Oleh Liu Yi

Baru-baru ini, Menteri Keuangan Tiongkok, Lou Jiwei dalam pertemuan dengan menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari G20 di Shanghai mengatakan bahwa setiap negara sekarang sedang menghadapi kesulitan moneter yang “berjarak tinggal 1 km dari jurang.” Oleh karena itu, reformasi struktural perlu dipercepat guna mengatasi situasi. Ahli ekonomi dan sosial asing menyebutkan bahwa ucapan Lou Jiwei itu tampaknya lebih ditujukan untuk memberi peringatan kepada pemimpin tertinggi Tiongkok.

“Setiap negara sekarang sedang menghadapi kesulitan moneter dan situasi itu hanya dapat diatasi dengan melakukan reformasi struktural secepat mungkin, bila itu ditunda-tunda maka ruang (kesempatan) akan semakin sempit. Mumpung masih berjarak 1 km dari jurang, kita perlu mempercepat langkah reformasi, jangan menunggu sampai jarak dengan jurang itu tinggal 1 meter. Apalagi kesempatan bisa berubah, makin lama reformasi struktural dilakukan berarti semakin banyak ruang yang terkikis,” kata Lou Jiwei.

Sementara itu ahli ekonomi dan sosial Tiongkok, He Qinglian mengatakan, Menkeu Lou secara cerdik telah menempatkan masalah yang dihadapi Tiongkok ke dalam isu global untuk dibahas. Tetapi sebenarnya ia sedang melempar bola kepada pimpinan puncak Tiongkok yang lebih berhak untuk mengambil keputusan. Saat ini, ruang untuk publik menyampaikan opini di Tiongkok masih diperketat. Data ekonomi tidak boleh dipublikasikan sebelum mendapat ‘anggukan’ dari yang tertinggi. Bahkan Lou yang menjabat sebagai menkeu pun hanya bisa menyampaikan opininya lewat pertemuan internasional semacam ini.

Ekonomi Tiongkok terus merosot sejak pertengahan kedua 2014. PDB tahun lalu yang diumumkan oleh pemerintah Tiongkok adalah 6.9 %. Meskipun ini merupakan angka pertumbuhan paling rendah bagi Tiongkok, tetapi masih diragukan oleh kalangan ekonomi dunia. Mereka cenderung lebih percaya pada angka pertumbuhan yang 6 % bahkan lebih rendah dari 4 %. Meskipun Bank Sentral Tiongkok telah mengucurkan dana total sampai RMB. 5 triliun sejak 2014 sampai akhir tahun 2015 guna merangsang pertumbuhan ekonomi, namun perekonomian tetap saja loyo.

Situasi ekonomi yang tidak membaik jelas berdampak langsung pada pendapatan Tiongkok. Data menunjukkan bahwa defisit anggaran Tiongkok pada 2015 mencapai RMB. 2.3 triliun. Januari 2016 ini bahkan turun 0.7 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah daerah yang hanya mengandalkan penjualan tanah untuk pengembangan perumahan juga mengalami defisit anggaran dan tidak mampu membayar hutang karena harga perumahan jatuh. Ada media Daratan yang melaporkan bahwa beberapa pemerintahan kabupaten di propinsi Shaanxi bahkan sudah tidak mampu membayar gaji PNS mereka.

Xi Jinping sejak akhir tahun lalu sudah menekankan perlunya reformasi struktural, perlu segera dapat mengatasi masalah kelebihan kapasitas, membersihkan perusahaan BUMN zombie dan menurunkan kelebihan persedian perumahan dan lainnya. Tetapi dalam pertemuan G20 ini, baik Menkeu Lou Jiwei maupun Gubernur Bank Sentral Zhou Xiaochuan sama-sama menyebutkan akan melaksanakan pelonggaran moneter untuk meningkatkan perekonomian.

Sementara itu, ada media asing yang mengatakan bahwa Tiongkok sekarang sedang menghadapi kelebihan kapasitas industry. Pasar saham tidak stabil sehingga bottom line belum terlihat, tren penurunan perdagangan luar negeri sulit dicegah, devaluasi mata uang Renminbi masih berlangsung, peningkatann yang cepat jumlah tunggakan hutang sangat mengkhawatirkan. Tidak satu pun dari kelima masalah ekonomi tersebut yang mudah untuk dicarikan solusi penyelesaiannya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular