Oleh CNA Mauritania

Sekretaris Jenderal PBB asal Korea Selatan, Ban Ki-moon memperingatkan bahwa di bawah ancaman teror Islamic State (IS), masa depan Libya dan stabilitas keamanan daerah Sahel menjadi tidak terjamin. Ia juga menghimbau semua negara kuat untuk tidak menyulut kobaran konflik.

Ban Ki-moon pada Sabtu (5/3/2016) meninggalkan Mauritania dan berkunjung ke Aljazair yang merupakan rentetan dari jadwal perjalanan kali ini ke Afrika bagian barat dan utara.

Saat berada di ibukota Mauritania, Nouakkchott kepada Presiden Mohamed Ould Abdel Aziz dan Perdana Menteri Yahya Ould Hademine ia menyinggung bahwa ia pribadi sangat khawatir dengan situasi di Libya.

“Laporan yang mengkhawatirkan menunjukkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia secara umum terjadi di Libya, termasuk seriusnya perlakuan kejam terhadap oposisi. Pihak yang memiliki pengaruh akan menggunakannya untuk menenangkan situasi termasuk menghentikan peperangan. Namun dengan masuknya pemain kunci asing akan membuat kobaran terus terjadi di mana hal ini merupakkan tindakan yang tidak bertanggung jawab,” kata Ban Ki-moon..

Ban Ki-moon mengatakan, keberhasilan mennstabilkan situasi di Libya, juga membawa manfaat bagi seluruh wilayah Sahel dan dunia. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular