JAKARTA – Gerhana Matahari Total diprediksi akan melintasi sebagian wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016. Peristiwa ini merupakan kejadian langka yang terjadi setiap bulan, Indonesia sudah pernah mengalami gerhana matahari pada 1983 dan 1988 silam. Lalu apakah ada efeknya ketika menatap langsung gerhana matahari? berbeda zaman orde masyarakat justru diimbau tak menatap, walaupun menggunakan alat khusus.

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, menganjurkan kepada masyarakat agar tak menatap langsung ke arah datangnya sinar matahari pada saat terjadi gerhana matahari total. Dia menyarankan kepada masyarakat agar  melihat pantulannya saja atau menggunakan kacamata yang benar-benar anti ultraviolet.

Menurut dia, walaupun ada kacamata berwarna hitam, namun belum tentu memiliki anti ultraviolet. Menkes menganjurkan bila tidak ingin melewati GMT tahun ini, masyarakat dapat menyiapkan alat filter atau kacamata khusus.

Lalu apakah ada efeknya juga menatap langsung?  “Pada saat kita menatap ke arah GMT maka akan menyebabkan pupil membesar dan sinar UV akan masuk ke dinding retina (macula). Fenomena ini akan menyebabkan kerusakan pada retina mata bahkan mengalami kebutaan,” ujarnya dalam rilis resmi dikutip, Sabtu (5/3/2016).

Gerhana Matahari pada 9 Maret 2016 dengan magnitude 1,045 lebar jejak 100-155 Km, gerhana matahari total terlama selama 4 menit di Fasifik. Gerhana matahari total yang akan terlihat di Indonesia lamanya berdurasi 1,5-3 menit. Sementara gerhana matahari sebagian diprediksi akan terjadi pada seluruh wilayah di  Indonesia.

GMT tersebut akan melintasi 12 provinsi di Indonesia yakni; Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara serta sejumlah kota besar seperti;  Palembang, Tanjung Pandang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu,  Ternate, dan Sofifi. (asr)

 

Share

Video Popular