Rumah bordil di Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara

Tak mudah bagi pewarta untuk menelusuri seluk beluk kawasan Kalijodo pada hari biasanya. Kiranya operasi tilik sandi ala juru tulis jika dilakukan perlu perhitungan matang dengan segala resikonya. Papan nama para pemulung, pengamen dan peminta sumbangan tertera dilarang masuk pun sudah ada di pintu masuk. Para tukang pukul yang dikenal ‘anak macan’ menjadi palang pintu rumah pergumulan dosa dua anak manusia.

Tempat itu bernama kafe Sari Ayu dari sekian banyak kafe-kafe yang ada di kawasan Kalijodo. Tepatnya kafe ala rumahan terdiri dua lantai yang mana pada masa keemasannya sejak senja tiba dihiasai denduman musik. Bau minuman keras, pemuda-pemudi tak berikatan resmi memadu cinta terlarang dan sekian uang yang harus dibayar menjadi goresan kelam pengumbaran syahwat birahi pendosa.

Pantauan di lokasi, pagi itu papan nama kafe Sari Ayu sudah terjatuh dari gantungannya. Memang beberapa hari sebelumnya para pemilik sudah mengemasi barang-barang yang ingin diangkut sesudah mendapatkan surat peringatan untuk meninggalkan area yang akan dibangun kawasan ruang terbuka hijau (RTH) oleh Pemprov DKI Jakarta.

Di lantai satu sudah berada dalam kondisi berantakan, kursi-kursi dan meja sudah tak beraturan. Botol-botol minuman keras pun masih tersisa. Daftar nama dan foto-foto wanita pun masih tertinggal di sela-sela lantai-lantai, bar mini pun masih tertinggal. Bekas-bekas kabel listrik dan colokan untuk hingar bingar musik pun masih berbekas. Entah siapa mereka, apakah mereka korban perdagangan manusia yang sejatinya tak menginginkan profesi menemani pria, belum diketahui secara pasti.

Ketika menjejakkan kaki ke sebelah kanan saat memasuki sekitar area untuk mengambil dan menenggak seteguk atau dua air keras ditemani PSK dan mucikarinya, hanya sekitar lima atau enam langkah terdapat tangga yang hampir reyok. Tangga itu terbuat dari kayu, hanya perlu seorang diri untuk menuju lantai dua.

Setibanya di lantai dua, bau, pengap dan sesekali menutup hidung agar terhindar bau tak mengenakan. Di sana terdapat belasan bilik kamar 2×2 untuk pergumulan dosa yang dikutuk Tuhan dan keluhuran budi pekerti manusia.  Sampah berserakan, tas-tas, sepatu, pakaian dalam dan alat kontrasepsi memenuhi ruangan sempit itu.

Tak ada ventilasi pada ruangan itu, kasur dan bantal masih memenuhi dalam bilik rumah bordil itu. Suasana kamar dengan lemari kecil dan sejumlah barang pun masih tertinggal. Tentunya botol-botol minuman keras pun berserakan di dalam bilik cinta itu. Hanya terdapat seekor kucing berbulu putih masih terduduk lesu termangut-mangut menjadi saksi bisu pilunya kamar catatan pria hidung belang.

Catatan Kalijodo sudah ada sejak zaman Belanda. Namanya juga dikenal Kalijodo yakni untuk mencari cinta sesaat. Novel Ca-Bau-Kan yang ditulis oleh Remy Sylado, bercerita bahwa kawasan bantaran sungai itu diramaikan oleh para pedagang-pedagang Tionghoa. Disebutkan, para gadis pribumi menendangkan lagu-lagu klasik mandarin di atas perahu-perahu yang bersandar di pinggir kali. Tercatat, sejak abad 18 Kalijodo sudah dikenal sebagai rumah bordil. Disebutkan pada kawasan ini para pria Tionghoa mencari teman kencan atau membeli gundik khususnya sebelah Banjir Kanal Barat-Kali Angke.

Diketahui pada 1970 kawasan ini sudah menjadi area perjudian dan prostitusi. Apalagi ditambah dengan penutupan hiburan malam di kawasan Kramat Tunggak pada Desember 1999 silam. Hingga akhirnya pada 2002 terjadi pertikaian geng antar kubu preman di kawasan itu. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti yang saat itu menjabat Kapolsek Penjaringan mengetahui langsung tragedi berdarah pertikaian kelompok bugis dan Mandar.

Ya, pagi Sabtu (20/2/2016) ribuan aparat dari personil TNI dan Kepolisian bergerak maju menguasai kawasan prostitusi dan bar yang dikenal dengan Kalijodo dan terletak di perbatasan daerah Jakarta Barat dan Utara. Satu persatu bar, diskotek, rumah bordil dibongkar pintunya dan ditemukan barang haram yang memantik syahwat dan birahi disita. Senjata api, busur panah, senjata tajam yang diduga untu menyerang aparat saat penertiban total pada 29 Februari 2016 mendatang juga ditemukan.

Akhir cerita kegundahan nurani manusia tentang Kalijodo serta sejarahnya cukup sampai di sini, perlu diapresiasi ketegasan pejabat di era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Semoga tak ada kalijodo-kalijodo lainnya, walaupun sejarah sudah membukukan goresan pilu anak manusia tentang prostitusi sejak zaman purbakala. Menjadi insan menjunjung tinggi kesucian diri kiranya dambaan nurani terdalam anak manusia. (asr)

Share

Video Popular