Dokter mengatakan, bahwa jamuan makan di saat pergantian tahun baru, khususnya tahun baru imlek, maka penderita penyakit asam lambung (GERD) juga meningkat dua kali lipat. Kang Ben-Chu, dokter bidang gastrointestinal di klinik Shu Tian, Taipei , Taiwan, mengatakan, penyakit asam lambung rentan terjadi pada mereka yang obesitas, perokok, penikmat kopi, dan orang-orang yang suka atau terbiasa makan cepat, juga rentan menyerang mereka yang pola makan tiga kali seharinya tidak teratur. Selain itu juga rentan terjadi pada mereka yang memiliki riwayat penyakit terkait, atau mereka yang kerap makan malam (diluar pola makan normal) lalu tidur.

Kelebihan berat badan juga dapat meningkatkan tekanan atau beban pada perut, dan ini merupakan faktor utama terjadinya acid reflux (asam lambung). Setelah makan, sekresi asam lambung meningkat, isi lambung berbalik ke esofagus saat berbaring, sehingga menyebabkan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Kebanyakan orang mengira terjadinya Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) karena kelebihan asam lambung, sebenarnya faktor utama yang memicu GERD atau acid reflux adalah penutup sphincter yang terletak di persimpangan antara esofagus dan lambung itu tidak tertutup rapat, sehingga asam lambung dan isi lambung lainnya berbalik ke esofagus (saluran kerongkongan), sementara kopi, makanan manis dan sejenisnya itu adalah faktor utama yang menyebabkan sphincter itu tidak tertutup rapat, ujar dokter Kang Ben-chu di klinik Shu Tian, Taipei, Taiwan.

Jika terjadi gejala nyeri seperti terbakar, muntah cairan asam, sakit di tenggorokan dan nyeri dada, sensasi aneh di tenggorokan, disfagia (kesulitan menelan makanan), batuk kronis, gejala refluks esofagus, selain memeriksakan diri ke dokter secepatnya, sebaiknya juga kurangi makanan asam, termasuk buah sejenis jeruk asam, tomat, bawang, minuman berkarbonasi, makanan pedas, kopi, makanan manis, atau makanan yang mengandung gula juga sebaiknya dihindari, cukup makan (kenyang) 60-70% dari setiap porsi makanan dalam tiga kali makan sehari, kata dokter Kang menambahkan.

Dokter mengingatkan, bahwa istirahat tidak teratur, makan berlebihan, terlalu banyak konsumsi makanan beraroma tajam, atau menikmati makanan ringan, camilan, makanan manis dan minuman kopi yang berlebihan, semua ini dapat memicu terjadinya GERD-gastroesophageal reflux.

Tekanan yang dialami masyarakat sekarang, dan perubahan kebiasaan makan ditambah lagi dengan istirahat yang tidak normal, mudah menyebabkan kelonggaran pada sphincter (katup otot yang akan terbuka saat makanan akan memasuki lambung, kemudian menutup untuk mencegah makanan naik lagi ke kerongkongan ), bila katup ini tidak tertutup rapat, maka asam lambung atau gas dalam lambung akan menuju ke kerongkongan, sehingga terjadi gastroesophageal reflux (asam lambung dan isi lambung lainnya berbalik ke esofagus (saluran kerongkongan).

Dokter Kang menyarankan sebaiknya makan makanan secukupnya, istirahat teratur, kurangi makanan berminyak dan makanan beraroma tajam.

Sementara itu, direktur di Rumah Sakit Pusat National Taiwan University, dokter Wu Ming-xian mengatakan, bahwa acid reflux bisa diobati dan disembuhkan jika pasien tetap menjaga kebiasaan sehat sehari-hari, misalnya makan dalam porsi yang pas, istirahat secara teratur, kebiasaan makan sehat berimbang, namun, sebaliknya jika makan tidak terkontrol, sering begadang, obesitas, merokok, menenggak minuman keras, maka dipastikan gangguan asam lambung itu akan kambuh secara terus menerus.

Ia menyarankan, meskipun ada jamuan makan juga sebaiknya perhatikan porsi makanan, sebaiknya cukup makan (kenyang) 60-70% dari setiap porsi makanan, dan kunyah perlahan-lahan, hindari makanan yang dapat merangsang asam lambung, seperti kopi, makanan manis dan sejenisnya, selain itu juga sebaiknya jangan lagi makan sesuatu tiga jam menjelang tidur. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular