Cianjur- Setelah sempat  diwarnai insiden kerusakan Bunga Bangkai yang baru mekar di Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BKT Kebun Raya Cibodas LIPI), Cianjur, Jawa Barat belum lama ini, masyarakat tidak perlu menunggu terlalu lama untuk melihat kembali bunga berukuran raksasa itu mekar.

Bunga yang bernama latin Amorphophallus Titanum  Becc. tersebut telah mekar sempurna pada Senin (7/3/ 2016) dengan tinggi mencapai 3,725 meter. Dan, bunga tersebut  ditenggarai sebagai bunga tertinggi dari spesimen koleksi Bunga Bangkai yang sama dan pernah mekar di Kebun Raya Cibodas LIPI. Kebun Raya Cibodas  terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.

Bunga Bangkai yang mekar di Kebun Raya Cibodas LIPI tersebut merupakan tanaman induk dari hasil  kegiatan eksplorasi flora di Bukit Sungai Talang, Dusun Sungai Manau, Desa Sungai Kalu Dua, Kecamatan Koto Parik Gadang, Resort Batang Suliti, TNKS, Kabupaten Solok Sumatera Barat, di ketinggian 840 meter di atas permukaan laut pada 2000.

Menurut Agus Suhatman, Kepala UPT BKT Kebun Raya Cibodas LIPI, Bunga Bangkai jenis ini telah berbunga untuk yang ke empat kalinya. “Namun yang mekar saat ini merupakan bunga tertinggi dari spesimen koleksi bunga bangkai yang sama, bahkan paling tinggi di antara bunga yang pernah mekar di Kebun Raya Cibodas,” tuturnya.

Berdasarkan data perbungaan,  Bunga Bangkai tersebut mekar untuk pertama kali pada tahun 2003 dengan tinggi perbungaan mencapai 2,7 meter; tahun 2007 mencapai tinggi 3,17 meter; tahun 2011 tinggi perbungaan 3,2 meter; dan tahun 2016 mencapai tinggi 3,735 meter.

Sebagai informasi, Amorphophallus titanum ditemukan pertama kali oleh Odoardo Beccari seorang ahli botani Italia pada tahun 1878, di Lembah Anai, Sumatera Barat (Poerba & Yuzammi. 2008).

Jenis ini hanya tumbuh endemik di hutan hujan tropik Sumatera, Indonesia. Tumbuhan ini umumnya hidup di hutan sekunder dimana keadaan tumbuhan dan sekitarnya tidak terlalu rapat dan gelap. Pada hutan-hutan (virgin forest) yang pertumbuhan pohon-pohonnya tinggi sekali dan keadaan sekitarnya gelap, A. titanum tidak dapat tumbuh.

Agus menambahkan, tanah yang tepat untuk tumbuh kembang Bunga Bangkai adalah tanah yang mempunyai aerasi baik, gembur penuh humus atau pada tanah yang berkapur. Bunga itu tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 1.200 meter di atas permukaan laut (Poerba & Yuzammi. 2008). Siklus hidupnya A. titanum mengalami tiga fase, yaitu fase vegetatif (berdaun), fase generatif (berbunga) dan fase dorman (istirahat).

“Bunga bangkai membutuhkan waktu minimal 11 tahun untuk berbunga. Setelah itu, mengalami fase layu atau dorman dan empat tahun selanjutnya berbunga kembali,” ujar Agus.

Menurut Agus, meskipun letak geografis Kebun Raya Cibodas LIPI relatif lebih tinggi dibandingkan habitat alaminya, tumbuhan ini dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik. Hal itu dikarenakan bunga bangkai juga bisa hidup pada ketinggian di atas 1.000 meter dpl.

Dikatakannya, bunga bangkai tersebut hanya bisa dinikmati sempurna dalam waktu kurang dari satu minggu. Untuk keamanan, sampai saat ini sekeliling bunga telah dipagari tapi pengunjung masih bisa melihat dari jarak dekat. Ia tidak memungkiri bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk melihat bunga tersebut. “Kami sangat terbuka bagi masyarakat yang ingin tahu tentang bunga bangkai,” pungkasnya. (asr)

 

Share

Video Popular