini tidak hanya mengubah kebiasaan (gaya) hidup dan pola komunikasi manusia, terlebih lagi mungkin berdampak “fatal” terhadap kecerdasan manusia.

Hasil penelitian Gary Small, seorang profesor psikiatri di Universitas of California, Los Angeles-UCLA, AS, merangkap direktur Memory dan Aging Research Center menemukan, bahwa internet memang dapat membuat otak mengalami perubahan drastis. Jika orang-orang menggunakan internet (berselancar) 5 jam, ini cukup untuk membangunkan area tidur korteks serebral.

Berikut adalah penggunaan smartphone dalam jangka waktu lama yang disinyalir dapat mengancam kesehatan.

Mengganggu tidur

Hasi penelitian menyebutkan, bahwa blu ray atau sinar biru yang dipancarkan dari smartphone dan PC tablet maupun produk teknologi tinggi lainnya, dapat menghambat tubuh mensekresi melatonin pada malam hari. Melatonin merupakan hormon yang disekresikan oleh kelenjar pineal di otak untuk membantu mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk siklus tidur. Melatonin akan mulai disekresikan saat mengatuk, dan mencapai puncaknya pada tengah malam

Menurut studi dari sumber jaringan online BerkeleyWellness.com University of California, bahwa kontak dengan cahaya, terutama sinar biru dapat menghambat melatonin, dan imbasnya dapat mengganggu pola tidur. Jika menjelang tidur masih juga mengutak-atik produk-produk elektronik, akan secara drastis menurunkan sekresi melatonin, menurunkan rasa kantuk, sulit tidur, dan memengaruhi kualitas tidur.

Daya ingat menurun

Ketika mesin pencari dapat menemukan informasi yang dibutuhkan setiap saat, sementara smartphone dapat menyimpan informasi, maka yang orang-orang akan bergantung pada perangkat-perangkat ini. Majalah Scientific American mengibaratkan internet itu bak “hard drive eksternal” otak orang dewasa, karena kita telah “mengalih dayakan/menyerahkan” kian banyak informasi kepadanya (perangkat elektronik-red).

Sebuah survei dari Trending Machine menunjukkan, bahwa generasi millennium yang tumbuh dalam jaringan (internet) jauh lebih mudah lupa dibanding dengan angkatan dari generasi orangtua mereka. Terapis pernikahan dan keluarga asal Amerika, Patricia Gutentag menyalahkan teknologi terkait generasi millennium yang mudah menjadi pelupa. Generasi muda era sekarang terlalu banyak menggunakan produk teknologi, ditambah lagi dengan kurangnya tidur, dimana semua ini merupakan faktor yang menyebabkan mereka menjadi pelupa, kata Patricia Gutentag.

Berdampak pada tulang belakang dan penglihatan

Nyeri atau sakit tulang dan otot adalah imbas yang sulit dihindarkan dari para kerah putih (pekerja kantoran) yang duduk di depan meja sepanjang hari. Karena kurangnya olahraga (gerak fisik) akan membuat energi otot yang membakar lemak itu berkurang, sehingga mudah menjadi gemuk. Duduk berkepanjangan atau duduk lama juga akan merusak organ-organ internal, selain itu duduk lama juga rentan menyebabkan laju aliran darah menjadi lambat, sehingga asam lemak lebih rentan menumpuk di jantung. Komunitas tekno yang kerap duduk lama adalah kelompok berisiko tinggi menderita “musculoskeletal disorders” atau gangguan otot rangka, diabetes, penyakit jantung, kanker dan risiko penyakit lainnya, demikian kata ara ahli.

Menatap layar komputer dalam waktu yang lama, mudah membuat mata lelah, mata kering, gangguan konsentrasi, imbasnya merusak penglihatan. Selain itu, kemungkinan juga disertai dengan gejala sakit kepala atau migrain.

Menjadi sarang bakteri

Jika tidak membersihkan secara berkala produk teknologi tinggi yang sehari-hari kita gunakan, akan rentan menjadi tempat pembiakan bakteri. Ahli mikrobiologi menemukan, bahwa bakteri pada keyboard komputer itu lima kali jauh lebih banyak dari kamar mandi, diantaranya termasuk E-coli (Escherichia coli), Stafilokokus dan bakteri lainnya yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Text thumb” (Jempol SMS)

Mereka yang terlalu sering mengutak-atik (menggeser layar) ponsel mudah menyebabkan kelelahan pada tulang dan otot-otot jari, inilah yang dimaksud “Jempol SMS (Text Thumb)”. Gejala ini tergolong repetitive strain injury (suatu istilah untuk cedera pada persendian akibat ketegangan pada otot atau saraf karena suatu aktivitas fisik tertentu yang dilakukan terus menerus dan dalam waktu yang lama), penderita akan merasa nyeri atau sakit pada jempol, dan dapat menyebar ke pergelangan lengan jika serius, bahkan ke seluruh lengan.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular