Oleh: Zhang Dun

Aristokrat partai yang juga Jenderal Partai Komunis Tiongkok/ PKT Liu Yazhou beberapa hari lalu secara terbuka mengakui, pasukan militer PKT bukan tandingan AS. Pada era informasi seperti sekarang ini, seorang kepala regu tentara AS dalam 5 menit dapat memanggil serangan udara dan seorang prajurit tunggal dalam 2 menit dapat memanggil bantuan serangan roket darat, panglima perang AS dapat secara langsung mengkomando sampai ke tingkat prajurit. Sedangkan sistem komando militer PKT hanya bisa diaplikasikan pada perang mekanis karena berstruktur piramida, militer PKT harus “berganti arah untuk maju.”

Analis berpendapat, tindakan Xi Jinping berikutnya setelah dirilisnya artikel ini oleh Liu Yazhou, patut dicermati.

Liu Yazhou Akui Militer PKT Tak Mampu Kalahkan AS

Jenderal AU Liu Yazhou yang menjabat sebagai Komisaris Politik Universitas Pertahanan Nasional PKT pada 18 Februari 2016 lalu menulis artikel yang menyatakan kemajuan pasukan AS sudah sangat jauh, jika militer PKT ingin menghalau pasukan AS, selamanya tidak akan mampu menghalaunya.

Artikel menyatakan, pasukan AS senantiasa berada di posisi inovasi teori militer terdepan, mulai dari kekuatan laut hingga perang informasi, mulai dari udara dan darat hingga perang spectrum penuh. Tiap beberapa tahun sekali terlahir teori militer yang baru. Terus menyangkal kemampuan sendiri, dan berpandangan kuat jauh ke depan, adalah dua hal yang menonjol pada militer AS dalam berinovasi. Sementara itu ketika militer PKT setiap hari berteriak “teknologi tinggi,” setiap hari pula teknologi itu berlalu begitu saja sambil tertawa sinis.

Artikel juga mengungkapkan, di era perang informasi seperti sekarang ini, hampir dalam setiap perang baru-baru ini, dalam lima menit seorang kepala regu pasukan AS dapat memanggil serangan udara, dalam dua menit seorang prajurit dapat bantuan meriam darat. Dalam perang masa depan yang dirancang oleh AS, serdadu hanya perlu mengklik keyboard pada komputer untuk menyerang pusat kekuatan militer lawan, merusak nadi perekonomian, dan banyak hal lain, keyboard adalah senjata, mouse adalah meriam. Panglima perang AS dapat secara langsung mengkomando seorang prajurit, tapi bukan berarti memaksakan penerapan kekuasaan komando terpusat, melainkan secara bertahap menurunkan pengambilan keputusan mandiri dalam perang.

Sedangkan yang diterapkan oleh militer PKT sekarang masih merupakan model lama sistem pembagian divisi ala Uni Soviet dulu. Sistem komando cocok untuk perang mekanis dengan struktur piramida. Artikel mengakui, sistem komando PKT seperti ini akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perang modern terutama perang informasi. Apalagi tiga perusahaan produsen prosesor komputer terkemuka dunia semuanya berada di Amerika, prosesor pusat komputer yang digunakan pada sistem komando otomatis pihak militer PKT sebagian besar merupakan produk AS. Jika berperang, mampukah menang melawan AS?

Pada bagian akhir artikel itu disebutkan, AS telah melangkah teramat jauh, militer PKT tidak mungkin mengejar ketertinggalannya, dan sudah waktunya bagi PKT untuk “maju dengan berganti arah.” Liu Yazhou dianggap sebagai orang kepercayaan Xi Jinping di tubuh militer, keduanya sama-sama merupakan kaum aristokrat partai. Ayahnya Liu Jiande adalah mantan Wakil Komisaris Politik Divisi Logistik di zona militer Lanzhou, sedangkan mertuanya adalah mantan Presiden RRT, Li Xiannian. Beberapa tahun terakhir, Liu Yazhou banyak membantu Xi Jinping melakukan pemberantasan korupsi “memukul macan” dan reformasi di tubuh militer.

Analisa: Perbedaan Konkrit Sistem Komando Militer PKT dengan Militer AS

Pengamat politik Li Linyi mengatakan, jika dibandingkan dengan militer AS, tidak hanya sistem komputerisasi yang digunakan pada sistem komando semuanya adalah buatan Amerika. Dalam hal daya serang darat laut dan udara AS, sistem tempur tiga dimensi, berbagai senjata canggih yang dimiliki adalah yang paling unggul. Juga sistem tempur prajurit individu AS, selain tidak berani juga tidak mampu ditiru oleh militer PKT.

Li Linyi mengatakan, di dalam film sering terlihat pemandangan, serdadu AS menentukan titik koordinat, lalu memerintahkan pemboman dari garis belakang, yang sebenarnya merupakan wujud demokrasi ala Amerika di tubuh militer. Dengan kata lain, hak komando di dalam tubuh militer AS bisa diturunkan dari atas hingga langsung ke tangan serdadu. Sedangkan di militer PKT, hal ini jelas tidak mungkin, yang paling ditakuti PKT adalah “tidak stabil,” bagaimana seandainya yang dibom serdadu tersebut adalah orang sendiri?

PKT selalu berpikiran seperti itu. Rezim ini sejak awal terbentuknya sampai sekarang selalu memiliki pemikiran untuk selamanya hidup di tengah krisis.

Li Linyi berkata, Liu Yazhou sebenarnya juga sangat paham akan hal ini. Dalam artikelnya, Liu secara halus mengatakan, “Sistem komando PKT seperti ini akan mengalami kesulitan saat menghadapi perang modern terutama perang informasi, tapi dalam hal mengamankan wilayah negara dan menjaga stabilitas politik nasional masih cukup efektif.”

Jalan keluar yang diberikan oleh Liu Yazhou adalah, “Sepertinya kita berada dalam posisi serba salah, sebenarnya ini memberitahu kita satu hal: sudah saatnya kita maju dengan berganti arah.”

Menurut Li Linyi, jika menginginkan militer PKT menjadi kuat, maka harus mencampakkan partai komunis, setelah merombak sistem secara total, baru akan memungkinkan untuk menjadi besar dan kuat. Tindakan Xi Jinping berikutnya setelah dirilisnya artikel ini oleh Liu Yazhou, patut diamati. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular