Mencari Shifu dalam mimpi

Kota Fuzhou berada di pinggir pantai, kehidupan penduduk setempat turun-temurun bergantung pada laut, sejak dulu sudah ada adat percaya akan Buddha, Tao dan Tuhan. Walau di jaman propaganda atheisme yang sangat kuat, pemerintah Partai Komunis Tiongkok/ PKT tidak mengijinkan membakar dupa dan bersembahyang, namun keluarga Liu Meilian toh masih membeli dupa dengan sembunyi-sembunyi dan bersembahyang Buddha di dalam rumah. Ibunya di usia 68 tahun menjadi biksuni dan masuk ke dalam kuil. Dia sering menjenguk ibunya. Pada saat itu di dalam hati kecilnya sudah tertanam keinginan berkultivasi Buddha dan berharap menganut agama Buddha setelah dia pensiun.

Sejak kejadian mimpi itu, kulit Liu Meilian yang selama ini mengeluarkan pasir yang begitu banyak lalu mendadak berhenti dan dia terbebaskan dari penyakit aneh itu. Dia yakin semua ini adalah Shifu (Guru) dalam mimpinya itu yang telah menyelamatkan jiwanya. Oleh sebab itu dia memutuskan harus menemukan Shifu dalam mimpinya itu. Namun kemanakah harus mencarinya?

Setelah menghabiskan beberapa tahun untuk mencari, pada 1995, anak sulung Liu menyurati dari Kanada, memberitahunya untuk mencari senam meditasi Falun Dafa. Awal era 90-an, setelah anak sulungnya yang bernama Yang Weihua lulus S2 dari Universitas Industri Ringan di Wuxi, pergi ke Universitas di Toronto untuk mengambil gelar S3. Kiriman surat dari anaknya membuatnya merasa senang, namun masih tidak tahu harus kemana untuk mencari.

Pada 1998, Yang Weihua yang berada jauh di Kanada menghubungi praktisi Falun Gong di kota Fuzhou untuk memberikan buku pada sang ibunda. Mereka sudah sepakat bertemu di depan pintu kantor pos yang terletak di sebelah kantor pemerintahan provinsi Fujian, praktisi itu membawa buku “Zhuan Falun” sebagai tanda pengenal.

Liu Meilian pergi ke tempat yang sudah mereka janjikan untuk bertemu, dari tempat yang berjarak satu meter lebih dia melihat ada seseorang membawa buku, dalam pandangannya buku itu berkilau-kilau memancarkan sinar emas. Dia terkejut dan bergegas menerima buku itu lalu dibalik dan terlihat foto Shifu di dalam buku sama persis dengan wajah Shifu dalam mimpinya! Hari itu, 9 Juli 1998, adalah hari dimana Liu Meilian mulai berkultivasi (berolah-jiwa dan raga) Falun Gong.

Berkat 3 staf kantor gubernuran yang juga berlatih Falun Gong, maka Liu bersama 100 lebih praktisi yang tinggal di sekitar kantor itu diizinkan berlatih di halaman kantor.

“Dalam proses kultivasi, begitu mendengar dari kaset dan menonton VCD ceramah Shifu, citra dan suara Shifu sama persis dengan yang dia lihat dan dengarkan dalam mimpi,” kata Liu Meilian.

Mimpi buruk datang

Pada 20 Juli 1999, PKT mulai menindas Falun Gong. Ketika itu banyak orang di kota Fuzhou yang berlatih Falun Gong. Asalnya ada 4 titik berlatih di seluruh kota Fuzhou, yakni di timur, barat, selatan dan utara, mendadak semuanya dilarang.

Seorang Pembina pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi, ditangkap dan dikembalikan lalu dianiaya hingga tewas. Setiap hari ada yang ditangkap dan ada yang hilang diculik aparat keamanan. Liu Meilian terus menerima berita-berita buruk.

“Dafa yang begitu bagus ditindas, Shifu yang terhormat difitnah. Bagaimana ini?” Liu menangis sedih.

Mempertahankan keyakinan mengalami penganiayaan

10 Juli 2001, Liu Meilian pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi. Dia yang hampir 60 tahun umurnya dan tidak pernah ke Beijing, terpisah dengan dua teman yang bersama-sama ke Beijing. Dia tidak tahu Tianmen itu berada dimana, bertanya kesana kemari akhirnya tiba di Wangfujing. Saat itu hari sudah gelap, dia tidak berani tinggal di hotel takut KTP-nya ditahan. Untung bertemu dengan seorang satpam yang baik hati, malam itu dia duduk semalaman suntuk di depan pintu department store yang berada di Wangfujing.

Keesokan paginya satpam yang baik hati itu memberikan petunjuk dan barulah dia bisa sampai ke Tiananmen dengan lancar. Disana sudah ada banyak sekali orang yang berlatih. Sesampainya disana dia berteriak: “Falun Dafa Hao, Falun Dafa adalah Fa yang lurus.”

Setelah berteriak kesana kemari, polisi pada sibuk menangkapi para praktisi lainnya, diluar dugaan dia diabaikan begitu saja dan Liu pun bisa kembali ke Fuzhou dengan lancar.

Pada 2003, dalam proses membagikan materi klarifikasi Liu Meilian dilaporkan oleh seseorang lalu ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Liu Meilian berkata bahwa pemerintah setempat memberi imbalan hadiah kepada orang yang melaporkan, setiap melaporkan satu orang praktisi Falun Gong akan mendapatkan hadiah uang sebesar 6000 yuan. Saat itu di dalam tasnya masih terdapat 100 lembar materi. Akhirnya dalam sidang rahasia dia divonis dua tahun penjara di kamp kerja paksa wanita Fujian.

Di dalam kamp kerja paksa itu, Liu Meilian berkata kepada polisi-polisi disana “Dafa itu ajaib, Dafa itu menyelamatkan manusia.” Mungkin karena penduduk setempat mempunyai adat kepercayaan kepada Buddha dan Tuhan, kebanyakan polisi percaya, mereka memintanya memperlihatkan pasir yang dikeluarkan dari tubuh. Liu menyuruh sang suami membawa pasir itu, polisi-polisi itu melihatnya namun tidak ditunjukkan kepada orang lain. Mereka memasukkan pasir dalam air, pasir hitam itu larut menjadi air darah dan pasir kuning itu juga larut tapi berubah menjadi air berwarna kuning.

Suatu hari, karena Liu Meilian berteriak, “Falun Dafa Hao, Falun Dafa adalah Fa yang lurus,” dia dihukum berdiri selama 18 jam oleh polisi jahat. Setelah berdiri selama 18 jam sepasang kakinya membengkak, dua kaki dan pinggang sakit hingga hampir kaku, berjalan saja sangat sulit. Keesokan harinya setelah diketahui oleh polisi jaga, dia dipanggil ke kantor lalu disapa penuh simpati.

Setelah keluar dari penjara, Liu diawasi dengan ketat. Ketika itu tiga anak Liu Meilian sedang kuliah di Kanada semua. Polisi jahat mengancamnya akan menangkap ketiga anaknya dari luar negeri dan dijebloskan ke dalam penjara, sehingga sepasang suami-isteri tua ini selalu hidup dalam suasana ketakutan.

Mei 2005, putra Liu Meilian menjemput mereka berdua untuk pergi ke Kanada. Sekarang, Liu Meilian yang sudah berusia 74 tahun hidup tanpa susah dan risau di negeri yang demokratis. Orang tua baik yang seumur hidupnya tidak pernah emosional dengan orang lain itu, ketika bertutur tentang masa lalunya, sepasang matanya berlinangan air mata, penuh dengan rasa terima kasih terhadap Shifu Falun Gong. (lin/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular