Patung-patung ikonik Moai yang misterius, yang banyak ditemukan di Pulau Paskah. (BJØRN CHRISTIANTØRRISSEN VIA CREATIVECOMMONS)

Peradaban kuno yang menghuni Pulau Paskah ternyata tidak dihancurkan oleh perang, menurut sebuah penelitian terbaru, yang bertentangan dengan apa yang dipercayai oleh sebagian peneliti.

Para peneliti dari Universitas Binghamton, New York, AS, menganalisis pisau tombak yang terbuat dari batu obsidian, yang dikenal sebagai mata’a, yang tersebar di seluruh pulau. Mereka menemukan bahwa mata’a itu tidak digunakan untuk kekerasan, berdasarkan bentuknya yang tidak konsisten dan berbeda dari senjata lainnya yang pernah ditemukan. Mata’a lebih mungkin merupakan alat yang berguna bagi semua tujuan, menurut temuan studi itu.

“Kami menemukan bahwa ketika Anda melihat bentuknya, mereka sama sekali tidak terlihat seperti senjata,” ujar Carl Lipo, profesor antropologi di Binghamton University, dalam sebuah pernyataan.

Teori tradisional masyarakat Rapa Nui yang mendiami pulau tersebut selama ratusan tahun adalah bahwa mereka kehabisan sumber daya di pulau, yang mengakibatkan peperangan, yang berimbas pada kematian mereka semua. Yang mendukung teori ini adalah ribuan obsidian, objek segitiga yang ditemukan di permukaan pulau, yang disebut mata’a. Karena jumlah besar mereka dan fakta bahwa mereka terbuat dari kaca yang tajam, banyak yang berpikir bahwa mereka adalah senjata perang.

Namun, Lipo menemukan bahwa mata’a berbeda dari senjata tradisional lainnya, dan timnya mencatat bahwa mereka akan menjadi senjata yang buruk.

“Ketika Anda bisa membandingkannya dengan senjata Eropa atau senjata yang ditemukan di mana saja di seluruh dunia, yang benar-benar digunakan untuk perang, bentuk mereka sangat sistematis. Mereka harus melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik. Yang terutama adalah harus sangat mematikan,” papar Lipo.

Ia menambahkan: “Anda selalu dapat menggunakan sesuatu sebagai tombak. Apa pun yang Anda miliki dapat menjadi senjata. Tetapi di bawah kondisi perang, senjata akan memiliki karakteristik kinerja. Dan mereka akan sangat hati-hati dibentuk untuk tujuan itu karena itu sangat penting. Anda memang dapat memotong seseorang (dengan mata’a), tetapi mereka pasti tidak akan mematikan dengan cara apa pun.”

Lipo kemudian mengatakan bahwa ide penduduk Pulau Paskah membunuh satu sama lain sebelum orang Eropa tiba di sana itu sebenarnya adalah sebuah interpretasi orang-orang Eropa berdasarkan sebuah catatan, dan itu bukan peristiwa arkeologi yang sebenarnya.

“Apa yang orang-orang sebelumnya pikirkan tentang pulau ini adalah pulau bencana dan kehancuran, tidak benar dalam artian pra-sejarah. Populasi di pulau ini sangat sukses dan hidup berkelanjutan sampai terjadi kontak dengan orang-orang Eropa,” katanya.

Dan mata’a, menurut Lipo, sebenarnya merupakan alat pertanian dan budidaya.

“Kami sudah berusaha untuk fokus pada sedikit bukti individual yang mendukung narasi kehancuran untuk menunjukkan bahwa benar-benar tidak ada dukungan apa pun untuk cerita itu,” katanya.

Eropa tiba di pulau terpencil di Pasifik Selatan itu pada 1722, yang pada saat itu hanya memiliki sekitar 2.000 sampai 3.000 orang penduduk. Penyakit dari Eropa dan perbudakan ke Peru menghancurkan penduduk Pulau Paskah, mengurangi jumlah penduduk secara drastis hingga ke angka 111 pada 1877.

Pulau yang sekarang menjadi wilayah Chile itu, dihuni oleh 5.800 penduduk, sekitar 60 persen di antaranya adalah keturunan dari Rapa Nui.

Masyarakat Rapa Nui diyakini telah menetap di Pulau Paskah, yang berasal dari pulau-pulau Polinesia lainnya, antara tahun 700 hingga 1100.

Patung-patung ikonik moai yang diyakini telah didirikan antara tahun 1250 dan 1500. Patung Moai tertinggi yang didirikan berukuran tinggi 10 meter dan berat 82 ton. (Epochtimes/Osc/Yant)

Share

Video Popular