- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Renminbi Terdepresiasi hingga Tembus 6.55 Akibat Bank Sentral Menurunkan Quasi

Oleh Yang Muchun

Nilai tukar Renminbi terhadap Dollar AS di pusat perdagangan valuta asing antar Bank Tiongkok pada Senin (29/2/2016) mengalami penurunan drastis yang diakibatkan oleh Bank Sentral Tiongkok menurunkan quasi yang diberlakukan kepada lembaga keuangan dalam negeri. Nilai tukar Renminbi onshore dan offshore langsung terdepresiasi hingga menembus 6.55 per Dollar AS.

Media keuangan Tiongkok Caixin, Senin (29/2/2016) melaporkan bahwa, onshore Renminbi (CNY) terus melorot sejak pembukaan perdagangan dan tercatat pada pukul 16:38 sore hari itu. Renminbi jatuh ke nilai 6.5471 yang berarti sudah terdepresiasi sebanyak 0.09 %. Sementara offshore Renminbi juga menunjukkan tren melemah. Tercatat pada saat yang sama hari itu, nilai tukar Renminbi offshore jatuh ke 6.5484, terdepresiasi sebanyak 0.05 %

Sore hari itu, Bank Sentral Tiongkok mengumumkan penurunan rasio cadangan deposito wajib lembaga keuangan Tiongkok sebesar 0.5 % yang mulai diberlakukan Selasa (1/3/2016). Setelah pengumuman, nilai tukar Renminbi baik onshore maupun offshore terdepresiasi dengan cepat. Sampai pukul 20:49 semalam (29 Pebruari) nilai tukar Renminbi onshore jatuh hingga 6.5539 dan yang offshore jatuh hingga 6.5588 per Dollar AS.

Analis keuangan Barclays, Ajay Rajadhyaksha dan Jian Chang mengatakan, penurunan terus nilai tukar mata uang Tiongkok dapat meningkatkan resiko buat Tiongkok yang berupa pengurasan cadangan devisa mereka. Jadi, jika penurunan itu masih berlangsung seperti tingkat saat ini, maka cadangan devisa Tiongkok di masa 6 – 12 bulan ke depan bakal terkuras hingga level yang sangat mengganggu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan otoritas keuangan saat ini adalah menerapkan kontrol modal, pengetatan moneter dan langkah-langkah untuk mencegah pelarian modal.

Menurut analisa 2 orang ahli tersebut bahwa jika saja Bank Sentral Tiongkok membiarkan Renminbi terdepresiasi lagi, mungkin bisa menimbulkan kekhawatiran investor terhadap situasi ekonomi global. Dan menciptakan efek domino bagi Bank sentral negara lainnya. Sebaliknya bisa menciptakan peluang ekspor harga murah komoditas Tiongkok. Tetapi bagi Tiongkok yang ekonominya berorientasi ekspor, kontrol modal yang ketat juga tidak efektif, karena kebijakan pengetatan hanya dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin lamban dan mempersulit pembayaran hutang.

Beberapa analis berpendapat bahwa depresiasi berlebihan yang terjadi pada mata uang Tiongkok dapat memicu gejolak pasar keuangan internasional, spekulasi pasar hingga perang mata uang global.