Keterangan foto: Gempa di selatan Taiwan menyebabkan seratus-an orang tewas, Istana Kepresidenan Taiwan dan instansi terkait lainnya mengibarkan bendera setengah tiang pada tanggal 15 Februari lalu sebagai ungkapan belasungkawa terhadap para korban. (Central News Agency)

Oleh: Chen Simin

Menurut berita, hari pertama kembali bekerja setelah liburan Tahun Baru Imlek di Taiwan yakni 15 Februari 2016 lalu, mulai dari Istana Kepresidenan Taiwan, hingga berbagai departemen pemerintahan, instansi administratif dan sekolah-sekolah, seluruh Taiwan mengibarkan bendera setengah tiang, sebagai ungkapan belasungkawa terdalam bagi para korban gempa di selatan Taiwan. Hal ini membuat orang melihat betapa pemerintahan Taiwan sangat menghargai dan menghormati setiap kehidupan. Bersamaan itu pula, dalam hal evakuasi bencana antar kedua daratan, upaya pemerintah Taiwan tersebut acap kali dijadikan perbandingan dengan rezim Partai Komunis Tiongkok/ PKT di daratan seberang.

Kali ini selatan Taiwan diguncang gempa dahsyat pada 6 Februari 2016 lalu. Kerusakan akibat gempa sangat parah, terutama Gedung Weiguan Tainan roboh, total 116 korban tewas dan 500 lainnya luka-luka. Bantuan pemerintah dan masyarakat setelah gempa, termasuk tim SAR garis terdepan dan tim pembersih di belakang, menghabiskan waktu 8 hari untuk menyelamatkan seluruh keluarga yang kehilangan kontak.

Masih segar dalam ingatan tiga bencana di Tiongkok yang terjadi tahun lalu, peristiwa tenggelamnya kapal di Sungai Yangtze pada Juni, ledakan Tianjin pada Agustus, longsor di Shenzhen pada Desember. Hingga saat ini, peristiwa Tianjin dan Shenzhen dilaporkan masih ada 16 orang yang hilang dan belum ditemukan. Selain itu, jumlah korban tewas yang dilaporkan secara resmi, baik longsor di Shenzhen 69 korban tewas ditambahkan 33 gedung roboh, atau 165 korban tewas pada ledakan Tianjin, atau pun 442 korban tewas pada tenggelamnya kapal di Sungai Yangtze, tidak ada seorang pun korban yang mendapat penghormatan bendera setengah tiang.

Tragedi tidak dinilai dari besar kecilnya, setiap kehidupan sangat berharga, mengibarkan bendera setengah tiang adalah sikap penghormatan tertinggi yang bisa dilakukan oleh pemerintahan suatu negara bagi korban. Bendera lima bintang PKT, jika tidak dikibarkan bagi para korban tewas, lalu untuk siapa dikibarkan?

Menurut data jurnalis, sejak 1949 hingga sekarang, bendera lima bintang di Lapangan Tiananmen pernah dikibarkan setengah tiang sebanyak 53 kali, di antaranya 32 kali dikibarkan bagi para sepuh PKT, 17 kali bagi tokoh politik luar negeri, 1 kali korban ledakan di depan Kedubes Republik Federal Yugoslavia, 3 kali bagi korban gempa Wenchuan, serta gempa Yushu, dan longsor Zhouqu.

Dengan kata lain, selama hampir 70 tahun mengibarkan 53 kali bendera setengah tiang, hanya 3 kali dikibarkan bagi rakyatnya sendiri. Itu pun dilakukan setelah adanya desakan dari dunia internasional. Selama 70 tahun ini bencana besar terus silih berganti, yang terjadi lama tidak disebut lagi disini. Bencana 20 tahun terakhir, mulai dari kebakaran Karamay, hingga kebakaran Shanghai dan Beijing, kecelakaan kereta api Wenzhou, kecelakaan bus sekolah di berbagai daerah, bus terbakar, hingga tragedi Yangtze, Tianjin, Shenzhen pada 2015 yang tidak ada unsur alam dan murni keteledoran manusia. Jumlah korban rakyat Tiongkok seluruh bencana di atas, ternyata lebih tidak berarti dibandingkan kematian seorang pemimpin Kambodia yakni Sihanouk. Rakyat RRT sadar namun tidak mengharapkannya, bagi siapa pun PKT mengibarkan bendera setengah tiang, pasti terdapat unsur politik di baliknya.

Jadi pada saat dibutuhkan, PKT akan bersandiwara, mengibarkan bendera setengah tiang atau meniru walikota Tainan tidak tidur selama 5 hari berturut-turut, sampai kedua mata penuh serat darah dan sol sepatunya sobek karena aus. Tapi dengan karakter yang sangat berbeda, pemerintah Taiwan menghormati kehidupan dari lubuk hati, karena nyawa manusia sangat berharga dan merupakan takdir Langit. Langit disini bukan berarti langit biru, melainkan penghormatan dan keyakinan terhadap Penguasa Langit pencipta alam semesta berikut seisinya dalam tradisi kebudayaan Tiongkok. Ini adalah hal yang selamanya tidak mungkin bisa dilakukan oleh PKT yang atheis dan menentang Sang Pencipta.

Berharga atau tidaknya nyawa manusia ditentukan berdasarkan kebutuhan politik PKT. Sejarah pemerintahan PKT pada dasarnya adalah sejarah pembunuhan, di dalam buku “9 Komentar” dijelaskan secara menyeluruh, begitu berkuasa PKT langsung mengacungkan golok algojo, perintah pertama Mao Zedong adalah menangkap kaum anti-revolusi dan mengeksekusi mereka. Jika dihitung dengan jumlah penduduk RRT sebanyak 600 juta jiwa pada masa itu, perintah Mao tersebut sedikitnya telah memenggal kepala 600.000 orang. Di masa Deng Xiaoping sebelum membantai para pelajar di Lapangan Tiananmen pada 1989, Deng mengatakan, “Bunuh 200.000 orang, maka kita akan dapatkan ketentraman selama 20 tahun.” Hal yang dimaksud ketentraman disini bukan ketentraman masyarakat, melainkan kestabilan kekuasaan rezim PKT.

Sampai di masa Jiang Zemin yang berkuasa dengan kaki menginjak bercak darah Lapangan Tiananmen, giliran praktisi Falun Gong yang ditindas, dengan cara “merusak nama baik, menghancurkan sumber pendapatannya, dan pelenyapan secara fisik, membunuh sesuai kebutuhan PKT seperti ini bahkan dimanfaatkan optimal oleh Jiang Zemin dengan melakukan praktik “perampasan organ tubuh secara hidup-hidup” terhadap para praktisi Falun Gong. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular