Keterangan gambar: Ilustrasi ICBC (Industrial Commerciall Bank of China). (internet)

Oleh Zhuang Zhengming

Baru-baru ini media Korea Selatan melaporkan bahwa sejumlah Bank komersial Tiongkok telah membekukan rekening milik Korea Utara. Pengujian senjata nuklir dan peluncuran roket yang dilakukan Korea Utara memaksa AS, Jepang dan Korea Selatan mengumumkan sanksi secara berturut. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi juga mengatakan, Korea Utara harus membayat harga yang mahal atas perbuatannya.

Reuters mengutip berita dari media Korea Selatan Donga pada Senin (22/2/2016) memberitakan bahwa sejumlah Bank komersial Tiongkok telah membekukan rekening milik Korea Utara, di antara Bank Utama Tiongkok itu termasuk ICBC (Industrial Commerciall Bank of China).

Menurut informasi yang disampaikan oleh seorang staf Bank ICBC cabang kota Dandong yang namanya minta tidak disebutkan kepada media Donga bahwa, sejak Desember tahun lalu, pihak ICBC sudah mulai membekukan rekening pribadi milik orang-orang Korea Utara. Menghentikan tabungan dan transaksi bisnis terkait dengan mereka.

“Tidak mendengar kabar mengapa pihak perusahaan mengambil tindakan demikian, tetapi, tampaknya berkaitan dengan hubungan bilateral yang memburuk belakangan ini,” kata staf itu.

Reuters mencoba untuk memperoleh konfirmasi dari manajemen ICBC tetapi tidak direspon. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying dalam koonperensi regular pada hari yang sama mengaku tidak mengetahui masalah tersebut.

Korea Utara melakukan uji coba nukklir keempat pada 6 Januari 2016 lalu dan meluncurkan roket pada 7 Februari 2016. AS, Jepang dan Korea Selatan dan beberapa negara lain telah mengutuk tindakan itu. Bahkan mengeluarkan sanksi kepada Korea Utara. Melalui rapat kabinet Jepang pada 19 Februari 2016 mengesahkan sejumlah sanksi sepihak kepada Korea Utara.

Presiden AS Obama pada 18 Februari 2016 menandatangani keputusan untuk menerapkan sanksi lebih keras kepada Korea Utara. Sanksi tersebut selain berlaku untuk yang berkaitan dengan pelanggaran HAM, cybercrime, penyelundupan barang mewah, senjata pemusnah untuk keperluan militer yang dilakukan melalui pribadi-pribadi Korea Utara, juga meliputi pembekuan kekayaan, larangan masuk negara AS, pemutusan kontrak pemerintah dan sebagainya.

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye pada 16 Februari 2016 di depan Kongres memperingatkan Kim Jong-un.

“Senjata nuklir hanya dapat mempercepat keruntuhan rezim Korea Utara,” kata Park.

2 hari setelah peluncuran roket, Korea Selatan langsung memutuskan menghentikan sementara program pembangunan kawasan industri Kaesong.

Wang Yi pada 12 Februari 2016 saat pertemuan keamanan internasional di Munich kepada wartawan Reuters mengatakan bahwa Tiongkok mendukung Dewan Keamanan PBB untuk memberikan sanksi lebih keras kepada Korea Utara, agar mereka “membayar mahal” sebagai tanggung jawab atas perbuatannya.

Xi Jinping pada 5 Februari 2016 melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Obama dan Park Geun-hye. Kemudian Gedung Putih merilis pernyataan bahwa AS dan Tiongkok sepakat menganggap uji coba nuklir Korea Utara sebagai suatu tindakan provokatif yang harus ditanggapi dengan tegas.

Rezim keluarga Kim Korea Utara selama ini beerada di bawah kendali kelompok Jiang Zemin. Mereka-mereka seperti Zhang Dejiang, Liu Yunshan, Zhang Gaoli, Zeng Qinghong, Zhou Yongkang dan antek lainnya menjalin hubungan dekat dengan keluarga Kim penguasa Korea Utara itu. Namun, rezim Xi Jinping mulai menjaga jarak dengan mereka setelah berkuasa. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular