Laut sekitar Inggris dan seluruh Eropa utara secara mengejutkan menyerap 24 juta ton karbon setiap tahun. Ini adalah massa setara dengan dua juta bus double decker atau 72.000.747 jet.

Jumlah itu dihasikan oleh para ilmuwan dengan mempelajari gerakan karbon dioksida yang masuk dan yang keluar dari lautan.

Tim yang dipimpin oleh Heriot-Watt University dan Exeter University, telah menciptakan perangkat lunak “mesin” yang akan memungkinkan para ilmuwan lain untuk melakukan hal yang sama untuk bagian lain yang berbeda di belahan dunia.

“Ini adalah kotak perangkat software penting, dan kami telah membuatnya,” kata Exeter Jamie Shutler.

Mereka telah menggunakannya untuk pekerjaan yg mereka lakukan, dan telah melakukan pengecekan secara ekstensif, dan sekarang mereka menempatkannya di luar sana untuk orang lain gunakan.

Jumlah karbon dioksida tersebut diserap oleh air laut yang bertindak sebagai modiator dalam sistem iklim. Diperkirakan sepertiga dari semua emisi CO2 yang dihasilkan manusia, dari pembakaran bahan bakar fosil dan sejenisnya, berakhir di lautan. Bagian yang lain diserap oleh tanah, dan sisanya beredar di atmosfer.

Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pembagian tersebut mungkin berubah dari waktu ke waktu. Seharusnya kapasitas lautan menjadi berkurang di masa depan, itu bisa menyebabkan percepatan dalam pemanasan atmosfer.

Ada juga kekhawatiran bahwa lebih banyak karbon dioksida larut ke dalam lautan, akan mengurangi pH air (suatu proses yang disebut pengasaman laut), sehingga sulit bagi karang dan organisme serupa untuk membangun bagian-bagian yang keras di tubuh mereka.

Dalam mengembangkan software-nya, tim internasional menggunakan kombinasi satelit dan pengukuran beban yang ditanggung kapal satelit.

Untuk menghitung fluks, para ilmuwan harus tahu kelarutan CO2 dalam air laut, serta kecepatan transfer gas. Kelarutan berasal dari kombinasi pengukuran suhu air permukaan dengan salinitas.

Dan kecepatan di mana karbon dioksida ditransfer diatur oleh kondisi dari permukaan laut tersebut, yang dipengaruhi oleh angin dan gelombang. Tingkat aktivitas biologis dalam air juga adalah sebuah faktor yang mempengaruhi

Dingin dan badai

Biasanya untuk mendapatkan lebih banyak karbon dioksida, diambil di lintang yang lebih tinggi di mana air lebih dingin dan banyak badai yang dapat mengaduk-aduk permukaan untuk meningkatkan transfer. Dan kemudian kita mengakhirinya dalam bentuk beberapa gas yang diberikan kembali ke atmosfer di lintang sekitar khatulistiwa.

Jadi, ia secara konstan terus bergerak berputar tetapi karena air akan ditarik ke dalam bagian-bagian yang sangat dalam dari lautan, karbon dioksida akan terkunci untuk jangka waktu yang lama sebelum lolos lagi.

Dr Shutler dan rekan-rekannya bersemangat untuk mulai menggunakan alat barunya yang dinamakan satelit Sentinel-3, diluncurkan awal bulan ini. Platform yang membawa seperangkat instrumen yang akan mengumpulkan banyak informasi data pengukuran yang diperlukan untuk menjalankan  mesin flux tersebut.

Alat tersebut memiliki altimeter yang dapat menentukan keadaan permukaan laut, dan sensor inframerah termal untuk memetakan suhu air. Dan kamera warna mengumpulkan data yang dapat digunakan untuk menafsirkan aktivitas biologis di dalam air – dapat melihat mekarnya fitoplankton yang mengkonsumsi karbon yang terlarut karena mereka berfotosintesis.

“Kami sekarang memiliki mesin fantastis ini di area orbit di mana semua pengukuran ini datang bersama-sama, tapi kita masih perlu alat (kapal) pengukuran ada di sana,” kata Dr Craig Donlon, ilmuwan senior Badan Antariksa Eropa pada Sentinel-3.

Mereka menngatakan, pengukuran tersebut benar-benar penting, dan mereka saat ini sedang mengambil sampel di dasar laut, merupakan tantangan terbesar. Khususnya, jika ingin melihat keseluruhan siklus karbon, maka perlu entah bagaimana caranya untuk mendapatkannya di tempat-tempat yang benar-benar sulit dijangkau, turun ke dasar laut untuk mengumpulkan dari tempat-tempat yang dalam.

Sentinel-3 telah diluncurkan pada puncak peristiwa El Nino yang merupakan saksi kapal dramatis dalam aliran air permukaan yang hangat di lautan Pasifik. Dampak dari fenomena tersebut mempunya fluks karbon yang secara intensif akan dipelajari.

Penelitian Flux Engine dijelaskan dalam Journal of Atmospheric and Oceanic Technology.

Penelitian ini juga melibatkan Plymouth Marine Laboratory, National Oceanography Centre dan Environmental Research Institute, North Highland College UHI, serta IFREMER di Perancis dan Institute of Oceanology of the Polish Academy of Sciences. (bbc/ran)

Share

Video Popular