Oleh Qin Yufei

Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang dalam Dwi Konferensi di Beijing, pada Sabtu (5/3/2016) telah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi 2016 yang sudah disesuaikan menjadi tertarget antara 6.5 – 7 %. Namun, pihak asing masih menilainya sebagai setali tiga uang, karena pertumbuhan ekonomi yang sudah loyo itu masih mengandalkan dorongan dari pengucuran dana kredit.

Wall Street Journal (WSJ) dalam laporannya menyebutkan bahwa angka penyesuaian itu masih dinilai terlampau tinggi dan sulit untuk dicapai, mungkin saja Beijing akan melakukan suatu tindakan yang tidak seharusnya dilakukan, yaitu kembali mengucurkan dana kredit demi memenuhi target.

WSJ mengutip angka yang terdapat dalam laporan kerja pemerintah melaporkan bahwa jumlah uang beredar dan kredit tahun ini akan ditambah lagi dengan 13 %. Jumlah ini dinilai masih lebih tinggi dari target yang ditentukan tahun lalu, apalagi pinjaman yang dilepas tahun lalu saja sudah melampaui 13.5 %. Oleh karena itu, otoritas Beijing belum mampu menghilangkan kecanduan memacu pertumbuhan ekonomi lewat pelepasan kredit.

Tingkat inflasi harga konsumen tetap stabil berada di angka 3 %, tetapi pertumbuhan tahun lalu yang hanya 1.4 % menunjukkan bahwa Tiongkok masih sulit untuk mencapai tingkat inflasi dasar. Hal ini menjadi penting, karena jika inflasi dasar tidak tercapai, maka akan menjadi beban dalam pembayaran hutang. Tetapi, jika saja Tiongkok dalam kenyataannya berhasil mencapai target inflasi dan pertumbuhan, menjadikan PDB menggapai angka 9.5 %. Sudah dapat dipastikan bahwa jumlah kredit akan membumbung tinggi. Dan itu berarti bahwa deleveraging (pengurangan tingkat utang di sektor swasta dan pemerintah) sama sekali tidak terjadi di Tiongkok.

Selain itu, rasio difisit terhadap PDB juga akan naik dari 2.4 menjadi 3 %. Laporan kerja pemerintah menyebutkan, meningkatnya difisit itu berasal dari pemotongan pajak bukannya pemerintah yang menaikan anggaran belanjanya. Bila hal ini benar, maka kabar gembira ini tentu dinanti-nantikan oleh perusahaan.

Laporan kerja juga menyinggung tentang penyelesaian masalah kelebihan kapasitas industri khususnya seperti produksi besi dan baja serta bahan baku yang menyebabkan banyak BUMN menjadi perusahaan zombie. Komitmen untuk melakukan reformasi pada bidang ini sebenarnya sudah lama dibicarakan meskipun kali ini terasa lebih tulus. Bila saja otoritas melaksanakan komitmen mereka, maka orang akan melihat sejumlah industri mengalami kebangkrutan, reorginasasi dan atau merger sudah menjadi kebutuhan.

Investor dalam perjalanan waktu senantiasa akan terus menyisir setiap komitmen pemerintah. Dalam laporannya Li Keqiang mengatakan bahwa pemerintah berjanji akan merangsang pasar mobil sekunder, ini merupakan kabar baik buat produsen mobil Tiongkok. Ia juga menyebut akan mengurangi sejumlah lahan budidaya jagung,. Berita ini bisa membuat para petani di Iowa, AS dan Brazil tersenyum lega karena harga jagung terus menurun selama 2 tahun terakhir.

Namun demikian, wajah Tiongkok secara umum masih saja tidak berubah. Pertumbuhan ekonominya masih melamban, hutang yang sulit untuk dibayar tetap menggunung. Tampaknya, upaya mati-matian otoritas Beijing belum cukup menenteramkan hati masyarakat dunia. (sinatra/rmat)

 

Share

Video Popular