Oleh : Xia Xiaoqiang

Faktor Sejarah Situasi Sulit Ekonomi RRT

Kondisi ekonomi RRT sekarang ini dan kesulitan yang dialami, selain faktor perkembangan ekonomi itu sendiri dan pengaruh dari lingkunan besar kemerosotan ekonomi global, penyebab utamanya adalah akibat dari kekuasaan rezim Partai Komunis Tiongkok/ PKT itu sendiri.

Sejak PKT berkuasa selama hampir 30 tahun belakangan ini, menggerakkan aksi politik satu demi satu yang merusak secara sistematis kebudayaan tradisional Tiongkok, sekaligus mengakibatkan kerusakan besar pada tatanan sosial dan ekonomi Tiongkok. Di dalam peristiwa kelaparan besar pada 1959-1961, puluhan juta penduduk mati kelaparan. Usai “Revolusi Besar Kebudayaan,” ekonomi RRT pun berada di ambang kehancuran.

Demi mempertahankan kestabilan kekuasaannya, PKT terpaksa melakukan reformasi keterbukaan ekonomi, sehingga krisis kehancuran PKT untuk sementara dapat terhindar. Sementara PKT tetap mempertahankan sistem politiknya, hanya memberi kelonggaran terbatas pada bidang ekonomi, rakyat Tiongkok telah menciptakan sebuah “mujizat ekonomi” yang menarik perhatian dunia. Ia telah menjadi badan ekonomi terbesar kedua di dunia, namun perkembangan pesat ekonomi selama 30 tahun belakangan ini, yang berlandaskan pada pengorbanan Hak Asasi Manusia, kerusakan lingkungan hidup dan pemborosan besar pada sumber daya, juga sudah nyaris sampai di penghujung jalan.

Perusakan Ekonomi oleh Jiang Zemin

Diantaranya yang perlu khusus disoroti adalah, terjadi perusakan ekonomi RRT yang terparah pada masa kekuasaan Jiang Zemin.

Sejak Jiang berkuasa pada 1989, telah dilakukan perubahan arah 180∘dalam reformasi ekonomi yang telah dimulai pada era 1980-an. Pada era tersebut, produktifitas di desa telah mengalami kebebasan dan menjadi masa keemasan bagi industry pertanian. Sedangkan di tahun 90-an malahan muncul krisis “Tri Petani” yakni: “Petani sungguh menderita, komunitas petani sungguh miskin, dan industri pertanian sungguh berbahaya.”

Pada era 80-an di desa dan kota kecil bermunculan perusahaan yang dibutuhkan pada saat itu, pemerintah mendorong dan mendukung perkembangan perusahaan swasta. Sesampainya era 90-an titik berat reformasi dialihkan ke kota, perusahaan di desa dan kota kecil mengalami tekanan. Sedangkan reformasi perusahaan negara beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya terbentuklah situasi monopoli perusahaan negara raksasa, mencakup berbagai bidang usaha pilar besar termasuk perbankan, sedangkan perusahaan swasta pada lingkungan permodalan maupun kebijakannya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan perusahaan negara, kedudukannya hanya sebagai subordinasi saja.

Pada 1994 dan 1995 setelah dilakukan reformasi sistem perpajakan, pemerintah daerah demi meningkatkan penerimaannya, secara besar-besaran mendorong keuangan dari lahan tanah, berangsur telah merangsang lebih lanjut kegiatan usaha penguasaan lahan dan ekonomi properti.

Setelah RRT menjadi anggota WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) pada 2001, investasi pebisnis asing di RRT setiap tahun meningkat dengan pesat, RRT dengan “ keunggulan” HAM yang rendah, telah menjadi pusat manufacturing dunia yang memroduksi produk low-end. Bersamaan itu terjadilah situasi yang aneh, peningkatan ekonomi sangat tergantung pada investasi dan perdagangan luar negeri yang tinggi, sebaliknya pasar domestik semakin menyusut.

Setelah pengunduran diri Jiang Zemin pada 2002, grup Jiang tetap mencengkeram posisi penting dalam partai, pemerintahan, militer dan daerah, untuk meneruskan garis politik dan ekonomi di era Jiang. Bersamaan itu, kebijakan ekonomi pada masa Jiang berkuasa telah langsung melahirkan sekelompok besar lapisan peraih keuntungan. Mereka diuntungkan dari monopoli perusahaan negara, aksi penguasaan lahan dan ekonomi properti, juga memperoleh manfaat dari investasi pebisnis asing. Mereka tentu saja tidak ingin mengubah sikon perkembangan seperti ini.

Pada aspek lain, Jiang menggunakan policy pembiaran korupsi, menggunakan kejahatan berjemaah demi mendirikan dan mengikatnya pada landasan kekuasaan pribadi. Korupsi di kalangan pejabat PKT mendapat proteksi dari sistem korup Jiang. Korupsi para pejabat PKT telah berlangsung terbuka, terang-terangan dan membudaya, sudah berkembang ke taraf hampir tiada pejabat yang tidak korup. Korupsi pejabat mengakibatkan terkikisnya sejumlah besar asset yang dimiliki negara dan telah mempercepat terjadinya krisis ekonomi.

Berhubung titik tolak kebijakan ekonomi pada masa Jiang adalah untuk melindungi kepentingan segelintir orang, maka cara yang ditempuh tidak lagi mempedulikan keadilan mendasar masyarakat, tidak mempedulikan lagi kepentingan jangka panjang generasi penerus, menghamburkan sumber daya Tiongkok secara rusak-rusakan. Dalam mengejar keuntungan materi telah melepas kemanusiaan dan nurani yang paling mendasar. Demi mencapai kemakmuran permukan jangka pendek telah menghancurkan landasan moralitas masyarakat. Setelah Hu Jintao naik tahta, model perkembangan yang berisiko besar semacam ini tidak boleh lagi diteruskan, yang telah terwujud pada krisis sosial dan ekonomi yang meletup disana-sini, memaksa pemerintahan selanjutnya dilelahkan dengan mengatasi krisis secara pasif, dan tidak mampu mengubah kondisi sekarang. Hingga saat ini ekonomi RRT terpaksa masih saja mewarisi sebuah kondisi berantakan yang ditinggalkan dari masa Jiang berkuasa.

Mengapa Para Ahli Salah Menilai?

Salahkah teori para ahli dan akademisi dari luar dan dalam negeri RRT yang memprediksi ekonomi RRT bakal mengalami kehancuran?

Sebetulnya ya tidak salah. Karena, apabila berbagai data dan kondisi riel yang dihadapi oleh ekonomi RRT sekarang ini ditaruh pada sembarang negara maju manapun, ekonominya sejak dini telah hancur. Tetapi mengapa di RRT tidak terjadi kodisi semacam itu? Mengapa para ahli telah salah menilai?

Sebuah penyebab utamanya adalah para ahli dan akademisi itu telah menggunakan teori pasar ekonomi bebas dari dunia bebas, untuk menganalisa dan mengambil kesimpulan terhadap ekonomi RRT. Sesungguhnya penyebab utama yang lebih penting lagi adalah para ahli secara tak sadar telah menganggap PKT sebagai sebuah partai politik biasa dan menganggap pasar RRT sebagai pasar ekonomi yang normal-normal saja. Mengenai kenapa PKT bukan sebuah partai politik yang normal, dalam buku berjudul “9 Komentar Tentang Partai Komunis” telah disampaikan secara terperinci, disini tidak perlu dibahas. Ketika telah memahami PKT bukanlah sebuah partai yang normal, tentu juga akan lebih mudah memahami pasar ekonomi RRT bukanlah sebuah pasar ekonomi yang normal, wajar saja tidak dapat menilainya dengan teori pada umumnya.  

Apakah Ekonomi RRT Bisa Mengalami Kehancuran ?

Antara Juni hingga Juli 2015, pasar saham RRT mengalami bencana pasar, penyebabnya selain faktor ekonomi diri sendiri yang telah terjadi penggelembungan pasar saham, diantaranya sebuah penyebab sangat besar adalah akibat dari pertarungan politik elit PKT. Pasar finansial dan pasar saham telah menjadi medan perang hidup mati pertarungan politik elit PKT. Pihak grup Jiang Zemin yang berada pada posisi kehilangan kekuasaan dan pengaruh, tidak segan-segan mengorbankan ekonomi RRT hingga hancur. Demi menciptakan kekacauan sehingga dapat mengambil kesempatan merebut kembali kekuasaannya, demi terhindar dari perhitungan atas kejahatan yang telah dilakukan.

Pemerintahan PKT dan ekonomi RRT sebenarnya merupakan dua buah sistem yang independen, kekuasan PKT selalu mengikat erat-erat ekonomi RRT. Kekuasaan dan sistem kenegaraan PKT tidak hanya bukan menjadi penyebab dan motor penggerak perkembangan ekonomi RRT, justru sebaliknya merupakan belenggu bagi perkembangan ekonomi RRT. Perkembangan berkelanjutan ekonomi RRT telah menjadi rumput penyelamat bagi keabsahan PKT dalam mempertahankan kekuasaannya.

Kondisi seperti ini memberi kalangan asing sebuah pemahaman yang baku, menganggap pemerintahan PKT dan ekonomi RRT sebagai sebuah kesatuan yang tak terpisahkan, satu terluka maka satu lainnya juga akan terluka, satu makmur satu lainnya akan mengalami kemakmuran pula, kehancuran PKT pasti akan menghancurkan ekonomi RRT juga, atau menggunakan kehancuran ekonomi RRT yang berakibat kehancuran PKT. Sebenarnya penilaian yang salah kaprah terhadap ekonomi RRT justru berasal dari pemikiran yang baku semacam ini.

Sesungguhnya, jika ekonomi RRT diletakkan pada sebuah latar belakang besar “Langit Memusnahkan PKT,” maka akan terlihat sebuah orbit perkembangan yang lebih jelas.

Pertarungan politik sengit antara elit PKT grup Xi Jinping dan grup Jiang Zemin, merupakan ekspresi dari kekuasaan PKT menjelang kemusnahan, juga adalah sebagian dan sebuah proses “Langit Memusnahkan PKT.” Dalam proses tersebut, hubungan antara kekuasaan PKT dan ekonomi RRT, serta pengendalian dan pengaruh PKT terhadap ekonomi RRT, akan membuatnya tak berdaya dan semakin lama semakin melemah, ekonomi RRT akan secara berangsur dapat lepas dari pengendalian PKT, dan semakin melarut dalam pasar bebas internasional, terus menerus hingga suatu hari nanti kekuasaan PKT itu binasa.

Kata Penutup

Setelah kekuasaan PKT musnah, rakyat Tiongkok masih akan melanjutkan kehidupan mereka, ekonomi RRT masih harus terus berkembang. Dapat diprediksi, ekonomi RRT bakal terus maju dibawah kondisi berbagai kesulitan yang menghadang dari dalam negeri maupun internasional. Seiring dengan melemahnya kekuasaan PKT yang diakibatkan dari semakin dahsyatnya pertarungan elit PKT, ekonomi RRT mungkin akan semakin terus membaik hingga PKT musnah. Ketika pengikatan dan belenggu dari PKT sudah tiada lagi, ekonomi RRT barangkali bakal mengalami perlompatan lebih lanjut. Itu sebabnya, ekonomi Tiongkok tidak akan runtuh, ramalan Gordon G. Chang mungkin tidak akan terjadi. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular