Sejak munculnya konsep “pemanasan global” di dunia ini, tak sedikit “pakar klimatologi” membuat berbagai ramalan yang mengejutkan. Ada orang yang mungkin terlalu yakin pada ilmu klimatologi, ada juga yang berniat lain menjadikan “pemanasan global” sebagai agama dan tidak mengijinkan orang lain untuk menantangnya. Disini dipaparkan 8 “ramalan ilmiah” yang telah terbukti meleset bagi pembaca.

5. Pemanasan global sebabkan badai level 3-5 di AS makin banyak dan makin kuat

Agustus 2005, badai level 5 Katrina menerjang pesisir pantai Teluk Meksiko, terutama Kota New Orleans. Pasca tragedi tersebut, ada orang yang tidak sabar segera menyatakan bahwa badai Katrina adalah salah satu akibat dari “pemanasan global”.

Mantan Wapres AS, Al Gore lebih dulu memimpin. Pada November 2005, di majalah Rolling Stone, Gore menulis artikel yang mengatakan badai Katrina adalah akibat dari “pemanasan global” yang tak ingin dihadapi dan dicegah oleh manusia.

Maret 2006, di majalah ilmiah Science, Profesor Judith Curry dari Georgia Institute of Technology menulis artikel yang menyatakan, mereka telah menemukan kaitan erat antara suhu permukaan laut dengan badai level 4-5 sejak tahun 1970. Curry memperkirakan, pemanasan global akan mengakibatkan suhu air laut terus meningkat, oleh sebab itu dalam sepuluh tahun mendatang akan terjadi lagi badai super seperti Katrina.

Belasan tahun kemudian, hal mukjizat pun terjadi: setelah badai Katrina, tidak pernah terjadi lagi badai level 3-5 menerjang daratan Amerika; rekor ini adalah rekor periode tanpa badai terpanjang sepanjang sejarah.

Surat kabar Huffington Post yang selama ini selalu ngotot gembar-gembor soal “pemanasan global” pun mau tidak mau harus mengakui hal ini, namun tetap berusaha membela ramalan yang gagal ini. Pada tahun 2013 Chris Landsea dari US National Hurricane Center berkata pada surat kabar tersebut, tidak terjadinya badai tingkat 3-5 di AS bisa dikatakan merupakan faktor keberuntungan. Maksud di balik pernyataan itu adalah “pemanasan global” akan menyebabkan lebih banyak badai dan lebih kuat adalah “fakta” yang tidak bisa disangkal; dan jika badai tidak menerjang AS, maka itu adalah keberuntungan yang terkadang terjadi. Para ilmuwan yang ateis itu mendadak telah menemukan Tuhan.

Yang patut diungkit disini adalah, Profesor Curry kemudian tersadar setelah kesalahannya kali ini, dan menjadi memperhatikan sifat variabilitas alami pada cuaca, dan berpendapat bahwa pemanasan yang terjadi dalam 30 tahun terakhir ini mungkin merupakan fenomena alam. Oleh karena itu kaum haluan kiri AS menganggap dirinya telah tersesat, dan mengkategorikannya dalam daftar nama “orang yang menyangkal pemanasan global”.

6. Hingga 2010, di dunia akan muncul 50 juta jiwa pengungsi iklim

Tahun 2005, dalam suatu laporan Program Lingkungan PBB diramalkan, hingga tahun 2010 di dunia akan muncul 50 juta jiwa pengungsi iklim. Proyek tersebut menyatakan, pada saat itu para pengungsi terpaksa harus menyelamatkan diri dari serangkaian bencana lingkungan hidup, termasuk meningginya permukaan air laut akibat “pemanasan global”, terjadi lebih banyak badai dengan kekuatan lebih besar serta kurangnya panen bahan pangan. Laporan tersebut juga dilengkapi dengan peta, yang menjelaskan bahwa Samudera Pasifik dan negara-negara di Laut Karibia akan menghadapi ancaman terbesar.

Kenyataannya di tahun 2010 tidak terlihat satu pun pengungsi iklim seperti yang diramalkan. Tak hanya itu, banyak negara di Laut Karibia dan Samudera Pasifik menunjukkan peningkatan jumlah penduduk. Penduduk Bahama bertambah 50.000 jiwa; penduduk di St. Lucia bertambah 5 persen; penduduk Seychelles bertambah hampir 7.000 jiwa; penduduk di Kepulauan Solomon untuk pertama kalinya menembus angka 500.000 jiwa, padahal 10 tahun lalu penduduk Solomon hanya sekitar 100.000 jiwa.

7. “Tahun 2015, Kota New York akan ditenggelamkan oleh laut karena pemanasan global

Para ilmuwan, politikus yang tidak tahu menahu tidak berhenti sampai disitu, media massa yang mengejar gejolak pun ikut ambil bagian dalam “ramalan ilmiah” itu.

Pada Juni 2009, stasiun TV ABC dalam acara Good Morning, America menayangkan acara khusus menerawang masa depan, memperkirakan dampak yang ditimbulkan oleh “pemanasan global” terhadap Bumi dan manusia 100 tahun mendatang, ramalan pertama adalah di bulan Juni 2015. Dalam acara tersebut, seorang pakar menyebutkan bahwa di tahun 2015 permukaan air laut akan meninggi pesat, Kota New York akan tenggelam oleh air laut; seseorang yang diwawancarai mengatakan, bahwa pada saat itu akan terjadi “kobaran api yang panjangnya mencapai ratusan mil”; harga satu galon susu akan mencapai 12,9 dollar As; harga satu galon bensin akan mencapai 9 dollar AS. Berlebihannya teori ini menimbulkan keraguan pada pembaca acara dan bertanya-tanya, apakah semua ini mungkin terjadi?

Faktanya, di Juni 2015 Kota New York baik-baik saja, lautan tidak menenggelamkan tanahnya; harga satu galon susu hanya 3,39 dollar AS dan harga satu galon bensin rata-rata hanya 2,75 dollar AS.

Sensasi pada acara khusus tersebut tidak hanya itu saja. Dalam skenarionya dikatakan Miami akan diluluh lantakkan oleh “badai millennium”; Las Vegas tidak bisa lagi didiami karena terlalu panas; dan hingga 2084 akibat bencana iklim, populasi dunia akan merosot menjadi 270 juta jiwa (7,3 miliar per 2015). Tidak perlu dijelaskan lagi, semua itu hanya topik hangat pembicaraan dari novel fiksi picisan.

8. “Tahun 2035, glasier di Pegunungan Himalaya akan lenyap”

Di tahun 2007, Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) merilis laporan resmi keempat yakni “Laporan Prakiraan Perubahan Iklim” (AR4) yang menyebutkan di tahun 2035, glasier di Pegunungan Himalaya akan lenyap, hal ini memicu histeria pada sejumlah ilmuwan glasier. Pada tesis yang diterbitkan di majalah akademis setelah melalui proses pertimbangan, dikatakan mereka belum menemukan jalan keluarnya.

Menelusuri asal muasal teori ini, ada yang mengatakan bahwa teori ini bersumber dari seorang peneliti glasier India bernama Syed Hasnain yang diwawancarai lewat email tahun 1999 oleh New Scientist. Dalam naskah aslinya, Hasnain meramalkan “pada tahun 2035, di Pegunungan Himalaya, glasier di wilayah timur akan lenyap”. Tapi IPCC justru mengembangkannya menjadi semua glasier di Pegunungan Himalaya akan lenyap. Selain itu, bukannya mengutip naskah asli, AR4 justru memberikan kesan bahwa teori tersebut telah melalui pertimbangan bersama.

Tahun 2009 Hasnain menyatakan pada majalah New Scientist bahwa teorinya di tahun 1999 itu murni adalah “prakiraan” menurut dirinya. Ia sama sekali tak tahu siapa yang telah mengubah tesisnya dan memasukkannya ke dalam “Laporan Prakiraan Perubahan Iklim” yang dirilis IPCC.

Sebuah artikel yang dipublikasikan di majalah Current Science pada April 2014 lalu menjelaskan, faktanya adalah mayoritas glasier di Pegunungan Himalaya berada dalam kondisi stabil. Hingga akhir 2010, di antara 2.018 buah glasier yang ada di wilayah tersebut, luas glasier yang lenyap sepenuhnya hanya mencapai 0,2 persen dari luas yang ada, sebagian lainnya malah masih terus meluas. Dikatakan di tahun 2035 glasier di Pegunungan Himalaya akan lenyap dan ratusan juta jiwa penduduk akan terancam krisis air minum, naga-naganya hal tersebut tidak bakal terjadi. (Epochtimes/Sud/Yant)

Selesai

Share

Video Popular