Ilmuwan Jerman menciptakan baterai natrium ion yang lebih murah, efisien dan ramah lingkungan menggunakan limbah buah apel. Sebelumnya para ilmuwan telah mengembangkan pengganti baterai berbasis Lithion ion yang biasa di gunakan dalam perangkat gadget dan menggantinya dengan baterai berbasis natrium ion.  Baterai natrium ion ini dinilai lebih murah dibandingkan dengan baterai berbasis Lithion ion yang jauh lebih mahal karena ketersediaan bahan baku lithium yang langka di alam.

Setelah masa panen, buah apel kerap dibuang karena masalah bentuk, ukuran dan warnanya, sehingga langsung menjadi limbah, atau karena terlalu cepat membusuk dan tidak bisa digunakan untuk memberi makan ternak. Namun, ilmuwan di Karlsruhe Institute of Technology Jerman justru memanfaatkan sisa-sisa limbah buah apel menciptakan baterai natrium ion yang murah, efisien dan ramah lingkungan.

Setelah lebih dulu mengeringkan apel busuk, para peneliti baru menggunakan 95% karbonnya dan menciptakan bahan elektroda hard carbon atau karbon keras yang efektif, yang digunakan untuk menciptakan elekroda baterai. Sejauh ini, para peneliti telah melakukan pengujian melalui lebih dari 1.000 siklus pengisian dan pengosongan baterai natrium ion, dan hasilnya menunjukkan stabilitas dan kapasitas yang tinggi terhadap temuanya.

Para peneliti mengatakan bahwa materi yang dikembangkan untuk elektroda positif ini terdiri dari beberapa lapisan natrium oksida. Bahan aktif ini tidak terlalu mahal dan tidak menimbulkan bahaya lingkungan sebagaimana elemen kobalt yang sering digunakan dalam bahan aktif baterai lithium-ion komersial

Efektivitas baterai sukrosa-sodium menyimpan energi 20 persen lebih banyak daripada baterai karbon biasanya, namun, biaya per kWh/jam-nya jauh lebih rendah sekitar 20%, kata profesor Stefano Passerini, pemimpin penelitian.

Baterai natrium-ion tidak hanya jauh lebih kuat daripada nikel-metal hidrida atau akumulator asam timbal, tetapi juga merupakan alternatif teknologi lithium-ion. Di mana sebagai bahan awal yang diperlukan sangat melimpah, mudah diakses, dan tersedia dengan biaya murah.

Oleh karena itu, baterai natrium-ion adalah teknologi yang sangat menjanjikan untuk sistem penyimpanan energi yang memainkan peran sentral dalam transformasi sistem energi dan akan menjadi pasar yang sangat menarik di masa depan, pungkas Passerini.

Memang masih butuh waktu untuk mengomersialisasikan baterai ini. Tetapi, jika berhasil diwujudkan, ada sisi positif yang bisa didapatkan. Manusia takkan kesulitan mendapatkan bahan baku baterai plus dapat memanfaatkan sisa limbah. Sementara baterai lithium, meskipun dapat didaur ulang, namun tetap memiliki keterbatasan. (Epochtimes/Jhon/asr)

Share

Video Popular