Oleh: Gao Tianyun

Aktor terbaik piala Oscar ke-88 Leonardo DiCaprio telah memperlihatkan watak sejatinya. Leonardo yang baru pertama kali memperoleh piala Oscar, dalam sambutannya menyerukan masyarakat untuk peduli pada perubahan iklim dunia. Ia mengatakan, ”Kita jangan menganggap bumi kita itu memang sewajarnya adalah demikian, saya juga tidak menganggap (perolehan hadiah) malam ini memang sewajarnya adalah demikian.”

Leonardo giat sekali dalam aktivitas kepentingan publik, terutama sangat memerhatikan masalah iklim (lingkungan hidup). Desember tahun lalu ia pernah menghadiri KTT Masalah Iklim di Paris. Kali ini film yang membantunya memperoleh piala adalah “The Revenant (Pemburu Hutan Belantara),” yang menceritakan hubungan antara manusia dengan dunia alam liar.

”Dunia ini, di tahun 2015 telah kita rasakan tahun yang paling panas dalam sejarah. Agar dapat menemukan salju, regu pemain film kami terpaksa beralih ke tempat ujung selatan dunia. Perubahan iklim memang benar-benar nyata, sekarang pun sedang berlangsung. Ini merupakan ancaman paling mendesak yang dihadapi oleh umat manusia, kita perlu bersama-sama bekerja keras, jangan ditunda-tunda lagi,” kata Leonardo daam upacara pembagian penghargaan.

Kata “Nature (alam)” berasal dari bahasa latin “Natura,” yang bermakna, “Jalurnya segala materi langit dan bumi.” Dalam literatur paling awal hanya berarti tumbuh-tumbuhan, sekarang mencakupi tumbuh-tumbuhan, dunia hewan dan karakteristik internal yang diwujudkan pada wajah dunia itu sendiri. Nature memiliki sebuah sisi yang indah, megah dan lembut, dia memberi umat manusia berbagai jenis harta subtansi, di dalamnya terkandung daya hidup yang tiada batas. Namun, ketika alam marah menunjukkan keperkasaannya, akan membuat umat manusia betul-betul merasakan begitu kecil dirinya dan iptek yang begitu lemah. Merasakan kekuatan sang penguasa di tengah kesamar-samaran, sudah cukup membuat hati kehidupan timbul rasa takut dan melakukan intropeksi diri.

Beberapa tahun belakangan ini, para ilmuwan dari berbagai bidang telah menemukan banyak sekali perubahan abnormal alam, spesies, iklim, galaksi dan lain-lain. Sebagai contoh, berita terkini dari kutub utara adalah seiring terus meleleh dan kian cepat menyusutnya gunung es di seluruh dunia, terjadilah perubahan pada medan gravitasi bumi dan poros bumi mengalami pergeseran. Suku Inuit (eskimo) di Kutub Utara telah memerhatikan, kutub utara tidak memiliki lagi langit seperti dahulu. Baru-baru ini organisasi ilmuwan seluruh dunia telah mengumumkan, akan melakukan penilaian selama 3 tahun dan meneliti perusakan manusia terhadap alam jagad, demi melindungi flora dan fauna agar terhindar dari faktor ancaman pencemaran dan perubahan iklim.

Pada 11 Februari 2016, Lembaga Strategi Pengurangan Bencana Internasional dari PBB (UNISDR) mengumumkan laporan terbarunya. Pada 2015 merupakan tahun terpanas sejak diadakan pencatatan. Anomali iklim telah menimbulkan bencana alam yang memengaruhi hampir 100 juta manusia di dunia, 346 kali bencana alam yang terjadi di seluruh dunia telah mengakibatkan 22 ribu orang tewas, kerugian ekonomi lebih dari 66 miliar US$ (875 triliun Rupiah). Bencana alam yang paling parah adalah bencana kekeringan dan bencana banjir.

Tahun lalu, bencana terparah keseluruhannya terjadi di negara-negara Asia. Daratan Tiongkok menempati urutan pertama, telah terjadi 26 bencana, gempa bumi, badai pasir, hujan badai, gelombang hawa dingin, sangat mengerikan. Pada April 2015 gempa bumi dan kebakaran besar berbarengan terjadi di provinsi Mongolia Dalam. Pada 15 April sore jam 2, warna langit di wilayah Arxan berubah menjadi merah, selanjutnya menjadi hitam dan tak terduga turunlah hujan hitam. Pada November 2015, kota Beijing, provinsi Liaoning, kota Changcun, Harbin, Tianjin dan provinsi Hebei RRT juga mengalami pencemaran kabut pekat yang sangat serius. Di wilayah timur laut RRT, konsentrasi partikel PM2.5 meningkat 50 lipat dari nilai tertinggi yang diumumkan oleh WHO. Ahli perlindungan lingkungan menyatakan, ini merupakan catatan tertinggi dalam sejarah Tiongkok. Pada Januari 2016, di berbagai wilayah RRT mengalami serangan gelombang ekstra dingin, di kota Guangzhou telah terjadi hujan salju yang baru pertama terjadi dalam 50 tahun terakhir.

Seringnya terjadi bencana alam akan langsung mengganggu kehidupan normal manusia, bahkan mengancam keamanan jiwa manusia. Untuk itulah, masyarakat beramai-ramai membicarakan perubahan fenomena alam yang abnormal dan menyelidiki berbagai jenis penyebab di belakangnya. Disaat ini, makna mendalam dari inspirasi konsep “Manusia dan Langit menyatu” dari zaman Tiongkok kuno muncul kembali. Dahulu kaisar atau raja menyembah langit dan bumi, berdoa memohon cuaca yang berjalan normal, sedangkan terjadinya bencana alam sering kali merefleksikan tindakan brutal dari penguasa lalim di bumi. Mengamati fenomena langit, memprediksi kejayaan atau keruntuhan (dinasti), sungguh riil dan tidak meleset.

Di zaman kuno manusia dan alam menjalin hubungan interaksi yang sangat indah, alam jernih dan bertuah, terjalin hubungan yang selaras antara materi dan manusia. Kembali ke alam (back to nature), merupakan olah rasa dan pelaksanaan seorang ksatria. Sebuah syair yang ditulis oleh Li Bai (701-762), seorang penyair termasyur zaman Dinasti Tang berbunyi, ”Tanya saya mengapa beristirahat di gunung nan hijau, dengan hati santai tersenyum bungkam. Bunga Persik dan aliran kali mengalir jauh, bagai kayangan jauh dari bumi dan dunia manusia.” (dikutip dari “Tanya Jawab di tengah Gunung”)

Kini, anomali dari alam, merupakan kenyataan serius yang harus dihadapi oleh seluruh umat manusia, suara yang sama, datang dari Barat dan Timur, menyampaikan seruan menggelegar, “Hormatilah alam, lindungi dan cintailah alam, sayangilah planet Bumi kita ini.”

Bersamaan dengan mendesak pemerintahan berbagai negara untuk mengambil tindakan nyata, setiap orang di bumi juga perlu melakukan instropeksi mendalam, belajar kearifan dan hikmah peradaban kuno serta menjadikan sejarah sebagai cermin. Irama alam merupakan urat nadi prinsip Langit. Bertindak mengikuti prinsip Langit, memilih kebajikan menuntut prinsip sejati dan tidak menya-nyiakan anugerah alam, baru dapat memiliki masa depan yang indah. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular