Keterangan Foto: Jet tempur F22 adalah pesawat tempur tercanggih yang aktif di angkatan bersenjata saat ini, dengan radius operasi perang mencapai 2.177 kilometer serta memiliki kemampuan siluman (stealth) untuk menghindari radar musuh. (Getty Images)

Oleh: Chen Pokong

Korea Utara terus melakukan uji coba nuklir dan menembakkan rudal balistik antar benua, tidak ada lagi pihak yang beranggapan Kim Jong-Un yang terus menggila akan berhenti. Pihak terkait telah mulai mengambil tindakan antisipasi untuk menghadapi krisis ini.

Amerika Serikat telah menempatkan kekuatan dan perlengkapan militernya yang cukup untuk menebas leher dengan langsung ditujukan pada Kim Jong-Un (pemimpin Korut). Beberapa unit pesawat bomber B-52 dan 32 unit jet tempur siluman F-22, serta kapal selam bertenaga nuklir yang membawa rudal jelajah Tomahawk. Selain itu juga membawa 4500 personil tempur marinir dengan menggunakan kapal pendaratan siluman, sedang bergerak cepat menuju Korea Selatan. Kapal induk “Stennis” juga sedang berlayar ke Korsel untuk bergabung dengan kapal induk “Reagan” yang sedang berlabuh di basis militer di Yokosuka, Jepang, untuk bersama-sama melakukan latihan perang gabungan AS dan Korea Selatan bertopik “Key Decision” dan “Foal Eagle.” Tidak tertutup latihan militer akan menjadi perang sungguhan, dan menyerang Pyongyang (ibu kota Korut).

Kabut peperangan di Asia Timur Laut sangat pekat, situasi di Semenanjung Korea berubah mendadak. Sampai hari ini, posisi Pyongyang yang terkucil dan putus asa, merupakan akibat dari sikap Beijing yang sengaja mengumbar ulah Korut dan tidak melakukan apa pun.

Menjelang semakin dekatnya pasukan AS, dari pihak Tiongkok mulai bersikap lunak, diawali dengan ungkapan Menteri Luar Negeri yang menyatakan, “Kami mendukung tindakan DK PBB, dengan meloloskan resolusi baru untuk membuat Korut membayar lebih mahal.”

Jika ungkapan ini masih dianggap sedikit keras, surat kabar corong pemerintah “Global Post” yang mencerminkan inisiatif diplomatik pemerintah berturut-turut menerbitkan artikel dan editorial yang semakin jelas mengungkit masalah ini.

“Semakin lama semakin banyak warga RRT yang berubah pandangan terhadap Korea Utara,” dengan judul seperti ini Partai Komunis Tiongkok/ PKT mengakui bahwa 60% bahkan lebih banyak warga RRT beranggapan Korut adalah tetangga yang jahat dan aspirasi rakyat tidak dapat dijadikan tongkat komando untuk menentukan kebijakan diplomatik yang konkrit, akan tetapi aspirasi rakyat merupakan salah satu batu pondasi dalam menentukan strategi diplomatik Tiongkok saat ini.

“Jika terjadi perang di Semenanjung Korea, tak akan terjadi lagi ‘Membantu Korut Melawan AS’ (seperti pada Perang Korea 1950-1953),” dengan judul seperti ini berarti PKT menghujat Pyongyang. Korut sengaja memilih lokasi uji coba nuklir ini berdekatan dengan wilayah RRT dengan maksud terselubung, serta dengan tegas menyatakan sikap, “Korut harus menanggung akibatnya, dan menghilangkan akal bulus untuk menyandera RRT.” Pihak RRT tidak mungkin mau membantu Korut berperang lagi.

“Tiongkok perlu memperkuat penempatan pasukan di kawasan Timur Laut untuk mengantisipasi kekacauan di semenanjung,” dengan topik ini PKT menekankan “Tiongkok seharusnya melakukan persiapan yang ketat untuk menghadapi situasi terburuk yang bakal terjadi di semenanjung untuk melindungi kepentingan negara,” serta mengungkap, batasan bagi pihak RRT adalah: selama perang tidak melampaui Sungai Yalu (yang memisahkan territorial Korut dengan Tiongkok) dan tidak ada gelombang pengungsi menyerbu masuk, pihak RRT tidak ingin melanggar garis batas 38∘ dengan aksi militer melindungi Asia Timur Laut dari situasi sekarang. Ini mengisyaratkan, Jika garis batas ini tidak dilanggar, maka pihak RRT akan membiarkan aksi AS dan Korsel memenggal Korut.

Diperkirakan jika itu terjadi, maka pihak RRT akan secara simbolis mengerahkan pasukan melewati garis perbatasan RRT-Korut dengan posisi saling berhadapan dengan pasukan AS dan Korsel, tapi bukan untuk melancarkan serangan, melainkan untuk memastikan agar pemerintahan baru yang dibentuk oleh AS dan Korsel tidak akan membahayakan pihak RRT, lalu pasukan akan ditarik kembali.

Faktor penyebab lunaknya pernyataan pihak RRT adalah AS dan Korsel berencana menempatkan sistem anti-rudal THAAD di Korea Selatan. Proyek ini telah tertunda selama 10 tahun akibat ditentang oleh pihak Beijing, dan sekarang diputuskan untuk dilaksanakan karena Korsel berang PKT tidak melakukan apa-apa terhadap korut. Dengan luas jangkauan sistem tersebut, selain dapat memonitor rudal Korut juga dapat memonitor rudal RRT termasuk rudal yang ditempatkan di provinsi Fujian yang diarahkan ke Taiwan. PKT terkejut, tindakan AS dan Korsel ini tidak hanya mengancam rezim Pyongyang, namun sekaligus juga mengancam rezim Beijing.

Gelar tata letak untuk “memenggal Kim Jong-Un” pada dasarnya telah terbentuk. Presiden Korsel menyuarakan dengan keras: “Rezim Korut di ambang keruntuhan.” Diktator Korut Kim Jong-Un yang terus membuat onar ini di luar dugaan tidak menghadiri upacara penting peringatan hari kelahiran ayahnya Kim Jong-Il. Hal ini disimpulkan bahwa Kim Jong-Un sedang menghindar dari serangan pasukan AS. Pemikiran selanjutnya adalah, apakah AS benar-benar akan bertindak? Atau, hanya menggertak saja?

Jika bertindak, maka AS harus mencapai kesepakatan dengan Rusia dan RRT. Kesepakatan dengan Rusia mungkin mencakup kerjasama untuk mengatasi masalah Syria, mengakhiri sanksi Barat karena invasi Rusia terhadap Ukraina. Kesepakatan dengan RRT mungkin mencakup menghentikan proyek sistem anti-rudal THAAD di Korsel, menyetujui membiarkan pihak RRT untuk terus berperan penting setelah menggeser rezim Pyongyang, dan menjaga pengaruh strategis Korut selama ini. Seharusnya, kesepakatan terkait sedang dibicarakan dalam perundingan rahasia.

Jika bertindak, AS juga harus memperhitungkan dengan cermat, bagaimana “memenggal Kim Jong-Un” dengan cepat dan tepat, bagaiamana mematikan senjata dan perlengkapan nuklir Korut dengan akurat, selain untuk mencegah Pyongyang lebih dulu beraksi menimbulkan bencana dan sebelum Kim Jong-Un sempat menggila, serta harus mencegah dampak serius seperti ledakan dan pencemaran nuklir. Intinya, menghapus ancaman nuklir secara presisi belum pernah dilakukan sebelumnya. Tapi cepat atau lambat, pasti akan ada pertama kali. Lebih baik dimulai sedini mungkin.

Selama Perang Dingin, Uni Soviet pernah menyatakan pada AS untuk melakukan serangan pembedahan terhadap RRT guna menyingkirkan senjata dan perlengkapan nuklir RRT secara presisi. Namun AS tidak setuju, sebaliknya hal itu bahkan dibocorkan pada RRT agar RRT bersiaga. Dan sekarang gudang nuklir RRT telah begitu besar, sudah sulit untuk dimusnahkan begitu saja.

Jika tidak bertindak dan hanya bersikap mengancam secara militer, maka sasaran strategis AS ada 3 yakni: pertama, pasukan AS yang telah tiba di depan Korut akan memaksa Korut melepaskan nuklir untuk menghindari bencana kehancuran rezimnya. Tapi akankah Kim Jong-Un melunak?

Ini adalah suatu tanda tanya besar, meskipun melunak mungkin hanya untuk sementara, tidak tertutup kemungkinan rencana nuklir akan diaktifkan kembali di kemudian hari. Kedua, memaksa RRT menghadapi masalah nuklir Korut dengan serius dan benar-benar memberlakukan sanksi terhadap Pyongyang. Tapi sasaran ini terlalu rendah. Ketiga, membangun sistem anti-rudal THAAD, yang seolah sasarannya adalah Korut namun sebenarnya diarahkan ke RRT.

Saat sekarang ini, aksi PKT di Laut Selatan memperburuk keadaan, baru-baru ini tiba-tiba PKT menempatkan rudal darat ke udara Red Flag-9 di Pulau Yongxing yang sangat memprovokasi negara tetangganya. Maksud PKT adalah memanfaatkan kesibukan aksi AS di Semenanjung Korea, mungkin akan mengabaikan kondisi di Laut Selatan, maka PKT memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Di sisi lain, juga bisa dianggap sebagai cekal PKT terhadap AS, memperbesar tekanan terhadap pasukan AS yang sedang beraksi di Semenanjung Korea, atau memperbesar daya tawarnya dengan AS.

Satu kekhususan rezim diktator adalah membuat masalah, bukan menyelesaikan masalah. Dan harus terus menciptakan masalah dan terus melakukan pemerasan. Pyongyang melakukan pemerasan secara terbuka, sedangkan pemerasan oleh PKT secara terselubung. Selalu membidik peluang, menciptakan insiden militer di Laut Selatan dan semakin membuat runyam masalah Laut Selatan, selain berniat ber-hegemoni di Laut Selatan, ini juga merupakan salah satu cara pemerasan ala Beijing. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular