Erabaru.net. Sampai batas tertentu, pernikahan di masyarakat saat ini sedang memainkan peran yang membuat gelisah, penyebabnya ialah seiring dengan pernikahan terkadang disusul dengan perceraian.

Menurut data yang disediakan oleh American Psychological Association (APA), angka perceraian pasangan yang menikah di Amerika Serikat setinggi 40% sampai 50%; data dari Urusan Sipil Partai Komunis Tiongkok menunjukkan bahwa sejak tahun 2003, tingkat perceraian di Tiongkok bukan menurun malahan naik.

Menurut media AS Business Insider melaporkan bahwa Helen Fisher, antropolog dan ahli perilaku manusia di bidang perkawinan dari Indiana University AS telah mempelajari selama beberapa dekade, dia percaya bahwa jika pasangan yang berkencan menunggu sampai di atas dua tahun baru menikah, kemungkinan bertahannya perkawinan sampai tua akan sangat meningkat.

Di dalam situs Big Think Helen mempresentasikan, penelitian terbaru menanyakan kepada sejumlah pasangan yang memiliki hubungan stabil, bertanya kepada mereka mengapa tidak menikah saja, 67% menjawab mereka takut perceraian.

Yang mereka takutkan tidak hanya masalah aspek hukum dan ekonomi, melainkan juga termasuk perceraian yang dapat menyakiti kehidupan pribadi dan memperburuk reputasi.

Helen percaya bahwa psikologis takut akan perceraian ini dapat menyebabkan pernikahan yang lebih sehat, tapi bagaimanapun, jika memungkinkan, habiskan lebih banyak waktu dahulu sebelum menikah untuk mengenal satu sama lain.

Ketika Anda jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap seseorang, biasanya cenderung kehilangan rasionalitas, seiring dengan berjalannya waktu akan dapat memunculkan kembali rasionalitas tersebut.

Helen mengatakan bahwa ketika seseorang telah jatuh cinta-buta, wilayah di otak yang relevan dengan keinginan, obsesi, daya gerak dan lain-lain akan sangat aktif dalam korteks prefrontal, beberapa domain kognitif terkait seperti pengambilan keputusan dan perencanaan akan berhenti bekerja.

Dengan demikian, jatuh cinta-buta dapat mempengaruhi cara berpikir rasional dalam menilai kemampuan pasangan Anda.

Dan setelah dua tahun berkencan baru menikah, itu memungkinkan otak untuk beradaptasi dengan situasi baru, maka Anda dapat melihat dengan jernih perwujudan / tindak-tanduk pada sikon berbeda dari orang atau pasangan yang sedang Anda gauli saat ini, sehingga dapat memutuskan apakah pihak lain benar-benar cocok untuk Anda.

Helen Fisher mengambil suatu contoh dan mengatakan: “Anda akan mengetahui bagaimana pasangan Anda ini bergaul dengan orangtua Anda pada perayaan Natal (atau hari tradisional lainnya), bagaimana cara dia bergaul dengan teman-teman Anda, bagaimana sikapnya terhadap masalah keuangan, bagaimana menyelesaikan sengketa dan lain sebagainya.”

Kesimpulannya, Anda perlu dalam situasi kehidupan nyata untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap calon teman hidup Anda, ini adalah alasan Helen Fisher menyarankan menunggu setidaknya dua tahun kemudian baru menikah. (Epochtimes/Hui/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular