Keterangan gambar: Foto atmosfer Bumi yang diposting Kelly di Twitter menunjukkan sebagian besar wilayah Asia yang tercemar polusi udara. Citra satelit menujukkan polusi di Tiongkok. (Internet)

Atmosfer adalah salah satu dari lingkungan kehidupan umat manusia. Menurut pengamatan astronot Scott Kelly dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, bahwa atmosfer bumi “terlihat sangat rapuh, dan tampaknya sedang sakit. Sejauh ini, Kelly adalah astronot AS yang paling lama masa tinggalnya di ruang angkasa. Ia telah mengambang /menghabiskan waktunya di atas bumi selama lebih dari 500 hari.

“Melihat bumi dari luar angkasa, kita bisa sepenuhnya mengetahui betapa rapuhnya atmosfer tempat keberlangsungan hidup umat manusia, dan betapa parahnya polusi yang menyelimuti Bumi,” kata Kelly.

Dari ruang angkasa tampak terlihat daerah-daerah yang ‘sakit’

“Melihat Bumi dari ruang angkasa, bisa kita saksikan beberapa bagian wilayah Asia dan Amerika Latin tertutup kabut polusi dan terlihat sakit, atmosfernya sangat tipis. Ketika memandang ke bawah melihat atmosfer, saya tidak bisa langsung mengatakan bagian dari Bumi ini dalam kondisi sehat, ia (atmosfer Bumi-red) terlihat sangat rapuh dan tipis seperti sebuah film, jadi benar-benar perlu kita rawat dan lindungi. Sementara itu, di sejumlah wilayah yang tak terduga juga terjadi fenomena cuaca seperti badai tropis,” kata Kelly.

Saking tipisnya (Atmosfer Bumi) bahkan lebih serius daripada kulit apel

Beberapa dekade lalu, ketika untuk pertama kalinya menyaksikan Bumi dari ruang angkasa, astronot asal Jerman Dr. Ulf Merbold terkejut dan mengatakan, “Sepanjang hidup saya ini adalah kali pertamanya saya melihat cakrawala seperti sebidang garis busur yang melengkung, selapisan lingkaran cahaya biru pekat yang tipis di atasnya itulah yang kita sebut atmosfer. Jelas, itu bukan udara laut yang pernah saya pelajari. Saya terkejut menyaksikan fisiknya (kondisi atmosfer-red) yang begitu tipis dan rapuh.”

Dr. Jeffrey Goldstein, astrofisikawan dari US National Center for Earth and Space Science Education pernah menjelaskan bahwa secara perbandingan antara atmosfer dan Bumi, tipisnya atmosfer bahkan jauh lebih serius dari (kulit) apel. Di sekeliling planet hanya ada selapisan cadar yang tipis, tetapi menopang semua kehidupan di atas Bumi.

Polusi telah memasuki rantai pasokan makanan di Tiongkok

Bagi ekonomi Tiongkok dengan skala US$ 11 Triliun, biaya yang harus ditanggung karena polusi udara itu jelas sangat mahal. RAND Corporation (RAND) memperkirakan, bahwa polusi udara menggerogoti 6.5% GDP Tiongkok per tahun, ini setara dengan US$ 700 miliar. Biaya-biaya ini terutama disebabkan oleh hilangnya produktivitas, karena pabrik terpaksa menutup usahanya oleh karena cuaca buruk dan polusi udara yang parah, untuk menghindari kabut yang lebih fatal.

“Cuti sakit dan perawatan medis membuat ekonomi perkotaan menderita kerugian. Polusi yang parah erat kaitannya dengan sejumlah penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan paru-paru, dimana pengobatan untuk penyakit ini tergolong sangat mahal. Selain itu, polusi udara juga berdampak pada pariwisata dan rekreasi di luar rumah,” kata Anders Hove, wakil direktur di Paulson Institute, Chicago, Amerika Serikat.

Menurut Hove, tanaman (sawah dan ladang) di Tiongkok juga rusak parah. Sebanyak 20% lahan di Tiongkok juga terkontaminasi atau tercemar oleh polusi. Provinsi Hunan, yang merupakan ladang padi terbesar di Tiongkok, lahannya terkontaminasi oleh logam berat dari pabrik. Dan pencemaran ini telah merasuk ke dalam rantai pasokan makanan di Tiongkok. (secretchina/joni/rmat)

Share

Video Popular