- Erabaru - http://www.erabaru.net -

10 Kesamaan dari Orangtua Anak-anak yang Sukses (1)

Orangtua yang mempunyai rasa tanggungjawab selalu berharap anak-anak mereka lancar, berprestasi dan setelah tumbuh dewasa nanti bisa berhasil dalam usaha. Mendidik dan mengasuh seorang anak yang “sukses” tidak ada rumusan yang pasti, namun penelitian ilmu psikologi terbaru menemukan bahwa sifat-sifat individu dapat diprediksi keberhasilannya kelak; sama sekali tidak mengherankan, jika kebanyakan dari sifat-sifat tersebut mereka dapatkan dari pendidikan di dalam rumah.

Berikut ini adalah laporan dari media AS Business Insider berdasarkan rangkuman hasil penelitian baru-baru ini dari kalangan periset AS, kesamaan dari orangtua anak yang sukses, bisa dijadikan referensi bagi para orangtua yang lain.

1. Mereka membiarkan anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga

”Jika anak tidak mencuci piring, ini berarti ada orang lain yang mencucikan piring mereka.” Demikian kata Julie Lythcott- Haims direktur mahasiswa baru Universitas Stanford Amerika Serikat dalam pidatonya di TED, selain itu Julie juga sebagai penulis buku How to Raise an Adult.

Dia melanjutkan berkata: “Dengan demikian, mereka tidak hanya lepas dari tanggungjawab pekerjaan rumah tangga, juga tak dapat mempelajari dua poin ini: Ada banyak hal yang harus dikerjakan, dan setiap orang diharuskan berkontribusi untuk keseluruhan.”

Dia berpendapat anak yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak kecil akan bisa menjadi seorang karyawan yang bisa bekerjasama secara lancar dengan sejawat mereka, anak-anak tersebut tahu perasaan berbelit tidak ingin mengerjakan, oleh sebab itu mereka lebih kaya akan empati dan bisa bekerja secara mandiri. Penelitian Julie berdasarkan Harvard Grant Study yang terkenal, sebuah penelitian investigatif yang dimulai sejak 1951.

“Anak-anak tersebut melalui pekerjaan rumah tangga seperti membuang sampah dan mencuci pakaian sendiri, mereka menyadari bahwa harus mengerjakan urusan-urusan kecil dalam kehidupan karena urusan-urusan tersebut juga adalah bagian dari kehidupan,” tegas Julie.

2. Mereka mengajari anak-anak bersosialisasi

Para anggota penelitian dari Pennsylvania State University dan Duke University melakukan penelitian investigativ terhadap 700 orang lebih anak TK di berbagai tempat di AS, terus ditindak lanjuti dengan pengamatan terhadap mereka hingga usia mereka mencapai 25 tahun, para peneliti menemukan bahwa kemampuan berkomunikasi anak-anak TK tersebut berhubungan erat dengan kesuksesan mereka pada 25 tahun kemudian.

Penelitian selama 20 tahun ini menunjukkan bahwa anak yang mudah bekerjasama dengan anak lain, bisa membantu dan memahami orang lain serta bisa menyelesaikan sendiri masalah hubungan antar manusia, ketika mereka berusia 25 tahun bisa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan gelar sarjana dan memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan anak yang memiliki kemampuan berkomunikasi terbatas, probabilitas mereka ditangkap, terjerumus ke alkhoholisme dan mengajukan permohonan kesejahteraan di kantor sosial, lebih tinggi.

Kristin Schubert manager proyek Robert Wood Johnson Foundation sebagai penyandang dana dari penelitian tersebut menyatakan : “Studi ini menunjukkan bahwa demi agar anak-anak bisa menyambut kehadiran masa depan dengan sehat, membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan emosional adalah salah satu hal yang paling penting yang dapat kita lakukan.”

3. Mereka memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap anak-anak

Dari data survey berskala nasional terhadap 6.600 anak kelahiran tahun 2001, profesor Neal Halfon dan rekannya dari University of California di Los Angeles AS menemukan bahwa harapan orangtua terhadap anak memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesuksesan anak tersebut di kemudian hari.

”Orangtua yang mengharapkan anak mereka kuliah, walau berpenghasilan terbatas juga akan membantu anak-anak mereka merealisasikan tujuan ini.” Survei membuktikan, anak-anak yang berprestasi buruk, hanya 57% orangtua mereka berharap anak-anak bisa kuliah; sedangkan anak-anak yang berprestasi baik, 96% orangtua mereka berharap anak-anak mereka bisa kuliah.”

Fenomena ini disebut Pygmalion Effect, yakni harapan seseorang terhadap orang lain bisa berkontribusi merealisasikan sendiri harapan itu; terutama ketika anak-anak yang digadang-gadang dengan harapan yang lebih tinggi, mereka bisa tampil lebih baik.

4. Hubungan kedua orangtua yang sehat

Anak yang hidup di samping orangtua yang sering bertengkar, baik keluarga itu masih utuh maupun sudah bercerai, acapkali perkembangan anak tersebut tidak sebaik anak yang hidup dalam rumah tangga yang harmonis. Pihak University of Illinois AS melakukan sebuah “Penelitian Ringkasan”, Profesor Robert Hughes Jr. dari Departemen Manusia dan Pengembangan Masyarakat Universitas tersebut mengatakan beberapa studi menemukan bahwa anak-anak yang hidup rukun dalam keluarga orangtua tunggal berkembang lebih baik dibandingkan dengan anak yang tumbuh dewasa dalam keluarga dengan sepasang orangtua yang sering bertengkar.

Namun, penelitian yang lain menemukan bahwa anak muda yang berusia 20 tahunan yang dimasa kanak-kanak mengalami perceraian orangtua, 10 tahun kemudian mereka masih merasakan kesengsaraan terhadap hal perceraian tersebut. Anak muda yang orang tuanya sering bertengkar lebih mudah memiliki suasana hati tercampakkan dan penyesalan. (Epochtimes/Lin/Yant)

Bersambung