- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Mengapa Orang Kaya Tiongkok Justru Mempercepat Pelarian Modal?

Oleh Ding Lukai

Pelarian modal warga Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir terus mendapat perhatian. Menurut lembaga keuangan internasional, dana yang dilarikan keluar Tiongkok pada tahun lalu diperkirakan berada antara USD. 0.8 s/d 1 triliun.

Pemerintah Tiongkok mengklaim memiliki lebih USD. 3 triliun sebagai cadangan devisa, tetapi jika dana mengalir keluar secepat yang terjadi sekarang, maka tak lama cadangan itu akan habis terkuras. Pada saat itu, nilai mata uang Tiongkok akan menurun hingga memicu krisis ekonomi yang membahayakan rezim berkuasa.

Pemerintah Tiongkok pasti tidak menghendaki hal itu terjadi, oleh karena itu mereka memperketat aliran dana, mencoba untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai regulasi yang ketat.

Namun, kaum regal Tiongkok pasti sangat jelas dengan situasi ekonomi saat ini, mereka tentu berusaha untuk menyelamatkan kekayaan mereka, mentransfer dana ke luar negeri dengan 8 cara umum sebagai berikut:

Pertama, membeli valuta asing di pasar gelap Hongkong.

Kedua, melalui cek yang dikeluarkan oleh Bank gelap milik warga Daratan.

Ketiga, menggunakan cara “semut berpindah sarang.”

Keempat, berwisata dengan membawa sejumlah besar uang kontan.

Kelima, mengambil KPR luar negeri yang angsurannya dilakukan melalui rekening Bank dalam negeri.

Keenam, membayar kartu kredit atas pembelian sejumlah barang di luar negeri untuk kemudian ditukarkan kembali dengan uang kontan.

Ketujuh, melalui transaksi item-item rutin dengan perusahaan perdagangan di luar negeri.
Kedelapan, membayar ganti rugi yang disengaja kepada perusahaan asing untuk kemudian diuangkan kembali.

Kaum regal Tiongkok umumnya memiliki hubungan dekat dengan pejabat. Berkolusi dengan mereka untuk menciptakan keuntungan. Karena itu daya penciuman politik mereka biasanya juga kuat atau cukup sensitif.

Mentalitas dasar para regal Tiongkok adalah ‘bekerjasama’ dengan pejabat lebih mudah untuk mengumpulkan kekayaan. Menciptakan proyek, mendirikan perusahaan agar perekonomian meningkat. Pemodal mengambil keuntungan berupa dana dan pejabat meraih keuntungan berupa prestasi dan kenaikan pangkat, menciptakan solusi menang-menang.

Situasi kini sudah perubahan. Pemerintah pusat sedang berusaha keras untuk mengekang pelarian modal. Namun dalam situasi demikian ini orang-rang kaya justru berlomba untuk memindahkan kekayaan bahkan ingin bermigrasi. Sesungguhnya di bidang ekonomi, mereka sudah berperan konfrontatif dengan rezim yang berkuasa.

Secara umum, hal itu diakibatkan oleh 3 alasan berikut:

Pertama, Pemerintah Tiongkok sedang gencar menggebuk koruptor dan kaum regal ini tidak bersedia dijadikan kambing hitam ikut terlibat dalam kasus, sehingga berupaya memindahkan kekayaan, mempersiapkan jalan belakang. Secepatnya bersembunyi di luar negeri begitu melihat ada tanda-tanda yang kurang menguntungkan posisi mereka.

Kedua, banyak kaum regal Tiongkok sendiri juga bermasalah. takut masuk penjara karena kasusnya terungkap. Oleh sebab itu mereka berusaha untuk memindahkan sebanyak mungkin kekayaan ke luar negeri bahkan secara diam-diam mengurus migrasi demi keselamatan diri dan keluarga.

Ketiga, ketidakpastian yang tinggi dan perubahan drastis dalam sistem pemerintahan Tiongkok yang sulit diduga. Dalam perjalanan bangsa, Partai Komunis Tiongkok/ PKT dengan mudah dan sering melakukan perampasan seluruh kekayaan para kapitalis nasional. Beberapa tahun lalu, Bo Xilai di Chongqing juga menggunakan slogan “memberantas koruptor” untuk menghabisi perusahaan swasta nasional dan menyengsarakan pemilik beserta keluarganya. Karena itu, sebuah kesimpulan terbentuk dalam benak para orang berduit di Tiongkok yakni, menjauhi sistem komunis dan menyelamatkan kekayaan sedini mungkin.

Dapat dikatakan bahwa pemindahan kekayaan kaum regal Tiongkok itu dikarenakan kepentingan ekonomi dan politik. Dan ini merupakan salah satu fenomena Partai Komunis Tiongkok sedang menuju keruntuhannya karena mengabaikan nurani dan budi pekerti selama lebih dari 6 dekade mereka berkuasa.

Pemindahan dana ke luar negeri di sisi lain juga akan berdampak langsung kepada nilai tukar Renminbi. Devaluasi merupakan sebuah pukulan telak pada rezim yang berkuasa. Ditambah lagi dengan perpecahan di kalangan pimpinan atas, meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan PKT. Kesemuanya ini merupakan elemen sosial kuat yang memicu terjadinya perubahan besar di daratan Tiongkok. (sinatra/rmat)