Inovasi Teknologi LIPI Plastik Ramah Lingkungan

940

JAKARTA – Plastik banyak membantu kehidupan manusia menjadi lebih praktis, karena sifatnya yang lebih ringan, awet dan murah dibandingkan dengan kayu, kertas ataupun logam. Namun demikian penggunaan plastik yang berlebihan misalnya untuk kemasan pangan, peralatan rumah tangga ataupun mainan anak-anak, dapat mengganggu kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup karena sifat plastik yang sulit terurai secara alami.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono, mengatakan plastik terbuat dari minyak bumi melalui proses polimerisasi di mana ikatan kimia pada polimer tersebut sangat kuat dan sulit untuk diputuskan. Dibutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat mengurai sampah plastik yang ada di alam dan menjadi semakin sulit akibat penambahan berbagai bahan kimia lain seperti plasticizer (pelentur), antioksidan, stabilizer ataupun aditif lain.

Menurut Agus, penggunaan plastik yang tidak benar dan tidak sesuai dengan kegunaannya bisa berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Berbagai jenis bahan kimia tambahan serta monomer tersisa yang tak bereaksi pada plastik bisa menyebabkan berbagai bahaya kesehatan seperti penyakit kanker, gangguan reproduksi, radang paru-paru dan lain sebagainya, terang Agus.

Ia menambahkan Puslit Kimia LIPI telah berupaya membuat berbagai inovasi teknologi untuk mengatasi permasalahan limbah plastik. Beberapa inovasi teknologi tersebut antara lain, Plasticizer turunan minyak sawit. Plasticizer ini adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi plastik untuk menambah sifat kelenturannya, terutama untuk plastik PVC (polivinil klorida).

Beberapa jenis plasticizer turunan phthalate yang umum digunakan dapat menyebabkan gangguan reproduksi atau gangguan hormonal pada kesehatan manusia, saat ini phthalate sudah mulai dilarang di berbagai negara, terutama di negara-negara Uni Eropa. Adapun plasticizer turunan minyak sawit mempunyai sifat yang lebih aman.

Inovasi lainnya adalah Bioplastik yang dikembangkan dengan menggunakan bahan terbuat dari tapioka, selulosa dan poliasam laktat. Bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional, karena sifatnya yang mudah terurai secara sempurna oleh mikroba yang ada di dalam tanah atau dalam air. Bioplastik dapat terurai dalam waktu yang relatif pendek, sehingga permasalahan lingkungan bisa teratasi.

Teknologi sampah plastik selanjutnya adalah Mobile Insenerator. Menurut Agus limbah plastik bersifat ringan tetapi memiliki volume yang tinggi sehingga tidak selalu ekonomis untuk diolah secara terpusat. Sedangkan membakar sampah plastik di lingkungan terbuka sangat berbahaya karena bisa menyebabkan timbulnya gas dioksin dan furan yang dapat menyebabkan penyakit kanker.

Mobile insenerator adalah alat pengolah limbah, termasuk limbah plastik yang bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Pengolahan limbah plastik dengan menggunakan mobile insenerator dapat membantu untuk mengatasi permasalahan limbah plastik yang dikumpulkan pada beberapa tempat. Insenerator ini dapat mengolah sampah plastik tanpa perlu khawatir timbulnya gas dioksin yang berbahaya. (asr)