Sang pria berasal dari Mars, sementara si wanita dari Venus, keduanya berada di satu tempat dengan sisi yang tidak sama, masing-masing punya formulasinya, dan mungkin ini telah menjelaskan mengapa antara pria dan perempuan itu tidak bisa menjadi teman sejati. Apalagi dengan adanya faktor hormon seks, kebersamaan pria dan wanita dalam satu tempat itu sangat sulit untuk tidak menurutkan dorongan hati (emosi jiwa) ; ditambah lagi dengan dorongan hati yang cemburu, sehingga tidak heran, sesabar dan serasional apa pun orangnya, gejolak jiwanya juga tetap akan berkecamuk melihat pasangannya berteman akrab dengan lawan jenis. Singkat kata, laki-laki dan perempuan itu memang memiliki perbedaan besar secara bawaan, jadi mustahil hanya murni sekadar menjadi teman.

Apakah faktanya memang seperti itu ? Menurut penuturan ahli gender, ia yakin pria dan wanita mustahil bisa murni hanya sekadar menjadi teman sebagaimana era “kaum pria mencari nafkah di luar, sementara kaum wanita mengurus pekerjaan rumah tangga di rumah”, timbulnya perasaan (cinta) satu-satunya bagi pria dan wanita pada era itu adalah saat berpacaran. Namun, pergeseran budaya, interaksi sosial, berbagi hobi olahraga, dan bekerja bersama mereka sekarang telah mendorong psikolog, sosiolog dan ahli komunikasi mencetuskan sebuah pandangan baru : pria dan wanita bisa murni hanya menjadi teman yang sangat dekat, meskipun hubungan yang pelik itu cukup sulit, tapi, ada alasan yang kuat untuk seperti itu.

Kaum pria bisa mendapatkan manfaat dari teman lawan jenis

Ada perbedaan yang tajam antara pria dan wanita dalam aktivitas persahabatan dengan sesama jenis masing-masing. Kebersamaan kaum perempuan, sebagian besar waktunya untuk mendiskusikan pandangan dan kesan (perasaan) mereka ; sementara kebersamaan pria lebih condong pada kegiatan kelompok, olahraga bersama, rekreasi atau berbicara tentang dunia, jarang berbagi tentang perasaan atau pikiran pribadi masing-masing.

Dalam buku yang berjudul “We’re Just Good Friends “ karya Kathy Werking dari Eastern Kentucky University, Amerika Serikat, disebutkan bahwa hal yang biasa dilakukan antar teman lawan jenis itu lebih condong feminim, dan yang paling sering adalah ngobrol bersama, atau meski keluar untuk sekadar makan atau jalan-jalan juga saling berkomunikasi satu sama lain. Dengan seringnya bertukar perasaan, pandangan dan ide-ide, kedua belah pihak bisa dengan sangat mudah mendapatkan dukungan emosional.

Menurut penelitian psikolog Linda Sapadin di New York, AS, kaum pria beranggapan bahwa sukacita dan tingkat manfaat dari pertemanan dengan lawan jenis itu jauh lebih tinggi dibanding dengan persahabatan sesama jenis mereka. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar hal pribadi yang dibicarakan dengan (teman) wanita itu tidak akan diungkapkan dengan teman akrab mereka (pria).

Wanita bisa mendapatkan manfaat dari teman lawan jenis

Berbagi dan diskusi antara perempuan cenderung terlalu sepele (tidak berarti), dan melelahkan, ini bisa dipahami jika punya pengalaman sepanjang malam menghibur seorang wanita yang sedang dilanda kesedihan mendalam. Namun, terhadap teman laki-laki, kaum wanita bisa bercanda atau kelakar positif tanpa dibebani dengan emosi (perasaan), persahabatan dengan laki-laki itu jauh lebih menarik dan menyenangkan, sementara kaum pria tidak akan begitu sensitif.

Ada juga kaum wanita yang menganggap laki-laki itu sebagai kakaknya, suka mendapatkan perlindungan dan perasaan atau kehangatan tanpa sengaja layaknya keluarga dari (teman) laki-laki. Dan yang paling mereka sukai adalah bisa lebih dalam memahami pikiran pria.

Tantangan dalam perkembangan dengan teman lawan jenis

Meskipun kaum pria dan wanita masing-masing bisa mendapatkan manfaat dari persahabatan lawan jenis, namun, para ahli juga menemukan adanya tantangan dalam persahabatan lawan jenis ini. Selama ini, masyarakat memandang cinta itu sebagai hubungan antara pria dan wanita yang tipikal, namun, terhadap model persahabatan Plato ini, kita merasa bingung tidak mengerti, bahkan tidak tahu bagaimana mendefinisikannya.

Karya film klasik yang terkenal berjudul “When Harry Met Sally”meyakinkan penonton, bahwa selalu ada sisi hubungan suami istri antara laki-laki dan perempuan, persahabatan sejati adalah mustahil ; sementara tayangan di TV juga kerap mengisahkan akhir dari persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu berakhir dengan cinta. Kesan-kesan budaya ini sulit diatasi, jadi tidak heran kita selalu mengharapkan hubungan antara pria dan perempuan itu melangkah ke dalam percintaan yang romantis. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Bersambung…..

Share
Tag: Kategori: MISTERI SERBA SERBI

Video Popular