Mendidik dan mengasuh seorang anak yang “sukses” tidak ada rumusan yang pasti, namun berdasarkan rangkuman hasil penelitian baru-baru ini yang dimuat di media AS Business Insider tentang kesamaan dari orang tua anak yang sukses. Berikut adalah bagian ke-2 dari 10 kesamaan dari orangtua anak-anak yang Sukses :

5. Pendidikan mereka umumnya agak tinggi

Sandra Tang, ilmuwan ilmu Psikologi dari University of Michigan Amerika Serikat pada tahun 2014 menyelenggarakan sebuah studi yang menemukan bahwa ibu yang pernah mengenyam pendidikan SMA atau Universitas lebih cenderung mengatur anaknya menerima pendidikan yang setara dengannya. Studi terhadap 14.000 lebih anak-anak AS yang baru masuk TK antara 1998-2007 menemukan bahwa anak dari ibu yang belum dewasa (di bawah 18 tahun), yang bisa menyelesaikan pendidikan SMA atau kuliah di Universitas, jumlahnya ternyata lebih sedikit.

6. Mereka menyuruh anak-anak belajar matematika sejak dini

Sebuah meta analisis pada tahun 2007 terhadap 35.000 anak-anak prasekolah dari AS, Kanada dan Inggris menunjukkan bahwa anak-anak belajar keterampilan ilmu matematika sejak usia dini adalah sangat penting, paling baik adalah ketika mereka masuk sekolah sudah menguasai cara menulis angka, urutan angka serta konsep-konsep matematika dasar. Greg Duncan anggota penelitian dari Northwestern University AS yang ikut berpartisipasi berkata: “Taraf seorang anak balita menguasai ketrampilan matematika dasar, bukan saja bisa memprediksi prestasinya di bidang matematika, juga bisa mencerminkan kemampuan di bidang membacanya kelak.”

7. Mereka membangun hubungan yang baik dengan anak-anak

Sebuah studi pada 2004 terhadap 243 anak yang terlahir di keluarga miskin menemukan bahwa anak-anak yang dirawat dengan perhatian penuh sebelum mereka berusia 3 tahun, tidak hanya prestasi mereka dimasa kanak-kanak lebih bagus, ketika mereka berusia 30 tahun lebih juga memiliki hubungan antar manusia yang lebih sehat serta level pendidikan yang lebih tinggi. Menurut artikel blog psikologi terkenal Psy Blog, orangtua yang bisa mengurus anak dengan teliti “bisa merespon sinyal yang dikeluarkan oleh anak tepat waktu dan wajar”, serta menemani anak menjelajahi dunia “menyediakan sebuah pelabuhan yang aman”.

Lee Raby psikolog dari University of Minnesota AS ketika diwawancarai berkesimpulan: “Orangtua yang sejak dini berinvestasi dibidang hubungan orangtua-anak, seumur hidup mereka akan mendapatkan balas budi dalam jangka waktu panjang.

8. Mereka lebih jarang mengalami tekanan

Brigid Schulte penulis sebuah artikel Washington Post tahun lalu mengutip sebuah penelitian yang mengatakan bahwa lamanya waktu seorang ibu menemani anaknya yang berusia 3 hingga 11 tahun, tidak terkait dengan perilaku, rasa kebahagiaan dan prestasi anak tersebut; Bahkan cara kerja dari “orangtua keras” atau “orangtua tipe dadakan” mungkin malah kontraproduktif.

“Seorang ibu yang stres, terutama karena tekanan kerja dan sulit mendapatkan waktu untuk bergaul dengan anaknya, sebenarnya memiliki efek buruk terhadap anak.” Salah satu penulis penelitian tersebut, Kei Nomaguchi sosiolog dari Bowling Green State University mengatakan kepada Washington Post, hal ini adalah dikarenakan emosi sama dengan influensa yang bisa menular. Sama seperti kebahagiaan atau kesedihan kerabat atau sahabat bisa memengaruhi kita, maka jika orangtua letih sekali atau frustasi maka keadaan emosional mereka mungkin bisa ditranferkan kepada anak.

9. Lebih pentingkan proses dari usaha keras dan tidak khawatir gagal

Dari pandangan anak-anak terhadap bagaimana mendapatkan kesuksesan juga bisa memprediksikan manifestasi mereka dikemudian hari.

Carol Dweck psikolog dari Stanford University menemukan bahwa pemahaman anak-anak (dan orang dewasa) tentang kesuksesan pada umumnya ada dua cara yang berbeda. Seperti deskripsi Maria Popova:

1) “Pemikiran tetap”, yakni dengan asumsi karakter, kecerdasan dan kemampuan untuk berinovasi kita itu adalah statis, berpendapat bahwa kesuksesan itu adalah kumpulan dari faktor-faktor tersebut untuk mencapai standar tertentu yang sudah ditetapkan; oleh karena itu, demi mempertahankan kepandaian dan perasaan diri sendiri memiliki ketrampilan maka orang-orang tidak segan mengejar kesuksesan dengan segala pengorbanan dan menghindari kegagalan.

2) “Sikap pertumbuhan”, yakni tidak beranggapan bahwa kegagalan itu sebagai bukti dari tidak cukup cerdas, melainkan memandang kegagalan itu sebagai penyemangat yang mendorong pertumbuhan dan memperkuat daya hidup.

Dua cara pemikiran ini berpengaruh kuat terhadap anak. Jika seorang anak diberitahu bahwa nilai ujiannya bagus karena dia pandai maka ini termasuk “pemikiran tetap”; Jika orangtua menganggap itu adalah hasil usaha keras dari anak maka pelajaran yang didapatkan anak tersebut adalah “sikap pertumbuhan”.

10. Ibu mempunyai pekerjaan

Penelitian dari Harvard Business School menemukan bahwa ibu yang pergi bekerja sangat bermanfaat terhadap pertumbuhan anak. Ibu yang pergi bekerja, jangka waktu menuntut ilmu anak-anak mereka lebih panjang, kemungkinan besar bisa mendapatkan pekerjaan berjabatan tinggi, penghasilan mereka lebih banyak 23% dibandingkan dengan anak seumuran yang tumbuh dewasa oleh seorang ibu rumah tangga.

Jika ibu mereka bekerja maka anak-anak mereka acapkali mempunyai banyak kesempatan berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga dan membantu mengasuh adik-adik – studi menemukan bahwa mereka rata-rata menghabiskan 7,5 jam setiap minggu untuk mengasuh adik-adik mereka, juga lebih lama 25 menit untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Profesor Kathleen L.Mc Ginn dari Harvard Business School berpendapat bahwa “membentuk peran” oleh orang tua akan bisa meneruskan informasi tentang perilaku pantas dan konsep yang pantas kepada anak. Keluarga ibu yang mempunyai pekerjaan, anak-anak mereka lebih sedikit memiliki konsep “ketidaksetaraan gender”. (Lin)

Share

Video Popular