Sejak munculnya konsep “pemanasan global” di dunia ini, tak sedikit “pakar klimatologi” membuat berbagai ramalan yang mengejutkan. Ada orang yang mungkin terlalu yakin pada ilmu klimatologi, ada juga yang berniat lain menjadikan “pemanasan global” sebagai agama dan tidak mengijinkan orang lain untuk menantangnya.

Berikut adalah paparan “ramalan ilmiah” yang telah terbukti meleset.

Tahun 1995, pemanasan global akan picu kemarau panjang di Benua Amerika Utara dan Euro-Asia

Tahun 1990, dosen Princeton University, Michael Oppenheimer menulis sebuah buku berjudul Dead Heat. Buku itu menerangkan bahwa pemanasan global yang timbul akibat efek rumah kaca akan menyebabkan Benua Amerika Utara dan Euro- Asia dilanda “kekeringan parah” di tahun 1995 dan terjadi kekacauan akibat kekurangan pangan. Buku itu juga mengatakan, Platte River di Negara Bagian Nebraska AS akan kering total di tahun 1996; lapisan top soil pada padang rumput di Amerika Tengah akan terkikis mengakibatkan badai gelap yang menutup langit dan Matahari sehingga jalan tol antar negara bagian tidak bisa digunakan, bahkan mengakibatkan sistem komputer padam. Oppenheimer meramalkan, pada saat itu polisi Meksiko akan mengerahkan upaya menangkap para warga AS yang ingin masuk ke Meksiko untuk bercocok tanam.

Jika melihat kondisi sekarang, buku Oppenheimer bukan lagi karya tulis ilmiah, melainkan sebuah buku yang sangat ironis dan novel fiksi yang dystopia. Sekarang Platte River masih mengalir seperti sedia kala. Yang dikhawatirkan warga di kedua sisi sungai bukan keringnya sungai, melainkan peringatan banjir setiap pergantian musim dingin ke musim semi. Di perbatasan AS dan Meksiko, setiap tahunnya masih didominasi oleh ribuan imigran gelap dari Meksiko yang menyeberang masuk ke AS untuk mencari pekerjaan.

Tahun 2000 pemanasan global sebabkan rata-rata suhu dunia naik 2∘Celcius

Tahun 1986, peneliti NASA James Hansen bersaksi di depan Dewan Kongres, efek rumah kaca menyebabkan kenaikan suhu udara Bumi rata-rata 20 Celcius dalam tempo 20 tahun, dan akan menjadi suhu rata-rata tertinggi dalam 100.000 tahun terakhir. Sejak saat itu “efek rumah kaca” dan “pemanasan global” pun menjadi istilah ilmiah yang sangat trendi di setiap keluarga. Tidak berlebihan jika ada orang yang menyebut Hansen sebagai Bapak “pemanasan global”.

Menurut data NASA, suhu rata-rata bumi di tahun 1986 adalah 0,190 Celcius; tahun 2006 0,630 Celcius, bahkan kurang dari ¼ dari kenaikan suhu yang diramalkan oleh Hansen. Dan selama 20 tahun ini adalah masa paling bersejarah dimana emisi karbon dioksida seluruh dunia meningkat paling cepat.

Hansen bukan satu-satunya yang melakukan kesalahan. Sebuah tesis yang dipublikasikan majalah Natural – Climate Change edisi September 2013 menyatakan, dari 117 buah model iklim yang ditempatkan, estimasi kenaikan suhu pada seluruh model terlampau tinggi, 114 buah di antaranya ber-lebihan, yang tertinggi mencapai 4 kali lipat dari sebenarnya. Rata-rata kesalahan estimasi model ini terhadap kenaikan suhu mencapai satu kali lipat lebih tinggi dari yang sebenarnya.

Jika konsultan keuangan Anda membesarkan tingkat imbal hasil selama 20 tahun terakhir hingga empat kali lipat, apa yang akan Anda lakukan? Pasti langsung Anda pecat, bahkan mungkin dituntut di pengadilan. Namun demikian seorang pembohong yang berjubah “pakar klimatologi” itu hingga saat ini masih bebas berkeliaran.

Tahun 2010, musim dingin di Inggris tidak akan turun salju

Climate Research Unit (CRU) di University of East Anglia Inggris adalah institusi riset nomor satu dunia di bidang “pemanasan global” dan “perubahan iklim”. Tahun 2000, Profesor David Viner dari institusi riset tersebut menyatakan pada surat kabar The Independent, bahwa dalam beberapa tahun turunnya salju akan menjadi peristiwa alam yang sangat langka dan mengharukan, pada saat itu “anak-anak Inggris tidak akan tahu lagi apa itu salju”. Tapi alam berkata lain. Musim dingin di tahun 2009 dan 2010 justru merupakan musim dingin dengan curah salju terbesar dan suhu udara terdingin di Inggris sejak tahun 1979 silam.

Tahun 2004, Viner kembali mengatakan, industri wisata ski salju di Skotlandia hanya akan bertahan 10 tahun saja, karena pemanasan global akan mengakibatkan “suhu menjadi panas, dan lokasi ski salju di Skotlandia tidak akan ada salju lagi”. Adam Watson dari Pusat Ekologi dan Hidrologi Inggris membuat perkiraan yang lebih optimis, dengan mengatakan pariwisata ski salju Skotlandia hanya akan bertahan 20 tahun.

Faktanya di tahun 2014, di dataran tinggi Skotlandia justru turun salju dengan curah salju tertinggi sejak tahun 1945 silam. Industri ski salju memang terkena “dampak”, tapi bukan karena “pemanasan global”: volume salju yang begitu besar membuat akses keluar masuk lokasi wisata sulit ditempuh dan terjadi longsor salju, wahana ski salju pun menjadi sepi pengunjung.

Tahun 2010, Tidak Ada Air Laut di Kutub Utara

Volume lapisan es dan jumlah beruang kutub di Kutub Utara adalah topik pembicaraan paling disukai kalangan yang percaya pada “pemanasan global”, juga merupakan hal yang menjatuhkan mereka sendiri. Sejak tahun 1972, pengamat Kutub Utara Bernt Balchen menyatakan pada The Christian Science Monitor, bahwa jika pemanasan global berlanjut, maka di tahun 2000 di Kutub Utara tidak akan ada lagi lapisan es di laut.

Tahun 2007, peneliti iklim AS bernama Wieslaw Maslowski merilis laporan, model simulasinya menunjukkan bahwa di tahun 2013 semua lapisan es di laut Kutub Utara akan mencair. Tahun 2008, mantan Wapres AS Al Gore mengatakan, menurut sejumlah simulasi prakiraan cuaca, dari 2013 hingga 2015 kemungkinan di laut Kutub Utara tidak ada lagi lapisan es mencapai 75%. Di tahun yang sama David Barber dari University of Manitoba, Kanada, mengatakan bahwa model simulasinya memperkirakan pada tahun tersebut di laut Kutub Utara sudah tidak ada lagi bongkahan es.

Menurut data dari satelit CryoSat-2 milik Badan Antariksa Eropa, pada tahun 2013 luas lapisan es di laut Kutub Utara meningkat 50% dibandingkan tahun 2012. Pada tahun 2015 data NASA mengungkapkan, luas lapisan es di laut Kutub Utara pada dasarnya telah kembali normal, bahkan rata-rata 5% lebih tinggi dibandingkan selama tahun 1979 hingga 2015.

Di atas disebutkan Maslowski, setelah ramalannya di tahun 2013 gagal, ia tidak terima dan mengubah model simulasinya, yang mendapat kesimpulan di tahun 2016 hingga 2018 laut Kutub Utara tidak ada lagi es. Sekarang Maslowski akan terbukti salah lagi. (Sud)

Share

Video Popular